Setelah Suami Tiada

Sudah hampir setahun lalu, suami saya meninggal karena kecelakaan motor. Suami sore itu hendak menjemput anak saya pulang dari tempat kerja. Tetapi kemalangan tidak dapat ditolak, kendaraan truk muatan pasir menyerempet motor yang dikendarainya. Ada saksi mata yang mengatakan, motor suami saya terpental. Dan suami saya jatuh terpapar aspal. Saya dihubungi polisi ketika suami sudah tergeletak di rumah sakit, tak bernyawa. Di kepalanya ada genangan darah dan jahitan. Kata dokter, suami saya tidak tertolong karena retakan di kepala.

Begitulah selintas peristiwa duka yang masih terkenang dalam ingatan saya. Sering saya terbangun tengah malam, dan seolah masih belum percaya, suami telah meninggalkan keluarga selamanya. Yang paling terpukul adalah anak perempuan saya yang biasa diantar jemput dari rumah ke tempat kerja, atau ke tempat kuliahnya. Dia memerlukan waktu lebih lama untuk bangkit dari kesedihannya.

Saya juga merasa sangat kehilangan dan jatuh terpuruk tanpa kehadiran suami. Tetapi menyadari tanggungjawab saya sekarang lebih besar, dan semuanya terbeban di pundak saya, maka saya kesampingkan perasaan mengasihani diri. Saya harus kuat. Saya harus bangkit. Bagaimana bisa mengurus anak bila saya sendiri dalam keadaan tak terurus dan terus berkubang dalam kesedihan?

Saya dan anak-anak bisa bertahan hidup dari tabungan dan deposito yang ditinggalkan. Tetapi saya harus cepat-cepat punya usaha untuk bertahan hidup. Kalau tidak, tabungan dan deposito pun akan habis tak bersisa, dan tak ada lagi modal uang untuk usaha. 

Saat ini saya membuka jasa catering dan produksi kue-kue basah. Saya memilih usaha ini karena saya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya bisa memasak. Namun saya merasakan usaha saya ini begitu diberkati Tuhan. Karena dalam waktu yang relatif singkat, roda ekonomi keluarga berputar kembali. Anak perempuan saya sedikit demi sedikit menemukan kembali semangat hidupnya. 

Terimakasih Tuhan Yesus, Engkau tidak membiarkan keluarga kami terus jatuh tergeletak, tetapi terus membimbing dan mengangkat kami. 

Apapun yang terjadi, di dalam hidupku, kuselalu berkata, Tuhan Yesus baik…! 

 

Diceritakan kembali oleh : 
Sasongko Adiyono

Comments are closed.