Tanpa Kata-Kata Klise

Klise (Carol Barnier)

Dalam hal penderitaan dan dukacita, tak ada solusi yang mudah. Namun, ada cara-cara untuk menolong yang terluka.

Teman saya Linda memutuskan untuk mengunjungi Jenna, ibu muda yang baru saja kehilangan janinnya beberapa hari sebelumnya. Kesedihan dan kehilangan yang dirasakan wanita ini sama menyakitkannya seperti yang pernah ia alami. Banyak teman dan anggota keluarga berusaha menyampaikan kata-kata penghiburan, tetapi hampir semuanya tak memberi pengaruh apa pun. Tetapi Linda menyampaikan sesuatu yang benar-benar membuat Jenna tertawa. Apa itu?

Sahabat yang bijak ini berkata, “Biar kutebak semua kata-kata penyemangat yang sudah kaudengar selama beberapa hari terakhir ini.” Lalu ia mulai menyebutkannya satu per satu:

  • Kamu selalu dapat mencobanya lagi.
  • Mungkin ini memang yang terbaik, karena inilah cara alam menyingkirkan bayi yang bermasalah.
  • Bersyukur terjadinya di usia kehamilan yang masih muda.
  • Mungkin memang belum tepat waktunya.
  • Lagipula, kehamilan itu belum direncanakan, bukan?.
  • Tuhan tidak pernah memberi kita beban yang melampaui kekuatan kita untuk menanggungnya.
  • Kita tidak boleh mempertanyakan kehendak Tuhan.

Jenna sudah mendengar semuanya. Ia bahkan menambahkan beberapa perkataan lagi untuk melengkapi daftar itu, dan tawa yang membawa kelegaan dan pemulihan pun berderai.

Kita semua pernah mendengar perkataan-perkataan seperti itu sebelumnya. Bahkan mungkin kita sendiri pernah mengucapkannya. Bagaimanapun, kebanyakan berisi kebenaran, dan maksud kita baik. Lalu mengapa kata-kata itu tidak efektif? Bagaimana mungkin kata-kata penghiburan yang kita ucapkan justru terasa begitu klise dan tak berguna—tidak lebih dari sekadar basa-basi yang hampa?

Pertama, mari bersama saya memasuki pikiran orang yang sedang berduka.

Ketika Anda dan saya berkata, “Kamu selalu dapat mencobanya lagi,” mereka berpikir, Tidak untuk bayi INI, saya tidak bisa. Pribadi unik yang sudah saya kasihi ini telah tiada. Tak ada lagi kesempatan kedua untuk anak ini.

Ketika kita berkata, “Anggaplah itu sebagai berkat,” mereka berpikir, Serius? Mungkin saya juga lalu harus berharap dan berdoa agar Tuhan memberkati saya dengan 14 kali keguguran lagi supaya saya bisa benar-benar diberkati. Jujur saja, saya lebih suka Dia pergi memberkati orang lain.

Anda paham maksudnya. Hati kita biasanya bermaksud baik, meskipun jika kita jujur, kita kadang melontarkan kata-kata yang terlalu menggampangkan ini karena itulah “plester cepat” yang membuat kita bisa segera menjauh dari situasi yang sangat tidak nyaman ini. Apa pun alasannya, pernyataan-pernyataan yang bernada “sudahlah, lupakan saja” tidak akan mengena dan bahkan dapat membuat kita merasa seolah-olah sedang melempari tembok.

Ketika kita memberikan respons-respons yang terlalu menggampangkan ini, biasanya tujuan kita adalah agar orang yang berduka memiliki perspektif yang lebih baik dan kurang menyakitkan tentang penderitaan mereka. Tetapi itulah yang menjadi masalahnya—kesedihan bukan tentang tidak memiliki perspektif.

Ketika kita mencoba menghibur orang yang berduka, tujuan kita seharusnya bukan untuk membuat orang itu merasa lebih baik, tetapi untuk berada di sampingnya ketika ia merasa lebih buruk. Dukacita bukan untuk dihindari, tetapi untuk dialami. Diproses. Ditanggung. Diurai. Dukacita adalah perjalanan yang harus dilalui. Melontarkan kata-kata klise pada orang yang sedang menderita, meskipun dilakukan dengan niat terbaik, akan terasa seperti mencoba meremehkan yang ia rasakan—seakan-akan kita telah menemukan banyak cara yang berbeda untuk berkata, “Sebenarnya tidak seburuk itu.”

Cawan Kosong

Ketika dukacita datang mengetuk pintu kehidupan kita, ada pekerjaan yang harus dilakukan. Seperti diberi cawan tak terlihat yang harus diisi. Setiap air mata yang kita teteskan, setiap kali kita tiba-tiba menangis ketika sedang belanja di tempat umum, setiap benda yang kita sentuh yang lalu membanjiri pikiran kita dengan kenangan, setiap hari kelam yang tampaknya tak pernah berakhir – semuanya menambah isi cawan kita. Dukacita tak akan berakhir sampai cawan itu penuh. Tetapi masalahnya, kita tidak tahu seberapa besar cawan itu. Pada akhirnya, cawan itu  penuh ketika sudah penuh.

Tidak ada cara baku untuk mengisi cawan dengan benar. Jangan berasumsi bahwa yang berhasil pada Anda akan berhasil pada orang lain. Tugas kita hanyalah berada di sana ketika orang itu melakukan apa pun yang perlu dilakukan. Akan tiba waktunya, lama sesudah itu, ketika ia sudah ingin mendengar kata-kata positif yang membangkitkan semangat, ketika ia membutuhkan semua ini untuk mulai mencoba memahami yang terjadi. Tetapi jangan sebelum ia memberi isyarat bahwa ia sudah siap untuk beralih ke tahap berikutnya. Untuk saat ini, ia hanya perlu waktu untuk merasakan penderitaan ini sepenuhnya.

Teladan Yesus

Di pasal 11 Injil Yohanes, Yesus menunjukkan seperti apa belas kasihan itu saat menghadapi orang yang mengalami kedukaan di tahap-tahap yang berbeda. Dia menerapkan konsep ini tepat di level hati. Maria dan Marta baru saja kehilangan saudaranya, Lazarus. Yesus sudah tahu beberapa hari sebelumnya bahwa sahabat-Nya akan mati. Dan Dia juga sudah tahu sepenuhnya bahwa Dia akan membangkitkan Lazarus dari kematian.

Ketika Yesus tiba di tempat itu, Dia mendapati kedua saudari itu sama-sama membutuhkan kehadiran-Nya, tetapi respon-Nya terhadap masing-masing sangat berbeda. Marta sedang ingin berbicara. Ia hanya ingin mengerti, sehingga ketika ia mendengar Yesus datang, ia langsung pergi menemui-Nya dan berkata, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (Yohanes 11:21). Tetapi kesedihan Maria yang begitu mendalam diungkapkan dengan cara yang berbeda. Ketika orang-orang lain pergi menyambut Yesus, ia tetap tinggal di dalam rumah sampai harus dipanggil keluar.

Yang terjadi selanjutnya menarik, karena memberi pelajaran tentang bagaimana kita bisa memberi penanganan terbaik bagi orang yang berduka. Yesus tahu Dia akan membangkitkan Lazarus dari kematian, dan sumber kesedihan Maria akan segera disingkirkan. Anda dan saya mungkin akan tergoda untuk mengucapkan kata-kata yang memberi semangat dan sukacita dalam berbagai kesempatan. Tetapi justru itulah yang membuat tindakan Yesus selanjutnya begitu luar biasa.

Yesus menangis.

Yesus tidak mencoba berkata kepada Maria agar tidak berduka. Dia tidak berkata-kata untuk mencoba memberinya perspektif yang lebih baik tentang situasi itu. Empati dan belas kasih-Nya membuat-Nya ikut larut dalam kesedihan Maria.

Yesus tahu yang dibutuhkan Maria. Memang harus diakui bahwa Yesus memiliki kelebihan—Dia dapat mengetahui kebutuhan orang lain dengan pengertian ilahi. Kita tidak memiliki kemampuan “melihat hati” seperti itu. Kita perlu mencari tanda-tanda, mengajukan banyak pertanyaan, kadang diam, dan membiarkan orang yang ingin kita tolong benar-benar menuntun kita dalam cara melayani mereka.

“Inilah yang Saya Butuhkan”

Seorang teman baik saya sudah sedemikian lama hidup melajang sehingga tak seorang pun dari kami tahu kalau ia pernah menikah. Tak ada relasi yang tampaknya benar-benar berhasil. Lalu ia bertemu Sandy, dan kisah cinta pun mekar. Dalam beberapa bulan saja tampak jelas bahwa ini percintaan seumur hidup. Namun tak lama setelah mereka menikah, Sandy secara menyedihkan mengidap kanker yang akan segera merenggut nyawanya. Ketika saya dan suami singgah untuk mengunjunginya, kami tak tahu harus berkata apa. Tetapi Sandy telah mengambil langkah proaktif dengan membuat selebaran yang bertuliskan “Inilah yang Saya Butuhkan” untuk menyambut setiap tamu di depan pintu. Selebaran itu menyatakan dengan sangat jelas hal-hal yang tak ingin ia dengar dan hal-hal yang paling ingin ia dengar. Dengan kata lain, selebaran itu menjelaskan secara gamblang bagaimana kami dapat melayani wanita berharga ini dengan cara terbaik. Memiliki saran-saran yang konkret sangat melegakan, dan membuat kami dapat menjadi berkat baginya dengan cara yang benar-benar berarti.

Kebanyakan orang terluka tidak mampu mengungkapkan dengan sangat tepat apa yang mereka butuhkan. Pada umumnya tidak ada buku panduan yang memberi kita peta jalan tentang cara terbaik mendampingi mereka. Jadi, saya belajar untuk meninggalkan kata-kata klise di keranjang depan pintu. Sesungguhnya, yang ia butuhkan adalah kita datang dengan sikap melayani, mendengarkan, penuh perhatian, dan ikut merasakan penderitaannya. Tugas kita adalah melakukan tugas sulit dengan menjadi telinga yang berbelas kasih—mendengarkan yang ia katakan (dan juga yang tidak ia katakan).

Terkadang lebih menolong jika kita memasuki dukacita itu daripada menghindarinya. Alih-alih melontarkan respons yang mudah atau tanpa dipikir, yang justru bisa menambah luka, kita dapat menyiapkan landasan pacu bagi orang berduka dengan menyingkirkan segala rintangan dan gangguan yang dapat menghalangi mereka menjalani proses mengisi cawan mereka.

Atau jika kita punya keberanian untuk diam, mungkin kita juga bisa ikut menangis saja, seperti Yesus.