Terkendali

(Matthew Hosier)

Memberantas berhala ketakutan 

Bayangkan sebuah rumah yang dipenuhi anak-anak yang menghabiskan waktunya berjam-jam untuk membaca. Sebuah pemandangan yang menjadi impian kaum pustakawan dan membuat para orangtua bangga melihatnya. Tetapi buku komik? Anak-anak saya sendiri telah menghabiskan sebagian besar masa kecil mereka dengan menikmati petualangan Asterix The Gaul (Asterix orang Galia). Bagi yang belum tahu, kisah-kisah ini bertutur tentang sebuah desa bangsa Galia yang pantang menyerah dan terus bertahan menghadapi Kekaisaran Romawi berkat kekuatan luar biasa yang mereka peroleh dari ramuan ajaib. Setiap kisah memiliki klimaks yang dapat ditebak dan berakhir dengan para penduduk desa yang duduk mengelilingi api unggun sambil merayakan kemenangan mereka sekali lagi.

Asterix adalah sang pahlawan, tetapi pemimpin resmi desa itu adalah Kepala Suku Vitalstatistix yang selalu menyemangati orang-orangnya dengan seruan, “Satu-satunya hal yang harus kita takutkan adalah langit runtuh menimpa kepala kita besok—tetapi besok tak akan pernah datang!”

Meskipun terdengar menantang, ada lelucon yang terus muncul dalam cerita-cerita itu: bahwa sebenarnya Vitalstatistix sangat takut langit akan runtuh menimpanya. Ia bahkan sering salah menganggap berbagai fenomena sebagai pertanda akan terjadinya peristiwa itu. Dengan kata lain, langit yang runtuh adalah “allah”-nya—semacam berhala yang memperbudaknya. Ia seorang pemberani yang dibelenggu oleh ketakutannya.

Meski kita mungkin menertawakan tokoh seperti itu, kenyataan yang menyedihkan adalah kita hidup di zaman banyak orang dikendalikan oleh ketakutan-ketakutan mereka. Namun, sebagai murid-murid Kristus, kita perlu meluangkan waktu untuk berada di hadirat-Nya, dan membangun keyakinan yang kokoh akan kedaulatan Tuhan agar kecemasan kita tidak menjadi berhala yang mengendalikan hidup kita.

Ketika keluarga saya masih lebih muda, saya pernah mengalami masa benar-benar ketakutan tentang seorang putri saya. Ada banyak hal yang menjadi kekhawatiran para orang tua: Kita meminta anak-anak berhati-hati saat berada di jalan, mengajar mereka untuk waspada terhadap orang asing, memperingatkan tentang bahaya narkoba, dan lain sebagainya. Tetapi kepedulian orangtua yang wajar ini bisa dengan mudah berubah menjadi kecemasan yang mengendalikan—yang tidak lebih masuk akal daripada mengkhawatirkan langit akan runtuh menimpa kepala kita.

Dengan anak saya yang satu ini, saya sering mengalami saat-saat panik yang mencekam. Saya cemas memikirkan di mana ia berada dan apa yang bisa terjadi padanya. Sangat mudah untuk saya menyerah dan membiarkan kecemasan itu menjadi kekuatan yang mengendalikan dalam keluarga kami. Saya bisa memilih untuk selalu membuat putri kecil saya berada dalam pengawasan saya dan mengendalikan setiap gerak-geriknya. Hal itu mungkin terlihat sebagai buah kasih, tetapi sebenarnya itu adalah respons terhadap berhala ketakutan. Yang harus saya lakukan sebenarnya adalah menebang berhala itu dengan sengaja dan menolak membiarkannya menguasai hidup saya. Namun, dengan kekuatan dan kemauan saya sendiri, saya tidak mampu melakukannya. Saya perlu menyerahkan segala kebingungan saya kepada Tuhan yang benar dan mengizinkan Dia membawa saya kepada kemerdekaan dan damai sejahtera.

1 Yohanes 4:18 berkata, “Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” dan untuk memperoleh kekuatan yang merobohkan berhala, kita perlu memiliki sukacita dalam Tuhan. Inilah jenis kasih yang berarti kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada anugerah yang kita miliki dalam Kristus Yesus dan memilih menjadikan Dia sebagai pusat perasaan, pikiran, dan tindakan kita. Ketika kita melakukannya, tidak ada tempat lagi bagi allah lain dalam hidup kita. Dan meskipun ketakutan mungkin masih terasa nyata, ketakutan itu akan kehilangan kuasanya untuk mengendalikan kita, karena sukacita kita dalam Tuhan mendorong kita untuk melayani Dia daripada diperbudak kecemasan kita.

Sepuluh tahun setelah saya berani menghadapi berhala ketakutan yang tak masuk akal ini, putri kami bergumul dengan anoreksia. Sungguh pengalaman yang menakutkan bagi keluarga kami, dan kali ini kekhawatiran kami terasa sangat masuk akal, bahkan beralasan. Sekali lagi, kami harus membuat keputusan yang tegas bahwa Yesus tetap akan menjadi pusat hidup kami. Kami harus membuktikan bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara pengakuan menyembah yang hanya diucapkan di bibir dengan keyakinan yang kokoh akan kedaulatan Tuhan, yang menjadi kerangka seluruh kehidupan kami, bahkan di tengah badai yang paling dahsyat. Kadang tidak mudah untuk bersuka di dalam Tuhan— hari-hari tertentu kami begitu lelah sampai sulit merasakan apa pun—tetapi itu adalah keputusan bulat kami yang tetap.

Atas anugerah Tuhan, putri saya sekarang sudah pulih, mengasihi Yesus, dan menikmati hidup. Ketakutan telah kembali bersembunyi di balik bayang-bayang, tetapi saya tahu ia selalu akan mencari kesempatan untuk menyatakan dirinya lagi. Tak diragukan, ia akan kembali menyiksa saya lagi. Karena itu, saya harus terus mengembangkan sukacita di dalam Tuhan yang benar. Saya tidak boleh menjadi seperti Vitalstatistix, yang dikuasai hal-hal yang berada di luar kendali saya dan yang mungkin tak pernah akan terjadi. Saya tidak memerlukan ramuan ajaib, tetapi keyakinan yang teguh pada Tuhan dan persekutuan yang tinggal tetap di dalam-Nya, karena kasih-Nya cukup untuk menopang saya. Selamanya.