Murid Yang Ulet

Ulet (John Vanden Oever)

Matthew Murray telah menyaksikan bagaimana seekor anjing dapat membuka pintu bagi Injil.

 

Matthew Murray adalah seorang wisatawan medis, tenaga perawat kesehatan profesional yang memberi bantuan staf jangka pendek ke rumah sakit- rumah sakit di seluruh negeri. Meskipun ia sangat berperan penting dalam setiap fasilitas yang ia layani, hatinya tertuju pada kesehatan rohani manusia. Lucy, seekor anjing pudel berbulu hitam alami, menjadi kaki tangan Murray. Anjing itu tinggi, tenang dan ramah, dan bulunya yang lembut dicukur model tradisional —“dengan segala keunikannya,” sebagaimana dikatakan Murray. Tak pelak, Lucy menarik perhatian semua orang yang datang ke tempat itu. Dan pujian atau pertanyaan pun sering mengawali percakapan di antara dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal sama sekali.

Murray sudah melatih Lucy menjadi anjing terapi bersertifikat agar ia bisa menjadi semacam misionaris. Tetapi anjing pudel itu juga sudah menjadi terapi bagi Murray dengan “membuka jalan [baginya] ke semua kelompok orang yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.” Sebagai hasilnya, ia sudah bertemu dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat dan pandangan dunia. Ia memandang setiap orang dengan mata belas kasihan, dan mengakui, sebagaimana yang ia katakan, “dosa dalam diri saya dan betapa cepatnya saya bisa menghakimi orang lain.”

Selama bertahun-tahun Murray menggali secara mendalam berbagai kekhususan Kristen Injili dan menyelidiki setiap penekanan dalam upayanya memahami konflik di antara orang percaya. Meskipun hal itu membuatnya menghargai orang lain, ia menginginkan sesuatu yang lebih solid. “Saya berkata kepada orang-orang bahwa, ‘Saya memerlukan semacam prinsip dasar, nilai-nilai inti.’” Dan itulah tepatnya yang ia temukan dalam buku 30 Prinsip Hidup tulisan Dr. Stanley. Dari buku itu dan buku-buku lainnya, Murray merasakan kesamaan dengan Dr. Stanley, yang ketika masih muda juga mendambakan ketajaman rohani.

Sementara Lucy membantu Murray berhubungan dengan orang asing, ia juga mencari cara untuk melayani rekan-rekan kerjanya, seperti mengundang mereka untuk menggunakan fasilitas basket atau dapur di gedungnya. Selain itu, mengurangi bekal makanan juga membuatnya lebih sering mengajak teman-temannya untuk makan bersama. Apalagi, ketika mendengar rekan-rekan kerjanya kelelahan dan tak bisa berlibur selama dua tahun akibat pandemi, Murray merasa sangat prihatin. Jadi ia memperpanjang kontraknya, dan meminta supervisornya bekerja pada waktu istirahat untuk semua orang.

Ketika baru tiba di Connecticut, Murray menemukan sebuah taman di lingkungan komunitas Yahudi dan senang mengajak Lucy berjalan-jalan di sana. Pengalaman-pengalaman negatif dengan orang luar membuat beberapa penduduk di situ sering curiga terhadap pendatang baru, kata Murray, “tetapi [ketika mereka] melihat penampilan anjing saya, mereka mungkin berpikir, Eh, ia tidak mungkin berbahaya — lihat anjing itu!”

Tak begitu lama, seorang mahasiswa mulai ikut bergabung jalan-jalan dengannya dan Lucy. Meskipun menganut iman Yahudi yang konservatif, pemuda itu senang mendengarkan Murray bercerita tentang Kristus dalam hubungannya dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. “Cuaca saat itu dingin dan bersalju,” kenang Murray. “Tetapi di sanalah saya—bersaksi selama satu setengah jam di tempat terbuka.”

Karena seekor anjing, orang-orang sudi berhenti. Dan demi Kristus, Murray mendengarkan lebih lama lagi, dan mendoakan yang dapat ia sampaikan kepada mereka. Penting sekali melihat melampaui hal-hal yang eksternal dan “benar-benar melihat ada suatu identitas di sana,” katanya, “seorang yang bergumul. Dan ketika Anda mulai berbagi pergumulan Anda, Anda dapat melakukan percakapan yang sesungguhnya.”