Suami Anak Mama

suami-anak-mamaSaya Narimah. Saya sudah 12 tahun menikah. Tetapi suami tak bisa bersikap “dewasa.” Ibarat kapal yang sedang berlayar, bahtera pernikahan kami dihantam banyak gelombang. Kalau saya tidak mampu bertahan, suatu saat bahtera itu mungkin saja tenggelam.  

Setelah kelahiran anak pertama, saya mulai mendengar kata-kata dan melihat tindakan yang tidak baik dari suami maupun mertua. Bahkan sampai ada intimidasi dari pihak mertua perempuan.  Saya dikecam tidak becus mengurus anak, tidak bisa mengurus suami. Hanya karena keteledoran kecil yang saya lakukan.    

Saya akui saya tidak dekat dengan ibu mertua. Tidak dekat karena kami tinggal berjauhan, secara hati juga tidak dekat karena banyak perbedaan-perbedaan nilai yang tidak dapat kami satukan. Di lain pihak, mertua sayang sekali sama suami.  Maklum suami merupakan anak laki satu-satunya. Suami saya juga sering telepon ke orangtuanya. Apalagi kalau ada masalah. Dia lebih banyak mengadu soal keluarga justru sama mamanya. Dan bukan dibicarakan dengan saya, istrinya, untuk mencari solusi.     

Memang tidak dapat dipungkiri, perjalanan pernikahan kami tidak selalu berjalan mulus. Banyak kerikil-kerikil kecil yang jika tidak berhati-hati menjalaninya, bisa menjatuhkan. Tetapi yang saya masih belum bisa memahami, setiap ada konflik — suami selalu menelpun orangtuanya. Suka mengadu. Padahal menurut saya itu hal kecil, yang bisa dibicarakan bersama sebagai suami istri.    

Saya hanya bisa mengadu dan berharap kepada Tuhan melalui doa. Bahkan ketika suami saya semakin ketat dalam soal keuangan, saya pun doa puasa. Padahal selama ini kalau saya diberi uang, saya juga belanjakan untuk kebutuhan keluarga. Saya bertekat untuk tetap menerima suami dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Tuhan, mohon kekuatan dari-Mu saja. Jagai dan selamatkanlah pernikahan kami dari perceraian yang tidak kami inginkan…

Diceritakan kembali oleh : 
Sasongko Adiyono
 

Comments are closed.