Pelayanan Ratapan

Apa yang tidak disediakan gereja, sangat dibutuhkan oleh budaya kita. 

Oleh : D. L. Mayfield

Sebagai seorang anak, saya mengerti bahwa menjadi seorang Kristen berarti terlibat dalam pekerjaan pelayanan. Orang tua saya secara konsisten menciptakan jalan bagi saya dan kakak-kakak saya untuk terlibat dalam dunia yang lebih luas: menjadi sukarelawan di ruang kelas untuk orang-orang dengan disabilitas; melayani makan malam Thanksgiving di tempat penampungan tunawisma; membuat dan menjalankan program musim panas di sebuah desa pendudukasli di lepas pantai Alaska; memulai panggung musik di gereja kami agar anak-anak sekolah menengah dapat bermain dan mendengarkan punk rock Kristen; dan bagi orang-orang yang tidaktahuharuspergikemana, mengajakdanmembiarkan mereka tinggal bersama kami selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau kadang-kadang bertahun-tahun pada suatu waktu.

Pengalaman-pengalaman ini, ditambah dengan banyak biografi misionaris yang saya baca, mengubah cara saya memandang dunia dan peran saya di dalamnya. Formula itu, dalam pikiran muda saya, menjadi agak sederhana: Pergilah ke dunia untuk memberitakan Injil, terbenam dalam kehidupan orang-orang dan masalah-masalah mereka, dan melakukan segala yang kitadapatlakukan untuk membantu.

Ratapan memungkinkan kita untuk mendekat kepada Tuhan dan mengartikulasikan kesedihan kita yang terdalam sertapengharapan kita yang hampirpadam.

Mungkin, pada kesan pertama, tidak ada yang salah dengan formula ini. Tetapi keterbatasan formula ini menjadi semakin jelas setelah kita mendapati diri kita tenggelam dalam masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan, menyadari bahwa ada kebijakan dan realitas sistemastis, baik secara langsung maupuntidaklangsung. Itu terjadi ketika kita diliputi oleh dunia yang hancur dan ketidakmampuan kita sendiri untuk memperbaikinya sehingga keputusasaan, sikapmenghakimi, dan bahkan sikapapatis terjadi, bahkan pada jiwa yang paling berniat baik sekalipun.

Beberapa masalah tidak akan pernah bisa diperbaiki melalui pemikiran positif atau ketabahan semata. Sebaliknya, ada kenyataan tidak adil yang perlu disuarakan, dalam komunitas dan hubungan yang penuh kasihdanamanbagisemua orang, dan ada sistem dan kebijakan yang perlu diakui dan disesali. Ratapan memungkinkan kita untuk mendekat kepada Tuhan dan mengartikulasikan kesedihan kita yang terdalam sertapengharapan kita yang hampirpadam. Dan inilah yang dapat dan seharusnya ditawarkan oleh gereja-gereja Kristen kepada dunia yang tenggelam dalam kekerasan, penderitaan, dan keputusasaan.

Saya ingat pertama kali saya mulai merasa kewalahan dengan masalah yang dihadapi teman-teman pengungsi. Saya telah mengajukan diri melalui suatuagen penempatanpengungsi untuk menjadi mentor bagi keluarga Bantu dariSomalia yang baru tiba. Saya baruberusia 19 tahun tetapi sayatahu bahwasaya dapat berguna dan membantu mereka. Berbekal lembar kerja bahasa Inggris, saya segera mendapatibahwa tidak seorang pun didalam keluarga itu yang dapatberbahasa Inggris, danbahkan tidakdapatmembaca. Perlahan menjadi jelas bahwa ibu dan ayah darikeluarga inimemiliki masalahdalamhalmengingat dan mempelajari informasi baru (iniadalahtanda-tanda trauma – sesuatu yang saya pelajari di kemudian hari). Apapun percakapan bahasa Inggris yang kami lakukan dalam satu minggu akan benar-benar terlupakan dalam beberapa hari. Apa yang saya pikir akan menjadi proses belajar yang cepat dan menyenangkan berubah menjadi pengingat kegagalansaya, minggu demi minggu.

Saya telah banyakterlibat dalam pekerjaan amal tetapi tidak siap menghadapi keadaan, sistem, dan kebijakan yang menuntun pada kehancuran dan ketidaksetaraan yang dalam.

Saya mulai melihat lebih banyak tanda-tanda betapa sulitnya hidup bagi teman-teman baru sayaini: berbagai tagihan menumpuk di meja, termasuk ribuan dolar yang harus dibayar keluarga ini untuk penerbangan mereka ke Amerika Serikat; panggilan telepon, menyela sore hari merekadi apartemen, dari orang yang mengaku daripihak bank, menawarkan uang cuma-cuma, dan mencoba menipu teman-teman saya dengan nomor Jaminan Sosial yang baru dicetak; kutu kecoak yang diabaikan oleh pemilikrumahsewa; sekolah yang tidak memiliki sumber daya atau pelatihan untuk membantu anak-anak dari latar belakang tidakmelek huruf, pedesaan, dan memilikitrauma. Atau mungkin saya benar-benar kewalahan ketika saya menyadari keluarga ini menerima bantuan hanya selama delapan bulan, dimana pada saat itu mereka diharapkan telahmenjadi anggota masyarakat yang berfungsi penuh, tidak peduli hambatan apa pun yang mungkin mereka hadapi — seperti rasisme, pembedaankelassosial, dan sama sekalitidak memahami budaya non-Barat di sektor publik.

Iman saya mulai menggelepar. Saya telah banyakterlibat dalam pekerjaan amal – berusahamenolongkeluargaini – tetapi tidak siap menghadapi keadaan, sistem, dan kebijakan yang menuntun pada kehancuran dan ketidaksetaraan yang dalam.Apakah Tuhan melihat apa yang terjadi pada teman-teman saya? Apakah Dia peduli?

Pertanyaan-pertanyaan ini, meskipun menakutkan, bukanlah hal baru bagi Allah. Jika seseorang hidup dan memperhatikansekitarnya, makapertanyaan tentang kedaulatan ilahi dalam meresponi kejahatan, penderitaan, ketidakadilan, dan kematian akan munculsecaraalami. Sarjana Perjanjian Lama Walter Brueggemann menyebut pertanyaan-pertanyaan semacam ini sebagai penekanan dalam rasa sakitdari Allah, yang merupakan tradisi alkitabiah yang kaya, terbukti dalam karya para nabi dan juga dalam mazmur (40 persen di antaranya digolongkan sebagai ratapan).

John Swinton, penulis Raging With Compassion, menulis bahwa “ratapan adalah … bentuk doa yang sangat khusus yang tidak puas dengan kata-kata hampa yang menenangkan atau gambaran-gambaranAllah yang hanya mendengarkan suara-suara yang menentramkan dan memujiDia. Ratapan membawa kehancuran daripengalaman manusia ke dalam hati Allah dan menuntut agar Allah menjawabnya.”Ratapan mendorong keterlibatan otentik dengan Allah, yang merupakan prasyarat untuk benar-benar berhubungan dengan-Nya. Dan itu memiliki tujuan, kata Swinton. Pada akhirnya, ratapan ada untuk menyuarakan penderitaan dan untuk mendamaikan kita dengan kasih Allah.

Brueggemann, dalam bukunya The Prophetic Imagination, menghabiskan banyak waktu untuk mengartikulasikan bagaimana nilai-nilai dunia ada untuk membuat orang mati rasa terhadap realitas dunia. Kita dapat melihat ini dalam obsesi budaya kita sendiri tentang harta benda dan kematian, laluhidup dalam masa sekarang. Tetapi Brueggemann menulis bahwa “teka-teki dan wawasan tentang iman alkitabiah adalah kesadaran bahwa hanya derita yang menuntun pada kehidupan, hanya kesedihan yang menuntun pada sukacita, dan hanya akhir yang dirangkul yang akanmengizinkan permulaan yang baru.” Atau seperti yang Yesus nyatakan dalam Khotbah di Bukit, bahwa mereka yang berdukacita yang suatu hari akan dihibur. Orang-orang yang melarikan diri dari perkabungan juga melarikan diri dari manfaat rohani ratapan.

Yeremia, Nehemia, Daud, dan Yesus sendiri semuanya memiliki apa yang Brueggemann sebut sebagai pelayanan “duka yang diartikulasikan.” Namun, ratapan tidak hanya menentramkanhati komunitas yang menderita dengan kejujuran dan pengharapan penuh dalam pekerjaan Allah; itu juga berfungsi sebagai cara untuk mengundang orang untuk mengaku dan bertobat. Bagi orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan pelayananbelas kasih, ini adalah pemahaman yang vital.

Lisa Sharon Harper, penulis The Very Good Gospel, memberi tahu saya arti kata belas kasih adalah “digerakkan dari rasa iba” atau merasakan penderitaan orang lain di lubuk hati Anda. Dia rindu melihat orang-orang Kristen beralih dari pekerjaan amal dan pelayananbelaskasih (dimanaindividu dan komunitas memberi dari kelimpahan mereka) dan menuju padapengembangan masyarakat dan bahkan pekerjaan di area keadilan, di mana sistem dan kebijakan yang sifatnyamenindas diubah. Alih-alih membagikan roti kepada orang-orang lapar dua kali seminggu, bagaimana jika sebuah gereja membantu memulai suatuusaha makanan di masyarakat? Pendekatan semacam ini membutuhkan hubungan yang terjalin, mendengarkan orang lain, mempertanyakan tentang kondisi yang menyebabkan kelaparan dan kelangkaan makanan, dan kemudian mengubah sistem itu. Yang melekat dalam jenis pekerjaan ini adalah keinginan akan adanyakeadilan.

Nehemia adalah contohnya. Dia berpuasa dan menangis karena melihat apa yang menyebabkan tembok itu runtuh — yaitukarenaadanyapelanggaran perjanjian dan hukum Allah, termasuk mengeksploitasi orang-orang dan merancang hukum untuk membatasi siapa yang dapat memasuki hadirat Allah. Menjelaskan bagaimana hal itu membuat Nehemia mengaku dan meratap di depan umum, Harper menggambarkan kesamaan dengan zaman kita: “Kita melihat bagaimana dosa kita menyebabkan kehancuran di luarsana. Kita melihat bagaimana kita benar-benar percaya pada meritokrasi, bahwa Tuhan lebih mencintai beberapa orang daripada yang lain, dan kita melihat bagaimana kita telah membuat struktur hierarki dua tingkat. ”Kerusakan mendasar ini — kebohongan yang kita percayai tentang diri kita sendiri, orang lain, dan Tuhan — sebenarnyaadalahpenyebabmengapakitaperlukegiatan amal. Jadi, setiap kali kita terlibat dalam membantu orang lain yang kurang beruntung dibandingkan diri kita sendiri, kita memiliki kesempatan untuk meratapi dan berdukaatas kehancuran yang membuat kita sampai di sana.

MempraktekkanRatapan

  1. Terlibat dalam pelayanan belas kasih dengan memperhatikan faktor sistemik. Apakah gerejaAnda memiliki pelayanan yang menyediakankotakmakanan? Dengan cara apa Anda dapat mulai menyadari dan terlibat dalam membentuk kembali kebijakan dan sistem yang membuat kurangnya akses atau sumber daya kepada makanan?
  2. Doa berjalan di lingkungan Anda atau di bagian kota dimana Anda melihat perlunya suatukebangkitan. Berlatihlahuntuk mendengarkan, memperhatikan, dan menceritakanratapan serta harapan Anda kepada Tuhan.

Alkitab tentu saja penuh dengan tulisan-tulisan semacam ini — yang melihat penderitaan dan kompleksitas kondisi manusia — tetapi sepertinya budaya Barat saat ini telah kehilangan seni meratap. Seperti yang ditulis olehDr. Soong-Chan Rah dalam bukunya Prophetic Lament, duniaBarat telah mengembangkan suatu teologi kemenangan yang bergema dalam ibadah dan liturgi kita. Dari 100 lagu penyembahan Kristen dari tahun 2012, hanya lima yang dapat digolongkan sebagai ratapan. Walter Brueggemann menjelaskannyadengan cara ini: “Orang yang tidak punya” mengembangkan teologi penderitaan dan senibertahan hidup. Sedangkan’Yang kaya’ mengembangkan teologi perayaan.”

Bagi orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan keadilan atau kasih sayang, ini adalah dikotomi yang penting untuk dikenali. Jika kita dibesarkan untuk memandang Allah sebagai berkat dan merawat orang-orang yang Dia kasihi,maka apa yang terjadi ketika orang menderita — ketika mereka mengalami trauma, atau perang, kelaparan, atau sistem kemiskinan yang tidak akan pernah membiarkan mereka melarikan diridarinya?

Dalam kasus saya, halini mengakhiri Injil kemakmuran saya sendiri dan formula yang telah saya ciptakan tentang bagaimana Allah bekerja di dunia (yang, tidak mengejutkan, cenderung memberi manfaat kepada orang-orang yang berpenampilan, berpikir serta hidup seperti saya). Ketika hidup saya perlahan-lahan terjerat dengan kehidupan orang-orang yang menderita secara global dan terus menderita di negara saya sendiri karena perbedaan dan ketidaksetaraan, saya terbangun dan mulai berubah. Saya mendengarkan cerita dan melihat kesukaran dengan mata kepala sendiri. Pada akhirnya, saya menjadi percaya pada Tuhan yang berdaulat, yang melihat dan menderita bersama kita. Dalam prosesnya, bagian-bagian Alkitab yang sebelumnya tidak berarti apa-apa bagi saya (yang ditulis oleh dan untuk orang-orang yang menderita) mulai menyingkap banyak kenyamanan bagi saya secara pribadi.

Teologi Kekristenan saya memberi saya kerangka kerja untuk terlibatdalampelayanan penuh belas kasih, tetapi itu tidak membekali saya untuk menghadapi penderitaan yang saya hadapi ketika saya terlibat dalam pekerjaan belas kasih. Dan inilah yang dilakukan ratapan dalam Alkitab. Ia memberi bahasa bagi penderitaan yang dialami manusia. Ratapan mendorong keterlibatan yang otentik dengan Tuhan.Ratapan mengundang kita untuk mendengarkan masyarakat yang menderita dan terlibat dalam pengakuan dan pertobatan. Dan terakhir, ratapan mengungkapkan cara kita mencoba mematikan rasa pada realitas dunia.

Saya masih menjumpai teman-teman pengungsi Somalia saya secara teratur. Sudah lebih dari satu dekade, dan kehidupan masih sulit bagi mereka di Amerika — diperparah oleh trauma masa lalu dan hambatan di masa sekarang. Tetapi setiap hari saya melihat tanda-tanda pengharapan.Wanita muda itu belajar membaca, membaca novel dari perpustakaan; berbagi makanan yang dibuat dengan cinta dan kasih sayang; orang membuat kemajuan selangkah demi selangkah. Terkadang saya mencoba untuk memberi tahu mereka bagaimana mereka telah mengubah iman saya, bahwa melalui mereka dan penderitaan mereka, saya benar-benar menemukan siapa Yesus itu. Tapi mungkin mereka tidak akan pernah tahu. Ratapan yang mereka bawa kepada saya mematangkan iman saya. Ratapanitumemampukan saya untuk melihat cara-cara di mana kita terhubung satu sama lain, dan cara-cara kita saling mengecewakan. Tetapi yang terpenting,ratapan itu memungkinkan saya untuk berharap pada Tuhan yang akan menebus kita semua, dan yang sementara itu meminta saya untuk mencari dan bertindak demi keadilan kapan pun saya bisa.