Hidup Dalam Kasih

(Charles F. Stanley)

Keselamatan membebaskan kita untuk mengasihi orang lain dengan cara yang sama seperti Kristus mengasihi kita.

Melihat anak kecil meniru-niru ibu atau ayahnya sungguh menggelikan, tetapi hal itu juga menunjukkan dengan jelas peran penting yang diberikan Tuhan kepada orangtua. Meniru adalah proses untuk anak belajar dan bertumbuh menjadi orang dewasa, dan juga cara orang Kristen menjadi dewasa – dengan meniru Bapa surgawi. Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus, ia berulang kali berbicara tentang “kehidupan” orang percaya – sebagai caranya menjelaskan kebiasaan dan gaya hidup yang terus berlangsung. Setelah menyebutkan kebajikan-kebajikan orang Kristen seperti kerendahan hati, kelemahlembutan, toleransi dan kasih di pasal 4, Paulus menyimpulkannya dengan berkata, “Sebab itu, sebagai anak-anak yang terkasih, teladanilah Tuhan, dan hiduplah di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Tuhan” (Efesus 5:1-2).

Kasih Kristus kepada Kita

Salah satu cara terpenting dalam kita meniru Bapa surgawi adalah dengan hidup dalam kasih. Namun, karena konsep kasih kita sebagai manusia tidak sesuai dengan standar kasih Tuhan, kita harus berusaha memahami tentang kasih-Nya itu sebagaimana yang ditunjukkan oleh Anak-Nya.

  • Kasih Kristus tidak mementingkan diri sendiri. Dia “menyerahkan diri-Nya untuk kita” (Efesus 5:2). Ini diawali dengan inkarnasi-Nya ketika Dia meninggalkan kemuliaan surga dan mengambil rupa seorang manusia dan tinggai di bumi yang telah jatuh ini di antara manusia yang berdosa. Dan kasih-Nya yang tidak mementingkan diri sendiri ini membungkuk lebih rendah lagi ketika Dia merendahkan diri sampai mati di kayu salib (Filipi 2:6-8).
  • Kasih Juru Selamat memberi pengampunan. Yesus menyerahkan diri-Nya sebagai Kurban persembahan bagi dosa kita dengan mati sebagai ganti kita. Sekarang setiap orang yang percaya pada-Nya dan percaya pada kematian-Nya sebagai penebusan dosa menerima pengampunan penuh dan kedudukan sebagai orang benar di hadapan Tuhan.
  • Kasih Yesus penuh pengorbanan. Meskipun keselamatan diberikan pada kita secara cuma-cuma oleh anugerah Tuhan melalui iman, Juru Selamat harus sangat menderita melebihi yang dapat kita bayangkan. Di kayu salib, Dia menjadi Kurban persembahan bagi Tuhan dengan menanggung murka Bapa sampai segala dosa dihukum seluruhnya. Karena Yesus adalah Anak Domba Tuhan yang tak berdosa, keadilan ilahi dipuaskan sepenuhnya, dan kematian-Nya menjadi persembahan yang harum bagi Bapa, menandakan bahwa penebusan itu sudah lengkap dan pengampunan dosa sudah diselesaikan.

Pikiran kita tak dapat memahami kasih yang tak terhingga itu, namun kita diperintahkan untuk hidup dalam kasih seperti yang ditunjukkan Yesus. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kita hidup di dunia yang sudah jatuh, menghadapi banyak godaan dan bergumul dengan dosa. Dengan kemanusiaan dan usaha kita sendiri, kita tak akan mampu mengasihi seperti Kristus. Namun karena kita anak-anak Tuhan yang kekasih, kasih-Nya dapat terungkap melalui kita. Dia sudah memberi kita natur manusia baru, yang diciptakan serupa dengan Dia dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:24). Kita juga memiliki hidup Kristus yang mengalir melalui kita ketika kita tinggal di dalam Dia (Yohanes 15:5), dan Roh Kudus yang diam di dalam kita menghasilkan buah kasih di hati kita. Seluruh Pribadi Trinitas bekerja melimpahi kita dengan kasih karunia, yang membebaskan kita untuk hidup dalam kasih.

Kasih Kita kepada Orang Lain

Kasih seperti Kristus tidak dicapai dengan membangkitkan semangat membara pada seseorang. Kasih-Nya pada kita selalu termanifestasi dalam tindakan. Dia mengosongkan diri-Nya dari segala hak dan keistimewaan-Nya agar dapat memberi kita hal yang paling kita butuhkan namun tak pernah dapat dicapai dengan kekuatan kita sendiri: keselamatan. Tindakan tidak mementingkan diri sendiri, mengampuni dan rela berkorban ini juga harus menjadi nyata dalam hidup kita ketika kita hidup dalam kasih.

  • Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Berpusat pada diri sendiri adalah bagian dari sifat daging yang melekat pada kita, dan pergumulan mengatasi pola-pola dosa masih terus berlanjut setelah kita diselamatkan. Budaya kita benar-benar tidak membawa kebaikan bagi kita karena mendorong kita untuk mengutamakan diri sendiri dan menuntut hak-hak kita. Tetapi kasih seperti Kristus mendahulukan kepentingan dan kebutuhan orang lain dan bersedia melepaskan hak-hak kita. Itu sebabnya Roma 14:13-15 mengatakan jika kita membiarkan kemerdekaan kita melukai hati sesama orang percaya, kita tidak hidup menurut tuntutan kasih.
  • Kasih yang mengampuni. Ungkapan kasih ini mungkin yang paling sulit karena dalam pikiran kita, orang yang bersalah pada kita hanya pantas menerima keadilan dan pembalasan. Sebenarnya kita harus ingat bahwa kita juga tak pantas mendapat pengampunan Tuhan, tetapi Yesus sudah mati untuk kita agar kita dapat diampuni. Setelah menerima kasih yang sedemikian besar, kita tak berhak menahan pengampunan kita untuk orang lain.
  • Kasih yang rela berkorban. Kadang menyampaikan kasih kepada orang lain perlu pengorbanan, apalagi jika orang itu tak mudah dikasihi atau kasar. Sesungguhnya inilah keadaan kita semua di hadapan Tuhan sebelum diselamatkan, tetapi Dia sudah mengasihi kita ketika kita masih dalam keadaan seperti itu. Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, bukankah kita juga seharusnya bersedia mengorbankan hal-hal yang kurang dari itu seperti kenyamanan, waktu atau kesenangan pribadi karena kasih kita kepada orang lain?

Kasih seperti Kristus dimulai dari pikiran ketika kita mulai mengenal dan memercayai kasih yang Tuhan berikan untuk kita (1 Yohanes 4:16). Jika Dia tidak terlebih dulu mengasihi kita, kita tidak akan pernah dapat mengasihi orang lain (1 Yohanes 4:19). Tetapi kasih-Nya sekarang tinggal di dalam kita dan, karena kita bersandar pada-Nya, kasih itu mengalir melalui hidup kita untuk menyentuh orang-orang di sekitar kita. Sementara Tuhan sendiri yang mengajar kita untuk mengasihi, kita harus menjadi peniru Dia dan menerapkan cara-cara mengasihi setiap hari sampai hal itu menjadi kebiasaan – atau cara hidup kita.

Refleksi

Apakah mengasihi orang lain seperti Yesus tampaknya merupakan standar yang terlalu tinggi untuk dicapai? Meskipun Anda tak pernah dapat melakukannya dengan sempurna, Anda tidak boleh berhenti berusaha untuk hidup dalam kasih. Apakah Anda berhenti berdoa karena Anda tak dapat berdoa dengan sempurna? Jika Anda berbohong, apakah Anda lalu meninggalkan kejujuran dan menyerahkan diri kepada tipu daya? Tentu saja tidak. Hidup dalam kasih seperti Kristus dipelajari melalui praktik dan bersandar pada Tuhan. Setiap kali Anda bertindak demi kepentingan terbaik orang lain dan bukan menyerah pada pementingan diri sendiri, kemudahan atau kenyamanan, Anda sedang meniru Tuhan dan bertumbuh dalam kasih.

Doakan

Bapa surgawi, terima kasih atas kasih-Mu yang mengherankan dengan mengutus Anak-Mu sebagai Juru Selamat saya. Karena kasih-Mu sudah dicurahkan di hati saya melalui Roh Kudus (Roma 5:5), tolonglah saya agar dapat semakin bertumbuh dan melimpah dalam kasih kepada orang lain sesuai kehendak-Mu (1 Tesalonika 3:12). Dalam nama Yesus. Amin.

Renungkan

Lakukan

Paulus menjelaskan kepada jemaat Tesalonika bahwa mereka diajar oleh Tuhan sendiri untuk saling mengasihi; dan kemudian, setelah memuji mereka karena menunjukkan kasih kepada sesama orang percaya, ia mendorong mereka “supaya lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya” (1 Tesalonika 4:9-10). Ini seharusnya menjadi kerinduan kita juga. Langkah pertama adalah mengakui ketika kita tergoda untuk merespons secara egois, menyimpan dendam, atau menuntut hak, kenyamanan dan hak istimewa kita. Setelah menyadari kelemahan kita, kita harus minta Tuhan memampukan kita untuk meninggalkan kecenderungan-kecenderungan egois itu agar kasih-Nya leluasa mengalir melalui kita kepada orang lain.