Lepas Dari Jerat
(Matt Woodley)
Kita sering berbicara tentang terikat secara rohani, tetapi dalam hal dosa, yang kita perlukan adalah terlepas dari ikatan.
Pernahkah Anda bergulat dengan tuna seberat 230 pon? Saya menghadapinya setiap hari, dan saya yakin Anda juga. Izinkan saya menjelaskannya. Pada tanggal 19 Juli 2013, Anthony Wichman, seorang nelayan berusia 54 tahun dari Kauai, Hawai, menangkap ikan tuna Ahi seberat 230 pon, menariknya ke perahu, dan menancapkan kail pada bola matanya. Hewan buas yang mengamuk itu terjun ke air sekali lagi, menyebabkan tali pancing melilit di kaki Wichman, menjungkalkan perahu, dan menariknya ke Samudra Pasifik. Entah bagaimana Wichman berhasil menggunakan ponsel tahan airnya untuk meminta bantuan, dan Penjaga Pantai pun tiba dengan helikopter regu penyelamat. Setelah itu, pada hari itu, nelayan yang telah bebas dan bersyukur itu dilaporkan sedang memulihkan diri dari memar dan luka lecet akibat jeratan tali. Saya berasumsi ikan itu sudah diolah menjadi satu atau dua hidangan lezat.
Cara Terjerat
Kisah tentang nelayan yang terjerat tuna raksasa ini aneh. Tetapi dalam pikiran saya, kisah ini menggambarkan cara Alkitab menjelaskan dosa: Saya pikir saya ini tuan di perahu kecil saya, yang dengan gembira memancing ikan, ketika tiba-tiba … BAM … saya terjerat oleh sesuatu yang di luar kendali saya.
Sebagian orang bergumul dengan cara terjerat yang jelas, seperti kecanduan narkoba atau alkohol. Secara pribadi, saya terjerat oleh dosa-dosa yang lebih terhormat secara sosial, tetapi mematikan secara spiritual—kesombongan, hawa nafsu, amarah, keserakahan, ketidakpercayaan, atau merendahkan orang miskin, misalnya. Seseorang meremehkan atau mengabaikan saya, dan saya terjerat oleh rasa benci. Saya mendengar kabar buruk tentang finansial, dan saya terjerat oleh keserakahan dan keegoisan saat saya memeluk semakin erat sedikit harta saya. Sebagian orang tak dapat berpikir rasional tentang isu-isu politik atau spiritual seperti saya, dan itu membuat saya terjerat perasaan benar sendiri dan amarah. Penderitaan dan kesusahan menimpa hidup saya, dan ketidakpercayaan melilit jiwa saya, membuat iman saya terjungkal.
Tentu saja saya bukan sekadar korban dari skenario ini; saya memilih untuk terjerat. Dalam arti tertentu, saya ingin terjerat. Hal itu sedemikian sering terjadi sampai kadang saya bertanya-tanya: Apakah mungkin untuk hidup tanpa terjerat? Saya tak berharap tak ada godaan, tetapi apakah mungkin untuk menghadapi godaan besar dalam hidup dan makin lama makin menjadi manusia yang kurang “mudah terjerat”?
Menurut kabar baik dalam Yesus, jawabannya ya. Perjanjian Baru menyatakan bahwa bertumbuh makin serupa dengan Kristus secara bertahap akan membebaskan kita dari jerat kuasa dosa. Kabar baik ini begitu tertanam dalam pemahaman gereja mula-mula tentang mengikut Yesus sampai mereka mengadopsi kata khusus untuk itu, yaitu apatheia.
Kata ini kedengarannya seperti kata apatis, keadaan “saya tak peduli sama sekali,” tetapi yang dimaksud orang Kristen mula-mula dengan apatheia bukan itu. Istilah itu pada awalnya berasal dari sekelompok pemikir Yunani kuno non-Kristen yang disebut kaum Stoa. Orang-orang ini memiliki beberapa pemikiran yang bagus, seperti bahwa “hidup yang baik” harus mencakup mengatasi hawa nafsu tak terkendali seperti iri hati atau amarah dengan tetap tenang. Tataplah dengan tajam, dan latihlah diri Anda untuk tetap tenang, dingin, dan terkendali, menolak untuk membiarkan diri terjerat.
Rasul Paulus setidaknya pernah berhubungan langsung dengan para filsuf Stoa. (Lihat Kisah Para Rasul 17:18-32). Ia berbicara tentang kuasa Tuhan dengan kata-kata penyair Stoa Aratus, “Karena kita juga anak-anak-Nya,” meskipun Paulus sedang merujuk pada satu-satunya Tuhan yang benar dalam Alkitab, bukan paham panteistik Stoikisme.
Kemudian, beberapa pemimpin kunci Kristen pada dasarnya berkata, “Pekerjaan yang bagus, kaum Stoa, tetapi kami ingin mengambil versi apatheia Anda, menyaringnya melalui Alkitab, dan menawarkan versi kami sendiri.” Sebagai contoh, seorang pemimpin Kristen abad keempat yang bernama Evagrius berkata bahwa apatheia “menciptakan keadaan tenang yang mendalam berdasarkan ketaatan pada perintah-perintah Tuhan dan tindakan kebajikan.” Hal itu sejalan dengan ajaran rasul Paulus di Roma 6:12-14: “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya… Sebab dosa tidak berkuasa lagi atas kamu.” Menjadi orang Kristen berarti Tuhan telah melepaskan kita dari pola-pola dosa yang menjerat dan menjatuhkan kita.
Namun karena orang Kristen mula-mula itu mengenal Yesus, mereka menambahkan unsur penting pada apatheia, yaitu kasih. Tidak seperti orang Yunani rekan-rekan mereka, mereka tak henti-hentinya membicarakan apatheia dan kasih sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Apatheia bukan hanya kemampuan untuk melepaskan diri dari nafsu tak terkendali, tetapi undangan untuk mengikatkan diri pada Tuhan yang mengasihi kita. Paulus menjelaskan bahwa kehidupan Kristen bukan hanya tentang menjauhi dosa, tetapi juga kesatuan dengan Kristus, menjadi “mati terhadap dosa” dan “hidup bagi Tuhan dalam Kristus Yesus,” dan menjalani seluruh hidup “bukan di bawah hukum Taurat tetapi di bawah kasih karunia” (Roma 6:11,14).
Kembali kepada nelayan kita, begitu helikopter Penjaga Pantai tiba, ia bisa saja menepis tangan para penyelamatnya dan berkata, “Hei, jangan khawatir, regu penyelamat. Kelihatannya memang buruk, aku terjerat tali pancingku sendiri yang terkait pada ikan besar yang mengamuk dengan kail besar (milikku) yang menancap di bola matanya, tetapi jangan khawatir. Aku akan tetap tenang dan damai saat aku melepaskan diri, membereskan perahu, mendorongnya ke pantai, dan mengiris beberapa potong daging ikan tuna untuk makan malam. Sungguh, aku bisa mengatasinya.”
Tentu saja, bukan itu yang terjadi. Saya membayangkan Wichman akan dengan senang hati mengakui kebutuhannya untuk ditolong, menerima dengan gembira uluran tangan tim penyelamat yang memotong tali dan menariknya keluar dari lautan. Saya juga membayangkan bahwa pada saat penyelamatan itu, Wichman hanya merasakan sukacita, kelegaan, dan rasa syukur. Ia tidak terpancing oleh tuna—atau oleh kemarahan, keserakahan, keegoisan, atau hawa nafsu. Ia hanya memiliki satu pikiran: Terima kasih telah menyelamatkanku. Itulah apatheia Kristen.
Apatheia terjadi ketika kita begitu dikelilingi dan terbenam dalam belas kasih Kristus dan kebutuhan kita akan belas kasih-Nya sehingga dengan lembut ia membebaskan kita dari godaan dan menarik kita kepada Bapa. Inilah pekerjaan yang dimulai oleh kasih karunia Tuhan. Evagrius menegaskan bahwa kita “dibawa ke dalam apatheia oleh belas kasih Kristus.” Pada abad ketiga, Gregorius dari Nyssa berkata, “Kita dibawa kepada Tuhan oleh kerinduan, ditarik kepada-Nya seakan-akan oleh suatu tali.” Dengan kata lain, tak ada orang yang hidup tanpa tali ikatan. Jadi, pilihlah: Terjerat dalam dosa-dosa favorit Anda, atau mengizinkan Bapa dengan lembut menarik Anda kepada-Nya.
Kekuatan Paku
Bagi pengikut Kristus, apatheia mencakup proses seumur hidup untuk terlibat dalam disiplin rohani yang membantu kita terlepas dari kebiasaan-kebiasaan berdosa dan terikat pada Yesus. Seorang Kristen mula-mula, John Cassian, berkata bahwa proses ini seperti mencabut paku dengan paku. Cabutlah paku dosa yang buruk, bengkok, dan berkarat, lalu tancapkan paku kebajikan yang mengkilap, lurus, dan baru tepat di atasnya. Hadapilah kebiasaan berdosa secara langsung, terimalah kasih karunia dan pengampunan Kristus, dan kemudian singkirkanlah kebiasaan lama itu dengan menggantinya dengan cara baru Yesus, yang memberi kita hati yang baru dengan kebiasaan-kebiasaan yang baru dan kudus.
Pikirkan paku lama berkarat yang disebut keserakahan. Saya memiliki hubungan khusus dengan yang satu ini. Saya sangat hemat (ya, beberapa orang menyebut saya pelit), tetapi beginilah cara keserakahan itu menjerat saya: Saya sangat khawatir tentang uang. Alih-alih memercayai pemeliharaan Tuhan atas keuangan saya, saya terus-menerus membayangkan skenario terburuk yang bodoh bahwa saya benar-benar akan bangkrut. Jadi saya memegang erat-erat uang saya yang sedikit dan bergulat dengan kecemasan. Keserakahan ini membatasi kemampuan saya untuk menerima kasih Tuhan dan mencurahkan kasih kepada orang lain.
Para pemimpin Kristen mula-mula memiliki solusi sederhana untuk situasi ini: Belajarlah memberi. Ambillah paku kemurahan hati secara finansial dan tancapkanlah pada paku lama berkarat keserakahan itu sampai Anda mematahkan cengkeramannya di hati Anda. Maka Anda akan memperoleh buah apatheia—hati yang damai dan melekat pada Kristus yang ditarik makin dekat kepada-Nya.
John Cassian, teolog abad keempat, memakai perkataan dari Ucapan Bahagia untuk mendefinisikan apatheia—”Berbahagialah orang yang suci hatinya.” Perkataannya ini merujuk pada orang yang memiliki fokus hati tunggal/tak bercabang atau sederhana.
Atau cabutlah paku kemarahan yang sangat buruk, dosa yang disebut Evagrius sebagai “hawa nafsu yang paling ganas.” Di sepanjang kitab-kitab Injil, Yesus mengatakan hal-hal seperti “kasihilah musuhmu,” “ampunilah orang yang bersalah kepadamu,” dan “setiap orang yang marah kepada saudaranya akan mendapat hukuman.” Dengan kata lain, lepaskanlah amarah dan kepahitan Anda. Ambillah paku pengampunan yang polos dan lurus, lalu tancapkan pada paku kepahitan yang bengkok namun keras kepala itu. Kemudian lakukanlah lagi, dan lagi, dan lagi.
Itulah satu-satunya cara Yesus akhirnya membebaskan saya dari pergulatan panjang dengan kebencian setelah luka yang mendalam. Saya telah memukul paku pengampunan itu setidaknya 500 kali, berdoa sendirian, berdoa bersama orang lain, memulai dan kemudian menghentikan proses melepaskan. Saya tak ingat tanggal pastinya, tetapi pada suatu saat, saya memukul paku itu sekali lagi, dan amarah itu pun lenyap.
Pertolongan dari Yang Tak Dapat Terjerat
Tentu saja, ada yang lebih ampuh daripada mengayunkan palu kecil saya—kehadiran Yesus. Penulis kitab Ibrani menggambarkan Dia sebagai “yang telah dicobai dalam segala hal sama seperti kita, namun Dia tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15). Dengan kata lain, Yesus adalah manusia pertama dan satu-satunya di dunia yang tidak dapat terjerat dosa.
Saya menyukai penggambaran Yesus dalam lukisan abad ke-17 yang berjudul “Kristus di hadapan Imam Besar” karya seniman Belanda Gerrit van Honthorst. Di ruangan gelap yang diterangi sebatang lilin, Yesus berdiri di hadapan Imam Besar, yang duduk dan mengacungkan jari yang menuduh ke wajah Tuhan. Para pengecam-Nya seharusnya memegang kendali. Tetapi Yesus, dengan jubah yang berantakan dan tangan terikat, tampak sangat tenang. Para penuduh-Nya sedang merekayasa kasus untuk menyalibkan-Nya, tetapi Yesus memegang kendali. Dan, yang menakjubkan, mata Tuhan tidak memancarkan kemarahan, kebencian, permusuhan, atau ketakutan, melainkan menunjukkan kelembutan kasih, bahkan terhadap musuh-Nya. Inilah kebebasan yang sempurna. Inilah apatheia.
Setiap kali saya menatap lukisan van Honthorst itu, saya berpikir, saya tak akan pernah dapat melakukan hal itu. Saya terlalu mudah terjerat. Karena itu, saya tidak hanya membutuhkan teladan Yesus tentang bagaimana supaya tidak terjerat dosa, saya membutuhkan Dia. Saya membutuhkan belas kasih dan kuasa-Nya. Saya perlu berseru, “Tuhan Yesus, kasihanilah aku, orang yang berdosa ini, seorang manusia yang sangat rusak dan terikat. Saya membutuhkan Engkau untuk menyelamatkan saya.” Syukurlah, seperti nasihat penulis kitab Ibrani, kita dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rakhmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya” (Ibrani 4:16).
