Kerinduan Manusia Akan Tuhan
Tuhan (Pendalaman Alkitab Staf In Touch Ministries)
Yesus menyebut orang percaya “terang dunia” dan meminta kita memancarkan terang agar orang lain dapat melihatnya (Matius 5:14-16). Ini kadang berarti menyaksikan tentang Juru Selamat, terutama kepada orang-orang yang belum mengenal Dia. Tak ada yang tahu apa yang bisa terjadi pada saat-saat seperti itu, tetapi seperti yang ditunjukkan rasul Paulus di Areopagus, jika kita bersandar pada Roh Kudus dan bersedia menjadi saksi-Nya, kita bisa terkejut dengan hasil yang menjangkau jauh.
LATAR BELAKANG
Dalam perjalanan pekabaran Injilnya yang kedua, Paulus menanam gereja-gereja di sejumlah kota. Beberapa orang Yahudi dari Tesalonika, yang merasa yakin rasul itu akan menjadi ancaman, membentuk gerombolan untuk mencelakai Paulus. Jadi Paulus diminta pergi ke Atena untuk menjaga keselamatannya.
BACA
RENUNGKAN
Manusia memiliki kehausan bawaan akan Tuhan. Hanya Yesus yang dapat memuaskannya, meskipun banyak orang berusaha dengan sia-sia untuk memuaskannya dengan hal lain.
- Kota Atena “penuh dengan patung-patung berhala” (ayat 16). Kata Yunani kateidólos berasal dari kata yang berarti “secara mendalam” dan eidolon yang berarti “sepenuhnya menyembah berhala.” Konkordansi Strong mengartikannya sebagai “sepenuhnya dikuasai penyembahan berhala.” Selain dipenuhi patung-patung secara fisik, Atena juga merupakan kota yang penduduknya sudah memilih untuk menyembah berbagai macam ilah, termasuk Allah yang benar yang tidak mereka kenal. Bagaimana hal ini membuat Anda melihat bahwa ayat-ayat itu bukan sekadar kisah sejarah tetapi juga relevan dengan hidup Anda? Hal-hal apa saja yang dipilih orang untuk disembah sebagai berhala sekarang ini?
- “Hati Paulus sangat sedih” (ayat 16). Bagaimana ungkapan ini berbeda dari perkataan, misalnya, “Paulus menjadi marah”? Saat Anda menjawab, pikirkanlah perkataan Tuhan: “Aku akan memberikan … roh yang baru dalam batinmu” (Yehezkiel 36:26).
- Kita sering berdoa meminta kesempatan untuk bersaksi kepada orang tertentu, tetapi Paulus punya strategi lain. Di Atena, ia mengabarkan Injil secara terbuka kepada “orang-orang yang kebetulan berada di tempat itu” (Kisah Para Rasul 17:17). Anda mungkin tidak dipanggil untuk “berkotbah di tempat umum,” tetapi tindakan Paulus merupakan hal yang menguatkan tentang peran Roh Kudus. Bagaimana Dia bisa menyiapkan Anda untuk berbicara tentang Yesus di manapun Anda berada?
MELANJUTKAN CERITA
Orang-orang Atena menunjukkan kesediaan untuk mendengar dan membawa Paulus ke Areopagus, tempat orang-orang lain juga bisa mendengar.
- Paulus berkata bahwa orang-orang Atena itu “sangat beribadah dalam segala hal” (ayat 22). Konkordansi Strong menyatakan bahwa “sangat beribadah” yang dimaksud Paulus adalah bersikap tenggang rasa, menunjukkan rasa hormat terhadap hal-hal ilahi. Bagaimana sikap hormat dan murah hati ini memengaruhi pembicaraan itu? Dapatkah Anda mengingat suatu situasi ketika pendekatan yang sama membuat Anda mendapat kepercayaan pendengar?
- Orang-orang Atena bahkan memiliki mezbah yang dipersembahkan kepada “Allah yang tidak dikenal” (ayat 23). Pikirkan bagaimana ini menunjukkan kerinduan bawaan semua manusia untuk menemukan Tuhan, namun juga kesulitan mereka untuk menemukannya. Pikirkan tentang orang-orang di sekitar Anda. Dapatkah Anda sekarang mengerti bahwa kehausan mereka akan hal-hal seperti uang, keindahan dan kesenangan sebenarnya merupakan kehausan akan Tuhan yang salah tempat? Untuk menyampaikan kebenaran Tuhan dengan cara yang melayani orang-orang yang membutuhkan Yesus, kita harus bersandar pada Roh Kudus – hanya Dia yang dapat melihat dan mengerti hati orang lain. Tetapi kasih, empati, kesabaran dan bahkan pemikiran kreatif juga selalu penting. Bagaimana Paulus menunjukkan ciri-ciri ini di Atena?
REFLEKSI
Kotbah Paulus merupakan contoh yang patut ditiru tentang bersaksi secara efektif kepada budaya yang membutuhkan Tuhan.
- Mengatasi gejolak kerinduan bisa membuat frustrasi, tetapi Roh Kudus akan menunjukkan belas kasih kepada Anda. Kiranya perkataan Paulus, bahwa “Dia tidak jauh dari kita masing-masing” (ayat 27)—menjadi kekuatan untuk kita memancarkan terang Kristus dan menolong orang lain menemukan kebenaran-Nya.
