Kehidupan Lain Yang Lebih Besar, Lebih Kuat, Lebih Tenang
(Katelyn Dixon)
Membangun relasi dengan Tuhan yang melampaui produktivitas—dan penghakiman
Seminggu sebelum Paskah, saya merencanakan retret sendirian selama 48 jam di sebuah pondok kecil yang menghadap ke Puget Sound di Washington. Saya kelelahan setelah musim melayani di berbagai pelayanan—hal-hal baik yang telah menghabiskan waktu dan tenaga saya—dan saya masih ada sesi berbicara untuk membagikan kesaksian saya kepada sekelompok wanita. Acara itu tinggal beberapa minggu lagi, namun saya merasa tak punya apa-apa untuk dibagikan.
Saya baru melakukan retret sendirian sebanyak dua kali dalam kehidupan saya sebagai orang dewasa dan, jujur saja, kedua acara itu membuat frustrasi, setidaknya pada awalnya. Merencanakan, mengemas cukup makanan, membawa buku-buku sendiri, perlengkapan tidur, pakaian—semua persiapan—membutuhkan banyak sekali usaha. Jadi ketika saya tiba di lokasi retret pada musim semi itu, saya seperti ambruk tak berdaya dengan barang bawaan saya, melihat ke sekeliling dan berpikir, Sekarang apa? Aku di sini, Tuhan. Apa yang akan Kaukatakan padaku?
Lalu keheningan menyelimuti. Bagaimana jika aku salah mendengar? Saya bertanya-tanya. Bagaimana jika Tuhan tak mengundangku keluar dari kehidupanku yang sibuk untuk menghabiskan waktu bersama-Nya? Bukankah seharusnya aku sibuk melakukan sesuatu saja? Meluangkan waktu dua hari untuk bersama Tuhan tampaknya hanya pengorbanan kecil bagi sebagian orang, tetapi saya khawatir saya hanya membuang-buang waktu saja jika tak ada hasil yang jelas dari hal itu. Apakah orang akan menganggapku bodoh, menyia-nyiakan waktu dan uang?
Saya lebih mengkhawatirkan bagaimana orang akan memandang “kemewahan” ini daripada pandangan Tuhan, dan saat itulah saya tahu, saya perlu menata ulang diri saya. Saya mematikan ponsel, berjalan menyusuri tepi sungai, dan mulai menarik napas lebih dalam. Irama napas saya menjadi ungkapan doa yang meneduhkan hati dan pikiran saya yang gelisah. Begitu saya berhenti berusaha mengendalikan retret itu, ketenangan terasa lebih alami, dan keheningan menyingkapkan kehadiran Tuhan.
Inilah yang saya temukan selama 48 jam berikutnya: Tak ada yang lebih baik—atau lebih menakutkan—daripada menghabiskan waktu bersama Tuhan. Dalam keheningan dan refleksi, hal-hal yang tak menyenangkan cenderung muncul ke permukaan. Hambatan-hambatan seperti dosa yang belum dibereskan, keraguan, kemarahan yang belum terselesaikan, dan luka-luka yang belum sembuh yang saya tekan atau abaikan mendapat kesempatan untuk menampakkan diri. Sungguh menakutkan juga untuk berpikir bahwa kemungkinan tidak terjadi apa-apa—bahwa Tuhan benar-benar tidak berbicara secara nyata. Namun pada akhirnya, retret itu lebih baik dari yang saya pikirkan: saya diingatkan bahwa Tuhan itu hidup dan hadir dalam hidup saya betapa pun produktifnya perasaan saya.
Setelah kembali ke rumah, saya berjuang untuk menghidupi kebenaran itu. Dalam buku Mere Christianity, C. S. Lewis menjelaskan peperangan yang sering dimulai pada saat kita bangun tidur: Semua keinginan dan harapan Anda hari itu menyerbu seperti binatang buas. Dan tugas pertama setiap pagi hanyalah menekan semuanya lagi; mendengarkan suara lain, memakai sudut pandang lain, membiarkan kehidupan lain yang lebih besar, lebih kuat, lebih tenang mengalir masuk.
Namun satu kebenaran terus melekat pada saya sejak waktu yang dihabiskan untuk “mendengarkan suara lain itu” di rumah kecil saya di tepi teluk: anugerah sesungguhnya dari sebuah retret bukanlah pergi ke tempat lain (meskipun tempat dan irama yang berbeda dapat sangat membantu penyegaran rohani). Berkat sesungguhnya dari retret adalah menyelaraskan diri dengan kehadiran Tuhan yang sudah ada di sana, yang selalu menyertai kita. Ini soal meredam kebisingan untuk mendengar suara Tuhan. Dan ini dapat dilakukan di mana saja—di jalur kendaraan berpenumpang banyak, di tempat kerja, di meja dapur, atau di ranjang orang sakit.
Namun, saya bertanya-tanya, berapa banyak dari kita yang memandang kehidupan sehari-hari kita tidak “cukup sakral” untuk menerima kehadiran Ilahi. Saya cenderung hidup seolah-olah Tuhan lebih hadir di gereja daripada di lorong-lorong toko kelontong. Bagaimana Tuhan dapat ditemukan di tengah tumpukan piring kotor dan kotak surat masuk yang terus bertambah menunggu balasan?
“Sesungguhnya,” kata Yakub setelah bermimpi tentang tangga yang menghubungkan surga ke bumi, “TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya” (Kejadian 28:16). Di manakah “tempat ini” yang dimaksud Yakub? Di tengah ladang (yang mungkin berlumpur), di samping sebuah batu besar. Cukup biasa. Bagaimana jika tempat-tempat biasa dan sederhana dalam hidup kita itulah yang paling menjadi ruang untuk terjadinya hal-hal luar biasa?
Saya teringat pada Maria, saudara Marta, yang memilih duduk di lantai rumahnya di kaki Yesus, sementara Marta yang frustrasi sibuk melayani tamu-tamu mereka. Maria rela dihakimi dan disalah mengerti karena kehadiran Tuhan sangat berharga baginya. Tindakannya menunjukkan pada Yesus dan semua orang yang menyaksikan: Tuhan ada di tempat ini. Apakah cara saya menghabiskan waktu menunjukkan hal yang sama? Ada hari-hari ketika saya tidak begitu yakin. Tetapi bisa jadi “pemborosan” waktu Maria saat ia berlatih duduk di kaki Yesus menyiapkannya untuk melakukan “pemborosan” yang lebih besar, yaitu menuangkan minyak wangi seharga seluruh upah dalam setahun di kaki Yesus. Saya juga disadarkan bahwa yang dianggap “pemborosan” oleh murid-murid-Nya justru disebut Yesus sebagai “hal yang indah” (Matius 26:8, 10). Dia bahkan mengatakan bahwa di mana pun Injil diberitakan, kesaksian Maria tentang pengorbanan yang penuh penyembahan ini juga akan disebutkan (Matius 26:13). Mungkinkah beberapa menit atau jam yang kita persembahkan kepada Tuhan juga menyiapkan kita untuk penyembahan besar—hal yang disebut indah oleh Bapa kita?
Saya selalu merasa kekurangan waktu setiap hari, dan saya ragu untuk meluangkan waktu bersama Tuhan karena hal itu sangat terasa tidak terukur. Ini jelas bukan sekadar kewajiban yang bisa dicentang dari daftar tugas. Tetapi akhir-akhir ini saya mulai menyadari bahwa bersekutu dengan Tuhan di tempat ini—di mana pun saya berada—adalah tindakan pembangkangan terhadap kecenderungan dunia (dan kecenderungan saya sendiri) untuk memprioritaskan produktivitas. Bahkan hanya lima menit bersama Tuhan di pagi hari dapat menancapkan tonggak yang mengingatkan roh saya akan kesetiaan saya pada Kristus.
Memberikan waktu kita kepada Tuhan itu sebuah risiko. Terkadang persekutuan kita dengan Tuhan seperti tak menghasilkan apa-apa, dan kita bertanya-tanya mengapa kita harus menyisihkan waktu untuk itu. Tetapi saya berpikir waktu-waktu itu pun baik, karena tak ada satu pun—tak satu pun tindakan penyembahan, air mata kecewa, atau ungkapan doa—yang sia-sia di mata Tuhan.
