Bagaimana Mengaku Dosa Tanpa Terus Menghukum Diri

Panduan Sentuhan Hati untuk lebih sehat rohani – Kim Findlay dan Staf In Touch Ministries

Pernahkah Anda berbuat salah yang tak juga hilang dari pikiran Anda? Mungkin Anda salah memahami komentar seorang teman dan bereaksi buruk, atau mungkin Anda dengan sengaja telah membuat keputusan yang melukai orang-orang dalam hidup Anda. Setiap kali ingatan itu muncul lagi di benak Anda, Anda merasa seperti ada beban berat yang menindih Anda, menyesakkan dada Anda. Mudah untuk terjebak dalam siklus dialog batin yang negatif pada saat-saat seperti itu: Mengapa aku melakukan hal itu? Aku sungguh bodoh. Aku tidak pantas …. Tetapi siklus ini bukan yang Tuhan inginkan untuk kita – apa pun yang sudah kita lakukan.

Kami membuat panduan ini untuk membantu Anda datang pada Tuhan dengan dosa Anda dan benar-benar melepaskannya. Pada intinya, meskipun kadang tidak nyaman, mengaku dosa adalah anugerah bagi kita. Suatu kesempatan untuk mengubah arah dan kembali ke jalur kehidupan yang sehat dengan Tuhan.

Kami berharap pemahaman dan latihan praktis berikut ini dapat membantu Anda mengalami kasih karunia dan kemurahan Tuhan yang tak ada habisnya. Dan di hadirat-Nya yang penuh kasih itu, Anda menemukan penerimaan yang tak bersyarat serta kekuatan yang Anda butuhkan untuk terus bertumbuh dalam kemerdekaan yang menjadikan makin serupa Kristus.

Dosa Terjadi

Ada kebenaran hakiki tentang diri manusia yang mengecewakan namun juga memerdekakan: kita semua berdosa. Semua manusia di bumi telah gagal menjadi orang yang dirancangkan Tuhan untuknya. Dosa adalah hal yang terjadi ketika kita berpaling dari yang terbaik Tuhan untuk hidup kita dan memilih jalan kita sendiri, yang tak akan pernah bisa sebaik yang kita pikirkan. Ketika kita melenceng dari Bapa surgawi, kita membuat pilihan-pilihan yang tak kita banggakan – pilihan-pilihan yang merusak hidup kita, yang seringkali tak diduga sebelumnya.

Kita semua tahu bagaimana rasanya dihantui kesalahan. Namun itu tak berarti kita harus membiarkan kesalahan-kesalahan masa lalu mengatur masa depan kita. Tidak seperti yang kita rasakan, dosa-dosa kita – dan bahkan pergumulan-pergumulan kita saat ini – tidak menentukan siapa kita atau kemungkinan menjadi siapa kita.

Singkatnya, tak ada gunanya menghukum diri atas dosa dan kesalahan kita. Tuhan tak ingin kita seperti itu – Anak-Nya berjanji tidak ada hukuman lagi bagi orang yang ada di dalam Kristus (Roma 8:1). Dan kita tidak mendapat keuntungan apa-apa dengan terus-menerus menghukum diri atas pilihan-pilihan yang Tuhan sudah ampuni.

Tak ada cara tunggal untuk mengakui dosa Anda, selama Anda melakukannya dengan rendah hati dan benar-benar tulus di hadapan Tuhan. Tetapi ada beberapa prinsip dan praktik yang dapat membuat usaha-usaha Anda lebih terhubung dengan Tuhan. Di bagian berikut ini, kita akan melihat salah satu pola itu.

Cek Rasa Bersalah

Ada beberapa tanda bahwa kita sedang memberi dosa—pergumulan di masa lalu atau pun saat ini—kuasa yang lebih besar dari yang seharusnya, atau menanganinya dengan cara yang tidak sehat. Anda mungkin sedang bergumul dengan rasa bersalah jika Anda…

  • Pelan-pelan menarik diri dari persekutuan Kristen karena merasa malu.
  • Mencerca diri sendiri.
  • Menghindari doa.
  • Berusaha lebih keras melakukan hal-hal yang benar, seakan ingin menebus kesalahan Anda.
  • Mencari peneguhan atau persetujuan orang lain.
  • Percaya bahwa janji-janji Tuhan itu nyata, tetapi kebanyakan untuk orang lain.

Jika tanda-tanda ini beresonansi dengan Anda, tak ada alasan untuk merasa malu. Semua ini hanyalah indikator bahwa Anda perlu menyediakan waktu untuk mengakuinya di hadapan Tuhan, berbicara dengan-Nya tentang perilaku-perilaku ini serta penyebabnya. Hal ini juga menjadi indikasi bahwa sudah waktunya untuk melepaskan rasa bersalah Anda.

1. Atur ulang

Mudah untuk membayangkan bahwa Tuhan akan bereaksi sama seperti kita terhadap kesalahan – kecewa, marah, ingin menghukum, dan bahkan mendendam. Tetapi Tuhan tidak seperti itu. Kita memerlukan gambaran yang tepat tentang Bapa sebelum kita dapat menghargai sepenuhnya cara Dia bereaksi terhadap dosa kita. Sebagaimana ditulis oleh John Mark Comer, “Pikiran adalah pintu masuk ke dalam jiwa, dan apa yang Anda masukkan ke pikiran Anda akan memengaruhi perjalanan karakter Anda.”

Sebelum Anda mengaku dosa, pilihlah ayat Alkitab yang menyoroti kemurahan dan kasih Tuhan dan renungkanlah. Ratapan 3:22-23 merupakan ayat yang baik untuk memulai: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rakhmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu.”

Bacalah ayat-ayat itu sesering Anda membutuhkannya, dengan suara keras atau pun dalam hati, dan hayatilah kata-kata yang berbicara khusus pada Anda. Biarkan gambaran tentang Bapa yang murah hati dan berbelas kasih meresap. Anda juga bisa membaca Mazmur 103:8-14, Mazmur 145:8-9, Lukas 15:11-24, atau Roma 8:38-39.

Ketika Anda mengingat siapa Tuhan, akan lebih mudah untuk membicarakan yang sedang terjadi dalam hidup Anda. Dia tak pernah terbebani oleh yang kita bawa kepada-Nya – Dia mau mendengar kita (Yakobus 4:8).

2. Akui

Sekarang, dengan gambaran yang jelas tentang Bapa di pikiran Anda dan hati yang terbuka, berbicaralah kepada-Nya. Dengan bebas dan terus-terang, tanpa rasa takut atau malu. Berikut ini ada beberapa saran untuk mempedomani percakapan Anda dengan Tuhan:

Jangan filter diri Anda. Anda mungkin berpikir Tuhan hanya ingin mendengar hal-hal tertentu dari Anda, tetapi Dia senang mendengar tentang diri Anda apa adanya. Tak ada yang akan membuat-Nya terkejut. Anda dapat berbicara tentang apa saja yang sebenarnya Anda rasakan atau lakukan. Sebagai contoh, Anda mungkin berpikir Anda seharusnya berkata, “Tuhan, aku tak ingin bergosip lagi.” Tetapi penilaian yang lebih jujur bisa terdengar seperti, “Tuhan, aku tahu aku sudah bergosip. Aku harap aku tak menyukainya. Hal itu membuatku merasa terhubung dengan teman-teman tertentu, tetapi aku juga tahu tindakan itu menjauhkanku dari yang lain. Aku ingin menghentikannya, tetapi aku tidak bisa. Tolong bantulah aku.” Keterbukaan kita membuka ruang untuk pertolongan-Nya. Berbicara pada Tuhan tentang dosa Anda tidak harus menunggu sampai hati Anda benar-benar bertobat. Anda bisa mengundang Dia ke dalam kekacauan proses itu.

Gunakan prompt (kata pembuka). Terkadang bagian tersulit dari membicarakan dosa kita adalah  memulainya. Pakailah kata-kata pembuka ini untuk mencairkan suasana dan membuat percakapan mengalir.

  • Tuhan, akhir-akhir ini aku merasa…
  • Tuhan, aku tahu Engkau melihatku bergumul dengan …
  • Tuhan, aku tidak tahu mengapa _____ terasa sulit sekali.

Hindari penghakiman. Saat Anda berbicara pada Tuhan tentang dosa Anda, hindarilah kata-kata yang menghakimi. Ungkapkan dosa Anda secara faktual, seperti sedang memeriksa hasil eksperimen ilmiah.

  • Alih-alih berkata, “Aku tak percaya aku melukai perasaanku lagi. Aku sangat egois,” cobalah berkata, “Aku melukai perasaanku lagi.”
  • Alih-alih berkata, “Aku orang yang mengerikan karena telah meninggalkan temanku,” cobalah berkata “Aku telah meninggalkan temanku ketika ia membutuhkanku.”

Pikirkanlah untuk memakai pengakuan dosa berikut ini. Jika Anda merasa masih sulit berkata-kata, cobalah mulai dengan contoh berikut ini. Anda bisa mendoakannya kata demi kata, atau menjadikannya sebagai inspirasi doa Anda sendiri: Terima kasih Tuhan atas kasih dan kemurahan-Mu yang tak berkesudahan. Terima kasih karena menerimaku sebagaimana adanya aku hari ini. Aku tahu Engkau mengetahui tentang dosaku, tetapi aku ingin mengatakan tentang dosa itu kepada-Mu dan mengundang Engkau ke dalam pergumulanku. Tuhan, ampuni aku atas _____.  Ampuni aku karena aku tidak hidup dengan cara yang menghormati-Mu. Aku ingin. Dengan Roh Kudus-Mu, bantulah aku untuk menghormati-Mu dalam aspek hidupku ini dan mengingat bahwa Engkau menyertaiku. Terima kasih karena mau mengampuniku. Biarlah aku melepaskan kesalahan ini karena aku tahu Engkau telah menghapuskannya bagiku. Dalam nama Yesus, amin.

3. Ubahlah, Bila Perlu

Kadang kita memerlukan sedikit bantuan agar pengakuan dosa kita menjadi lebih nyata. Berikut ada dua gagasan tambahan untuk membuat percakapan dengan Tuhan lebih personal dan efektif:

Lihatlah Pengakuan Dosa Anda. Tindakan rohani ini pada dasarnya adalah percakapan pribadi dengan Tuhan, sehingga itu sebabnya mudah untuk diragukan, dilupakan, diremehkan, atau bahkan dihindari sama sekali. Ketika bangsa Israel cenderung melupakan sesuatu, mereka kadang membuat penanda fisik. Di bawah kepemimpinan Yosua, bangsa Israel memindahkan 12 batu ke tengah Sungai Yordan, yang telah mereka seberangi dengan pertolongan Tuhan, sehingga batu-batu itu akan “menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya” (Yosua 4:7). Kemudian setelah mereka mengalahkan orang Filistin, “Samuel mengambil sebuah batu dan menempatkannya di antara Mizpa dan Yesana. Ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ‘Sampai di sini Tuhan telah menolong kita’.” (1 Samuel 7:12). Tidak ada yang istimewa dengan batu-batu ini; batu itu hanyalah simbol—tetapi simbol yang mengingatkan mereka akan kebaikan dan kesetiaan Tuhan.

Melakukan secara fisik membantu kita untuk mengingat—secara metaforis menancapkan patok di tanah—dan kita dapat melakukan hal yang sama dalam pengakuan dosa kita. Setelah Anda berbicara pada Tuhan, tulislah dosa Anda di selembar kertas (tak perlu panjang lebar, cukup satu kalimat atau intinya saja). Kemudian pikirkan untuk melakukan satu atau lebih hal berikut ini:

  • Coret dosa itu dengan bolpen merah, ingatlah bahwa darah Yesus menutupi segala pelanggaran.
  • Tuliskan kata “ditebus” atau “diselamatkan” pada dosa Anda.
  • Balikkan kertas itu dan tuliskan Ibrani 8:12: “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.”
  • Remas kertas itu dan lemparkan ke tempat sampah atau ke dalam api.

Dengarlah Pengakuan Dosa Anda. Jika beban dosa terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian, pikirkanlah untuk membaginya dengan konselor atau sahabat yang dipercaya. Jika kita saling mengaku dosa secara terbuka, kita akan mengalami kesembuhan (Yakobus 5:16). Pikirkanlah: Menyimpan dosa dalam diri sendiri akan membuatnya berkuasa atas kita, tetapi membicarakannya akan melonggarkan cengkeramannya atas kehidupan batin kita. Psychology Today melaporkan bahwa verbalisasi atau pengungkapan dengan kata-kata ini “Mengurangi aktivasi di amigdala, sistem alarm otak kita yang memicu reaksi melawan atau lari. Ketika kita mengungkapkan emosi kita dengan kata-kata, kita menjauh dari reaktivitas limbik dengan mengaktifkan bagian-bagian otak yang berhubungan dengan bahasa dan makna di korteks prefrontal ventrolateral kanan.” Dengan kata lain, “Kita menjadi kurang reaktif dan lebih sadar.”

Jika Anda memutuskan mengungkapkan dosa Anda pada seorang sahabat, Anda punya dua opsi. Anda bisa melakukannya secara formal maupun infomal sesuai yang Anda suka. Anda bisa mengirim pesan: “Hei, bisakah kita pergi minum kopi dalam waktu dekat ini? Aku ingin memproses sesuatu yang menjadi pergumulanku.” Atau Anda bisa menunggu kesempatan yang lebih alami, seperti saat sahabat Anda menanyakan keadaan Anda pada waktu makan siang. Selama Anda bersama orang yang dapat dipercaya, ada banyak cara untuk terbuka tentang dosa Anda.

4. Tetapkan Ekspektasi Anda

Harapan setelah mengaku dosa adalah beranjak dan melepaskan kesalahan itu sekali dan untuk selamanya, tetapi pemutusan yang tuntas tidak selalu terjadi. Wajar jika ingatan tentang dosa tertentu masih muncul di pikiran dan wajar juga jika mengalami lagi rasa bersalah sebentar terkait dengan ingatan itu. Jika ini terjadi, biarkan saja ingatan itu muncul, akui dan kemudian lepaskan, seperti melihat seekor burung yang terbang dan menghilang dari pandangan. Tak perlu terpancang terus pada kesalahan. Justru pada saat seperti itulah Anda dapat bersandar pada “batu” Anda – lambang pengakuan dosa Anda dan kemurahan Tuhan secara fisik. Biarkan simbol itu mengingatkan Anda bahwa Anda sudah diampuni.

Anda tak harus menjadi sempurna untuk mengaku dosa kepada Bapa; Anda hanya perlu memulainya. Dan memulai dengan bagaimana pun baik. Rasul Yohanes menasihati kita: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kesalahan” (1 Yohanes 1:9-10). Dan kita mengaku dosa bukan karena hal itu memenuhi kebutuhan tertentu Tuhan, tetapi karena hal itu membuat kita lebih dekat pada Tuhan. Setiap kali kita berbicara kepada Tuhan tentang pergumulan-pergumulan kita, kita membiarkan Dia melihat kita sebagaimana diri kita yang sebenarnya, dan sebagai hasilnya, kita menerima kasih-Nya. Setiap pengakuan memperdalam relasi kita dengan Tuhan.

Berlarilah, Jangan Berjalan

Lain kali saat Anda merasa bersalah atau malu tentang sesuatu yang Anda lakukan, jangan menunggu sampai Anda memiliki kata-kata yang tepat untuk diucapkan, atau sampai hati Anda siap. Datanglah segera pada Tuhan. Dia ingin mendengar dari Anda di setiap langkah perjalanan, bahkan sebelum Anda benar-benar menyesal. Tuhan tidak memerlukan penampilan yang dipoles—Dia ingin mengasihi Anda. Diri Anda yang sebenarnya.