Apa Yang Diperlukan Untuk Bertumbuh Subur?

(Connie Armerding)

Diperlukan banyak “melepas” – dan Tuhan akan menolong kita.

Saya bertumbuh di sekitar ilusi kehidupan. Rumah masa kecil saya penuh dengan tanaman hias buatan yang tak membutuhkan perawatan atau komitmen. Tanaman imitasi itu memberikan keindahan statis, tanpa kekacauan dan kerumitan tanaman asli. Tetapi sebagai orang dewasa, saya mendambakan denyut kehidupan makhluk hidup serta janji pertumbuhan dan perubahan.

Beberapa tahun lalu, saya jatuh cinta pada pohon ara biola. Pohon itu saya bawa pulang dan tampak sempurna disinari cahaya matahari di sudut ruang tamu saya. Daun-daun hijaunya yang subur mengembang, membuktikan kondisi awalnya yang sehat. Untuk sementara, pohon itu bertumbuh subur. Tetapi kemudian, bintik-bintik cokelat mulai muncul, merusak kesempurnaan yang saya dambakan.

Lalu hal yang kontradiksi dimulai: Daun-daun baru muncul sementara bintik-bintik cokelat yang menyeramkan terus menyebar. Pertumbuhan maupun kemunduran membutuhkan sumber daya, tetapi hasilnya sangat berbeda. Merasa bingung dan ragu, saya tidak berbuat apa-apa. Saya sibuk mempertahankan kehidupan yang “sempurna”, berjibaku memenuhi tenggat waktu pekerjaan, kewajiban sosial dan keluarga, dan merasa tak punya waktu untuk memecahkan misteri yang berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan.

Bersyukur, seorang teman turun tangan. Ia seorang wanita dengan bakat berkebun yang luar biasa, dan punya solusi untuk masalah-masalah yang tak dapat ia tangani sendiri: seorang “ahli tanaman” yang bersedia dipanggil untuk memberi layanan di rumah. “Tentu saja, kamu punya ahli tanaman!” canda saya, dengan nada sedikit iri dalam suara saya. Saya bersusah payah menjaga satu tanaman tetap hidup, sementara ia punya tenaga ahli untuk merawat hutan di dalam rumahnya yang dipenuhi beraneka tanaman.

Ahli tanamannya mendiagnosis masalah itu sebagai “kurang dipangkas dan perawatan tidak seimbang.” Daun-daun baru menunjukkan kekuatan alami tanaman itu, tetapi daun-daun itu juga menyerap energi dari daun-daun lama, yang mengakibatkan munculnya bintik-bintik cokelat. Lalu bersama-sama, kami memulai misi pemangkasan. Daun-daun yang sakit disingkirkan, dan daun-daun yang sehat ditata ulang supaya mendapat cahaya sinar matahari yang lebih merata. Meskipun awalnya agak miring, pohon itu tumbuh lebih kuat, hijaunya yang cerah kembali segar.

Ternyata, saya juga perlu melakukan sedikit pemangkasan dalam hidup saya sendiri. Dan di sini pun, prosesnya tidak mudah. Dari luar, saya tampak tumbuh subur – jadwal sosial saya sangat padat, dan saya juga sedang memulai karier baru sebagai pelatih dan konsultan. Tetapi di rumah, segalanya terasa tegang. Energi dan fokus saya tercurah untuk mengembangkan bisnis, membangun jaringan, dan berhubungan dengan klien-klien saya—sementara keluarga ditinggalkan di rumah dan makan makanan dingin yang masih tersisa. Saya pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan kehilangan momen bersama anak-anak saya; saya kehilangan kesempatan untuk mendengar cerita-cerita tentang hari mereka dan apa yang mereka pelajari. Saya juga mengabaikan cara-cara halus suami saya yang mengungkapkan kerinduannya untuk berhubungan, dan pilihan-pilihan kecil saya yang egois akhirnya membawa keretakan pada hubungan kami. Saya tidak memberikan yang terbaik kepada orang-orang yang paling berarti bagi saya dan sulit melihat ke luar diri saya sendiri. Saya terlalu memaksa diri, dan itu terlihat jelas.

Alkitab berkata bahwa Tuhan ingin menyatakan hal-hal yang perlu dibuang, di bagian-bagian yang kita perlu dipangkas dan dibentuk (Yohanes 15:2). Dia ingin menghidupkan keindahan dalam hidup kita, seperti “ahli tanaman” yang membantu saya merevitalisasi pohon ara biola saya yang pernah hampir mati. Melepaskan pola-pola yang sudah terbiasa—namun tidak sehat—bisa menakutkan, tetapi memercayai pimpinan Tuhan membuat kita membuka ruang bagi pertumbuhan sejati. Ini bisa berarti membuat batasan dengan teman atau kerabat yang menguras energi kita, membangun rutinitas yang memprioritaskan perawatan diri, atau bahkan mencari bantuan profesional untuk mengatasi masalah-masalah yang lebih mendalam.

Selama masa yang aneh itu, beberapa hal dalam hidup saya berguguran dengan sendirinya seperti daun-daun kering. Tetapi yang lain, seperti pola-pola dan relasi-relasi yang tidak sehat, tetap melekat kuat, dan membutuhkan usaha yang lebih sungguh untuk menyingkirkannya. Dan saya menyadari bahwa kedua cara melepaskan itu penting sekali jika saya benar-benar ingin merawat jiwa saya.

Jadi saya mulai memangkas—dan itu tidak mudah. ​​Ini meliputi mengakui kekurangan-kekurangan saya dan bertanggung jawab atas pengabaian yang telah membuat tegang hubungan saya dengan orang lain. Saya mulai berlatih berkata “tidak” pada ajakan makan malam bersama teman-teman wanita pada Kamis malam, dan berkata “ya” pada acara keluarga yang diisi dengan permainan bersama serta kue dan es krim buatan sendiri. Saya menyediakan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang menyegarkan jiwa saya: membaca di teras sambil menyeruput kopi hangat, menulis jurnal dan merenungkan Kitab Suci, atau menyusuri jalan setapak di lingkungan saya yang sepanjang tahun dipenuhi lumut dan pakis.

Saya memerhatikan hal-hal yang membuat saya merawat tubuh dan jiwa saya, memusatkan roh saya dan memenuhi saya dengan kedamaian. Saya bertekad memprioritaskan hal-hal semacam itu. Tentu saja ada juga kemunduran. Kebiasaan lama sulit hilang, dan “bintik-bintik cokelat” muncul lagi. Tetapi setiap kali hal itu terjadi, saya menyikapinya sebagai pengalaman belajar, sebagai kesempatan untuk memperbaiki teknik pemangkasan saya.

Seperti dikatakan pemazmur, pada “masa tua” pun kita masih bisa berbuah dan “tetap segar dan bugar” (Mazmur 92:13-15). Kita dapat, dan harus, merawat jiwa kita—kebun batin kita—agar kita dapat merawat orang lain seperti diri sendiri (Matius 22:39). Ini tidak harus dengan menjalani kehidupan yang “sempurna” seperti yang sering ditampakkan di media sosial. Ini adalah tentang tindakan-tindakan perawatan diri yang tenang dan disengaja yang menyehatkan jiwa kita dan memungkinkan kita hadir secara otentik di dunia.

Hidup saya masih jauh dari kata sempurna, tetapi kini sudah dipenuhi dengan relasi-relasi yang tulus dan perasaan utuh yang saya dambakan sejak lama. Perjalanan merawat jiwa adalah proses yang berlangsung terus-menerus, yang menggemakan hikmat Pengkotbah yang berkata “ada waktu untuk menanam dan ada waktu untuk mencabut yang ditanam” (Pengkotbah 3:2). Dan setiap kali saya memangkas, saya merasakan kebebasan, sebuah pengingat yang nyata bahwa melepaskan dapat menuntun kepada pembaruan. Ketika saya memangkas, Tuhan memberi saya kehidupan berbuah yang lebih bergairah, yang bertumbuh subur dari dalam ke luar.