Tuhan Pimpin Jalanku

Tuhan-pimpin-jalankuSaya sebenarnya sangat malu untuk menceritakan keadaan saya. Tetapi terdorong untuk mendapatkan bantuan, demi kehidupan anak saya, maka saya rela melakukan hal ini. Saya menjadi korban relokasi. Rumah saya yang berdiri di bantaran kali, terpaksa kena gusur karena penghijauan wilayah. Juga karena wilayah tempat tinggal saya terkenal sebagai tempat prostitusi.

Saya sebenarnya hanya ibu rumah tangga biasa yang bertahan hidup dari kerasnya kehidupan. Dari mengais sampah, menjual plastik dan besi bekas, saya bisa membangun gubuk. Ada seorang pria yang membantu saya, membangun gubuk itu menjadi suatu rumah yang cukup nyaman ditinggali. Dia bukan suami saya, tetapi menjadi teman sekaligus pelindung saya. Maklumlah di daerah tempat tinggal saya ini, jalan kekerasan menjadi andalan. Hukum rimba yang berlaku, siapa yang kuat dan kejam, dia yang menang.
 
Dari pria itu juga saya dikenalkan dengan cara mencari uang yang lebih gampang. Saudara tahulah apa maksud saya. Ya dia menjual saya, setelah ditakut-takuti dan diancam. Pengalaman pertama itu menyakitkan, menggoreskan luka di hati. Namun seiring perjalanan waktu, saya semakin dalam jatuh dalam gelimang dosa.

Saya termasuk perempuan beruntung, karena masih ada yang mau menikahi saya, perempuan yang sudah rusak ini. Salah satu tamu yang rutin berkunjung ke tempat saya, menyadarkan saya dan mengenalkan saya pada Tuhan Yesus. Dia tidak seperti tamu yang lain. Saya hanya menjadi teman bicara dan saya diperlakukan seperti wanita terhormat.    

Kami menikah, punya anak, tetapi setahun kemudian suami saya meninggal. Kebahagiaan yang sangat singkat. Rupanya dia menikahi saya sudah menyimpan penyakit. Tentu saya sangat kehilangan. Saya bingung dan sedih. Pesannya sebelum meninggal, agar saya selalu bersandar pada Tuhan. Jangan kembali kepada dunia hitam.    

Kini saya membesarkan anak sendiri. Rumah akan direlokasi. Saya terus berdoa dan berusaha, bagaimana saya bisa menyambung hidup tanpa menjual diri… Saya ingin meniti hidup dengan lebih baik, seperti teladan yang diberikan suami.

Diceritakan kembali oleh : 
Sasongko Adiyono
 

Comments are closed.