Sisi Manis Perkataan

(Pendalaman Alkitab Staf In Touch Ministries)

Mungkin dari kita ada yang pernah mendengar pepatah dalam bahasa Inggris yang artinya “tongkat dan batu bisa meremukkan tulang-tulangku, tetapi kata-kata tak pernah dapat melukaiku.” Tetapi Alkitab tidak berkata seperti itu. Bulan lalu, kita membahas tentang kekuatan perkataan dan membaca peringatan Yakobus tentang daya rusaknya. Ia menyebut lidah itu “kejahatan yang tak pernah diam dan penuh racun mematikan” yang dapat menyalakan roda kehidupan kita (Yakobus 3:6,8). Namun bersyukur ada hal lain dari cerita itu, dan bulan ini kita akan membahas tentang sisi manis dari perkataan.

LATAR BELAKANG

Di masa-masa awal gereja, rasul Paulus mengirim surat kepada beberapa jemaat Kristen yang masih muda. Tujuannya untuk mengajar mereka tentang cara hidup yang kudus dan berkenan pada Tuhan.

BACA

Efesus 5:1-21

RENUNGKAN

Hidup kudus, yang dipisahkan bagi Tuhan, tampak berbeda karena alasan yang benar dan mencerminkan Yesus secara positif.

  • Paulus membuat perbedaan yang sangat jelas antara dua cara hidup yang bertentangan: cara-cara kegelapan dan hidup dalam terang (ayat 6-10). Ia menyebut percabulan, rupa-rupa kecemaran dan keserakahan sebagai ciri hidup dalam kegelapan (ayat 3). Apa yang dikatakan ayat 9-10 sebagai ciri “buah terang”?
  • Buah kegelapan yang najis tidak ada dalam hidup orang percaya – bahkan disebut saja pun seharusnya jangan (ayat 3, 12). Mengapa menurut Anda, tidak hanya perbuatan yang penting, tetapi juga perkataan?
  • Perhatikan bahwa ayat 1-2 berbicara tentang meneladani Kristus yang telah “menyerahkan diri sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Tuhan.” Kita harus melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Diskusikanlah hal-hal yang mungkin perlu kita lepaskan – terutama yang berkaitan dengan perkataan kita —ketika kita “hidup sebagai anak-anak terang” (ayat 8).
  • Paulus memberikan beberapa contoh untuk mendorong kita hanya menggunakan kata-kata yang baik yang menyenangkan Tuhan. Seperti apa berbicara kepada orang percaya lain “dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani” (ayat 19)?
  • Mengenai perkataan yang pantas untuk kita yang hidup dalam terang, ayat 20 mengulangi pentingnya mengucap syukur dalam segala sesuatu. Mengapa mengucap syukur sangat mendasar dalam bahasa kasih karunia? Bagaimana sering mengucap syukur membantu mengubah hati Anda dan perkataan yang Anda ucapkan?

MELANJUTKAN CERITA

Nasihat lain apa lagi yang disampaikan firman Tuhan tentang perkataan yang manis?

  • Perkataan yang menyenangkan diumpamakan seperti sarang madu (Amsal 16:24). Bahaslah pengalaman sensorik yang terlintas di pikiran dan bagaimana kaitannya dengan kata-kata yang Anda gunakan.
  • Bacalah Efesus 4:29. Berikanlah contoh-contoh yang termasuk kategori “perkataan kotor” dan perkataan “yang membangun.” Dapatkah Anda mengingat saat seseorang berbicara dengan cara yang “menyampaikan kasih karunia”? Bayangkan makanan favorit rasanya yang terlalu hambar atau malah terlalu tajam. Menurut Anda apa artinya “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar” (Kolose 4:6)?
  • Pikirkanlah untuk menghafalkan ayat dari Amsal 15:1, yang berkata, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan kemarahan.” Dalam situasi-situasi apa Anda mendapati paling sulit untuk menjawab dengan lemah lembut, dan bagaimana Anda dapat menerapkan ayat ini untuk membantu Anda membuat pilihan yang lebih baik?

REFLEKSI

Roh Kudus akan menolong kita mengetahui apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya.

  • Atas kemurahan-Nya, Tuhan memberitahu kita sebelumnya bahwa suatu hari kelak kita akan diminta memberi pertanggungjawaban atas setiap perkataan sia-sia yang diucapkan (Matius 12:36). Betapa bahagianya dapat datang pada Kristus sekarang untuk diampuni – dan mengembangkan pola perkataan dan perbuatan yang menyenangkan Tuhan.