Siapa Aku Ini Sangat Dikasihi

(Fil Anderson)

Kita bisa menghabiskan hidup kita untuk berusaha mencari tahu siapa kita – atau kita bisa memercayai Dia yang menciptakan kita sejak awal.

Anda mungkin pernah melihat stiker bemper mobil yang menampilkan wajah sangat sedih disertai tulisan, “Hidupku sebelum mengenal Yesus,” dan kemudian di sampingnya ada gambar wajah yang sangat bahagia dengan tulisan: “Hidupku setelah mengenal Yesus!” Sebuah pemikiran yang bagus, tetapi tidak sepenuhnya benar. Iman kepada Yesus Kristus tidak serta-merta mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan. Dan mengatakan yang sebaliknya juga akan memperparah penderitaan yang sudah menyakitkan dari banyak orang yang dirundung rasa malu dan kesedihan.

Itu sebabnya selama lebih dari 20 tahun, saya mengawali hampir setiap Jumat pagi bersama dua sahabat saya, Rod dan Mike. Saya percaya kedua orang ini melebihi orang-orang lainnya yang saya kenal. Kesempatan untuk bersikap dan berkata jujur memberi saya kelegaan luar biasa, dan juga kegembiraan. Mereka membuat saya menyadari bahwa hidup oleh kasih karunia berarti mengakui seluruh cerita hidup saya— baik sisi terang maupun sisi gelap. Mengakui bahwa saya memiliki sisi gelap membuat saya menemukan siapa diri saya yang sebenarnya dan apa artinya kasih karunia Tuhan.

Hah, dari mana kita mendapat gagasan bahwa kita akan bisa menjadi orang yang seperti kita inginkan? Halaman-halaman Alkitab penuh dengan kisah-kisah kehancuran. Semua tokoh Alkitab yang kita kasihi dan kagumi adalah perpaduan rumit dari kekuatan dan kelemahan. Daud, Abraham, Lot, Saul, Salomo, Rahab, dan Sara adalah nama-nama orang kudus yang setia, berani namun juga kadang sangat jauh dari harapan. Mereka adalah orang-orang yang bisa menunjukkan iman pada suatu ketika, namun menjadi orang yang tidak teguh dan kurang percaya pada waktu yang lain.

Kita mungkin berharap tokoh-tokoh Perjanjian Baru bisa lebih baik, tetapi ternyata tidak juga. Hal ini terutama tampak pada orang-orang yang disebut Yesus dengan penuh kasih sebagai sahabat-Nya. Pelacur, orang-orang berkekurangan, orang-orang bermasalah, pemungut cukai, pezinah, dan berbagai macam orang gagal—murid-murid-Nya jelas bukan orang-orang yang tanpa cela. Mereka impulsif, malas, tidak jujur, dan egois. Tokoh-tokoh Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah orang-orang yang sangat kacau-berantakan. Saya percaya sudah saatnya kita mengakui bahwa Alkitab mematahkan ilusi tentang kehidupan yang sempurna tak bercela, dan memanggil para pengikut Yesus untuk keluar dari persembunyian. Kitab Suci menyingkapkan fakta bahwa setiap kita adalah kumpulan paradoks, gabungan dari hal-hal yang bertentangan dan memastikan tidak ada dari kita yang terkecuali.

Ajaran-ajaran Yesus menunjukkan bahwa kehidupan yang kita dambakan seringkali tersembunyi di balik kehancuran—kehidupan sederhana yang Dia tawarkan seringkali justru dimulai dengan kerumitan. “Tuhan memberkati orang yang miskin, yang menyadari kebutuhannya akan Dia,” kata Yesus (Matius 5:3, terjemahan Alkitab versi NLT). Persahabatan paling otentik dengan Tuhan justru lahir dari pengalaman-pengalaman hidup yang paling menghancurkan. Jika buah anggur dan bulir gandum tidak diremukkan, tidak akan ada air anggur dan roti. Jika benih tidak jatuh ke tanah dan mati, tidak akan ada tuaian yang dihasilkan.

Cerita Markus tentang perjumpaan Yesus dengan orang kerasukan setan yang melukai dirinya sendiri menunjukkan kebenaran ini. Setelah orang malang itu memohon, dengan sikap yang kurang ramah, agar ia dibiarkan sendirian, Yesus bertanya, “Siapa namamu?” (Markus 5:9). Kepedulian Yesus terhadap orang yang sudah dianggap tak punya harapan oleh semua orang itu menyampaikan pesan: Siapa dirimu yang sebenarnya sangatlah berarti bagi-Ku.

Saya benar-benar bisa memahami perasaan itu. Selama bertahun-tahun, saya ingin sekali mengetahui siapa saya yang sebenarnya. Namun, karena berpaling dari Sang Pencipta, saya malah “dirasuk” oleh ciptaan-ciptaan yang lain. Dari mereka saya belajar mengaitkan identitas saya dengan apa yang saya lakukan daripada siapa diri saya. Hal ini membuat saya tak putus-putusnya berjuang untuk menjadi lebih mampu, lebih unggul, lebih berbakat, dan lebih terampil. Kebutuhan saya untuk menjadi segala-galanya bagi semua orang sangatlah besar dan membuat kewalahan.

Padahal yang namanya identitas itu hanya Tuhan yang dapat memberikannya pada kita. Karena Tuhan yang menciptakan orang kerasukan setan itu, hanya Yesus yang dapat mengetahui dengan pasti bagaimana caranya mengatasi misteri kehancurannya. Dan Yesus menangani tragedi yang menimpa kehidupan orang itu dengan cara yang luar biasa. Solusi mengusir roh-roh jahat ke dalam kawanan babi adalah hal yang tidak lazim dan di luar ekspektasi (Markus 5:10-13). Kemudian, ketika Yesus hendak pergi, orang yang tadinya minta dibiarkan sendirian itu sekarang malah minta diperbolehkan ikut menyertai-Nya (Markus 5:18). Betapa radikalnya perubahan itu! Dengan menemukan Yesus, orang yang dulunya gila itu menemukan identitasnya yang sejati, dan dengan menemukan identitasnya, ia menemukan Yesus. Setelah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya—anak yang dikasihi Tuhan dan sahabat Yesus—ia diperlengkapi untuk kembali ke masyarakat. Yesus menyuruhnya pulang ke rumahnya dan menjalani kehidupan yang telah dirancangkan Tuhan untuknya.

Saya telah merenungkan kisah ini bertahun-tahun, dan selalu masih saja ada hal-hal yang belum saya pahami. Tetapi satu hal yang jelas, Yesus mengasihi orang itu dengan cara yang tak pernah ia alami sebelumnya. Dan Yesus tidak mengasihinya karena alasan apa pun yang bisa kita duga-duga. Yesus mengasihinya bukan karena kemampuan, keunggulan, bakat, atau keterampilannya. Dalam keadaannya yang dahulu, orang itu tidak memiliki satu pun dari semua itu. Kasih Kristus hanya bergantung pada satu hal: siapa Yesus. Semuanya sama sekali bukan tentang orang itu, melainkan tentang karakter dan sifat Juru Selamat yang tiada taranya.

Beberapa tahun lalu, saya mendapat tugas menjadi pembicara selama sebulan di acara kemah rohani Kristen di New York. Istri dan anak-anak saya ikut bersama saya, tetapi kami tahu hari-hari saya akan sangat padat setibanya kami di sana. Karena itu, kami meluangkan waktu seminggu penuh sebelumnya untuk jalan-jalan dan menikmati waktu bersama keluarga yang berkualitas. Saya bersyukur kami melakukan hal itu, karena sesampainya di sana, saya langsung disibukkan dengan berbagai kegiatan.

Beberapa hari kemudian, saya sedang dalam acara rapat ketika sudut mata saya menangkap ada orang yang mondar-mandir di ujung lorong yang panjang. Awalnya saya tidak terlalu memedulikannya. Tetapi ketika orang itu terus saja berjalan mondar-mandir, saya menoleh dan menyadari bahwa itu adalah Will, putra kami yang berusia 3 tahun. Setiap kali ia melintas di tempat yang terlihat jelas, ia melambatkan langkahnya dan menoleh ke arah saya. Karena merasa terganggu dan sekaligus penasaran dengan apa yang dipikirkannya, saya menunggu sampai ia lewat lagi, lalu memberi isyarat agar ia datang mendekat. Saya tidak akan pernah lupa pada ekspresi wajahnya yang memancarkan sukacita, kelegaan, dan kegembiraan luar biasa. Dari yang awalnya berjalan, ia kemudian berlari cepat ke tempat saya duduk sambil berseru, “Dia menginginkan aku. Ya, dia menginginkan aku!”

Bagaimana dengan Anda? Apakah hari-hari Anda dihabiskan dengan mondar-mandir dalam kegelisahan—bertanya-tanya, takut, dan cemas tentang bagaimana perasaan Tuhan terhadap Anda? Jika ya, saya punya kabar yang sangat baik. Yesus ingin menggenggam tangan Anda dan membawa Anda kepada diri Anda yang sebenarnya, pribadi yang benar-benar diri Anda, pribadi yang Dia ciptakan untuk menjadi Anda. Pandangan Anda tentang diri sendiri akan berubah jika Anda melihat diri Anda sebagaimana Yesus melihat Anda: sebagai orang yang sangat dikasihi, diampuni sepenuhnya, dan  dimerdekakan selamanya.