Hubungan Jarak Jauh

hubungan-jarak-jauhSaya juga ingin berbagi kisah hidup saya melalui kolom ini. Walaupun mungkin kisah hidup saya tidak semenarik kisah-kisah pembaca SH yang sudah pernah dimuat sebelumnya. Karena saya merasa, hidup saya datar-datar saja. Tetapi akhir-akhir ini dorongan untuk segera mengakhiri kesendirian dalam hidup, membuat saya terkadang melakukan tindakan bodoh. Saya sendiri terkadang tidak yakin dengan diri saya. Apakah yang saya lakukan benar? Ataukah tindakan saya tindakan nekat didorong oleh rasa putus asa? Untunglah dalam setiap peristiwa, saya merasa Tuhan selalu melindungi dan menghindarkan saya dari kejadian yang lebih buruk.

Oh ya, nama saya Dina. Usia saya 28 tahun. Saya sudah bekerja dan sebenarnya sangat siap untuk menikah. Namun sampai saat ini tidak ada pria yang berusaha mendekati saya. Saya menyadari, mungkin mereka melihat fisik saya jauh dari menarik. Saya relatif pendek, 155 cm dan sedikit gemuk. Bobot saya berkisar 75 sampai 80 kilogram. Memang bukan bentuk tubuh yang ideal, namun Tuhan memberi saya wajah yang manis dan murah senyum.

Teman-teman pria di kantor tidak ada satu pun yang memberi saya perhatian khusus. Di komunitas gereja juga tidak ada pria yang tertarik pada saya. Apalagi di lingkungan tempat tinggal. Kebanyakan pria-pria itu hanya senyum-senyum menggoda, tetapi tidak ada yang berniat serius untuk menjadikan saya sebagai teman istimewanya. Sungguh, saya sangat merindukan pria yang bersedia menjadi suami saya. Saya ingin bertemu dengan pria yang mau menerima saya apa adanya. Tetapi semakin besar kerinduan itu, rasanya semakin kecil harapan saya untuk bertemu pria idaman.    Nah, dengan niat mencari pasangan hidup, saya ikut menjadi member dating yang ada secara online. Saya juga membuat akun di facebook, dan memasang foto-foto saya yang paling menarik. Biasanya saya selfie, saya crop foto saya hanya di bagian wajah, atau di bagian-bagian tubuh saya yang menarik perhatian pria. Saya tidak pernah memasang foto saya full body. Saya ingin memberi kesan sebaik dan semenarik mungkin bagi siapa saja yang melihat foto yang saya upload itu.

Usaha saya itu bisa dikatakan berhasil. Saya mempunyai banyak teman korespondensi, para pria yang tinggal di luar negri. Saya berhubungan dengan mereka melalui email. Ada yang tinggal di Amerika, Belanda dan Jerman. Salah satu pria, asal Jerman, bahkan sudah mengutarakan niatnya untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan saya. Saya tentu saja merasa senang dan mulai menyikapinya dengan serius. Saya juga mengambil kursus bahasa Jerman, demi menyambut kedatangannya. Dia akan datang ke Indonesia. 

Singkat kata, dia benar-benar datang ke Indonesia. Pada bulan Desember tahun lalu. Saya jemput dia di Bandara, dan mengantarkannya menginap ke sebuah hotel. Namun itulah pertemuan yang merubah segalanya. Saya bisa melihat tatapannya kecewa. Dan saya pun tidak merasakan suatu komunikasi terjalin begitu dekat seperti dalam surat. Ketika kami dekat, justru seolah ada jarak yang begitu jauh memisahkan hati kami. Dan saat ini hubungan kami pun tidak berlanjut.    

Begitulah sekelumit kisah dalam kehidupan saya. Saya masih menunggu jodoh saya yang dari Tuhan — pasangan hidup yang baik yang bisa menerima saya apa adanya.  

Diceritakan kembali oleh : Sasongko Adiyono

Post a comment

*