Tuhan Sahabat Setia

tuhan-sahabat-setiaAkhir-akhir ini saya sering terbangun tengah malam. Kadang beberapa menit tertegun di atas tempat tidur, seperti orang lupa, tidak mampu mengingat apa-apa. Aku di mana? Kenapa aku ada di sini? Siapa yang tidur di sampingku? Apa yang telah kulakukan sehingga aku sampai di sini?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang biasanya muncul di kepala. Lalu beberapa saat kemudian, kenangan-kenangan lama mulai bersliweran. Dan saya bisa mencucurkan air mata tanpa sebab. Menangis tanpa suara. Perlu beberapa menit, untuk saya kemudian sedikit demi sedikit mulai menyadari, siapa sosok-sosok yang tidur bersebelahan saya di tempat tidur. Ternyata ada suami, dan 2 anak laki-laki saya sendiri. Saya tinggal di kamar utama, di satu rumah yang kadang masih terasa asing bagi saya. 

Oiya, nama saya Maria. Saya tinggal di Taiwan, walaupun saya warga negara Indonesia. Kenapa saya bisa tinggal di negara ini, dan menikah dengan orang Taiwan, sungguh hal itu juga merupakan perjalanan hidup yang penuh misteri. Mulanya saya tinggal di Jakarta, bersama kedua orangtua saya dan tiga adik saya. Saya anak tertua dari 4 bersaudara. Dan saya satu-satunya anak perempuan. Sebagai anak perempuan dan yang paling besar, tentulah harapan orangtua juga tertumpuk pada saya, anak sulungnya.

Saya meninggalkan Jakarta, tepat beberapa hari sebelum terjadi kerusuhan besar-besaran di kota ini. Saya tinggalkan kota ini dalam status sudah menikah dengan seorang pria dari Taiwan. Kami bertemu di tempat kerja. Dia atasan saya, dan saya asisten pribadinya. Mulanya hubungan kami sebatas hubungan kerja, tetapi lama-lama berubah menjadi sebuah hubungan yang tidak biasa.

Sesungguhnya pada saat itu saya sedang menjalin hubungan istimewa dengan seorang pria Jawa. Saya mencintainya. Dan saya sudah dikenalkan pada keluarga besarnya. Tetapi hubungan saya dengan pria Jawa ini tidak disetujui mama saya. Banyak sekali alasan yang dikemukakan mama supaya saya tidak meneruskan hubungan saya itu. Beliau lebih condong agar saya memilih pria Taiwan, bos saya itu, demi masa depan. Dari permintaan biasa, akhirnya berubah menjadi desakan. Dari desakan akhirnya berubah jadi paksaan. Saya harus menikahi dia, bukan dengan pilihan saya sendiri.

Demi kebahagiaan mama, saya menuruti kata-katanya. Saya menerima ajakan menikah pria dari Taiwan, bos saya itu. Tetapi saya juga merasa bersalah, saya merasa tidak bisa setia. Tetapi saya tidak dibiarkan-Nya bingung terlalu lama. Singkat cerita, saya diboyong ke negaranya. Sehingga saya terhindar dari kejaran, terhindar dari telepon mantan pacar saya yang mengganggu. Saya juga terhindar dari kerusuhan di Jakarta.              

Begitulah cerita singkat kehidupan saya, bagaimana saya bisa terdampar di negri asing ini. Saya masih terus bertanya kepada-Nya, apa maksud Tuhan membawa saya jauh ke negri orang, jauh dari orang-orang yang saya cintai. Walau saya sudah mendapatkan 2 anak dari suami saya, namun kebahagiaan saya terasa kurang sempurna karena tinggal jauh dari orangtua. Kadang saya merasa sendiri dan kesepian. Kadang saya ingin pulang, kembali ke Indonesia. Tetapi juga ada perasaan takut kalau bertemu dengan eks pacar yang pernah saya kecewakan.      

Hanya Tuhan yang tetap setia menjadi sahabat saya, melindungi saya di manapun saya berada. Saya hanya berserah kepada-Nya. 

 

Diceritakan kembali oleh : Sasongko Adiyono

Post a comment

*