Dapatkah Kita Tertawa Gembira Bersama Tuhan?

(Pendalaman Alkitab Staf In Touch Ministries)

Apakah Tuhan tertawa? Dan jika ya, dapatkah kita tertawa bersama-Nya? Jawaban spontan kita mungkin “Tidak”. Karena Alkitab menyatakan Tuhan itu kudus dan layak menerima segala hormat, kita mungkin berasumsi respons yang tepat adalah penyembahan yang penuh hormat, bukan kegembiraan. Tetapi Dia juga memerintahkan kita untuk bersukacita. Ternyata, ada cukup banyak tawa di Alkitab, dan Bapa kemungkinan senang mendengar lebih banyak tawa dari anak-anak-Nya.

LATAR BELAKANG

Seringkali, ketika menggambarkan pengaruh Tuhan, para pemazmur pada hakikatnya berkata, Kami sangat putus asa namun kemudian kami mengingat penyertaan dan pekerjaan Tuhan dalam hidup kami. Sekarang kami sangat bersukacita sampai tak bisa berhenti menari dan memuji!

BACA

Mazmur 30:1-12

RENUNGKAN

Menyanyi dan menari dengan gembira tanpa tertawa adalah hal yang janggal. Tuhan mau kehadiran-Nya dalam hidup kita mendatangkan sukacita.

  • Di sepanjang Kitab Suci, kita melihat Tuhan bekerja memulihkan dan membebaskan umat-Nya. Di Mazmur 30, Daud mengakui hal ini: Ketika berada dalam lembah kekelaman, ia diangkat; ratapannya diubah menjadi tarian, dan kain kabungnya ditanggalkan, dan “ia berikatpinggangkan sukacita” (ayat 11). Kapan Anda mengalami pembalikan keadaan dari menangis menjadi sukacita? Jelaskan pengalaman pembalikan perasaan-perasaan yang bertolak belakang itu.
  • Tentu saja tidak hanya ada satu jenis tertawa. Alkitab menunjukkan ada tawa yang negatif, seperti tertawa yang mengolok-olok Tuhan atau pengikut-Nya, atau kegembiraan atas kemenangan-kemenangan yang tidak adil (Nehemia 2:19). Tetapi di sini pun, pembalikan bisa terjadi. Sara tertawa karena ia tidak percaya ia bisa hamil di usianya yang sudah sangat lanjut (Kejadian 18:12), tetapi beberapa bulan kemudian ia tertawa lagi—kali ini dengan gembira—ketika anaknya lahir (Kejadian 21:6). Hal-hal apa saja yang bisa membuat tawa yang negatif menjadi positif?
  • Proses pertumbuhan pemazmur dari menderita menjadi memuji bergema di kitab Pengkotbah, yang mengakui bahwa hidup ini meliputi saat-saat untuk menangis dan berduka maupun saat-saat untuk tertawa dan bersukacita (Pengkotbah 3:4). Bahkan, tawa dan kesedihan dapat terjadi pada waktu bersamaan. Jika hal itu terjadi pada Anda, apa yang Anda pelajari dari pengalaman yang tampaknya bertolak belakang itu?

MELANJUTKAN CERITA

Dengan mengambil rupa sebagai manusia Yesus datang ke bumi, bukan untuk menghukum dunia tetapi untuk  menyelamatkannya – dan membawa sukacita besar.

  • Perhatikan berita-berita kelahiran Yesus yang tertulis dalam kitab-kitab Injil. Maria yang baru saja mengandung melantunkan puji-pujian, kata-katanya mengingatkan pada mazmur-mazmur yang memuji Tuhan karena telah mengubah masa-masa sulit menjadi indah (Lukas 1:46-55). Para malaikat berkata kepada para gembala bahwa kelahiran Yesus adalah berita kesukaan besar bagi seluruh bangsa (Lukas 2:10). Dan setelah melihat bintang itu, orang-orang Majus “sangat bersukacita” (Matius 2:10). Ingatlah saat Anda menerima berita yang indah. Bagaimana respons Anda? Apa yang diajarkan momen sukacita itu pada Anda tentang Tuhan?
  • Cerita-cerita dalam Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan tidak ingin menakut-nakuti kita supaya taat. Kerinduan-Nya adalah memberkati kita dengan keselamatan dan kehadiran-Nya – dan mendengar respons yang penuh sukacita. Apa yang menggerakkan Anda memuji Tuhan dengan antusias? Bagaimana Anda bisa menghadirkan lebih banyak pujian dalam peristiwa sehari-hari?
  • Yesus dan para penulis surat di Alkitab mendorong kita untuk bersukacita meskipun dalam kesusahan (Matius 5:11-12; Yakobus 1:2), karena mereka tahu Tuhan selalu hadir dan bekerja dalam segala situasi. Apa yang Anda pelajari dari masa-masa susah yang di dalamnya Tuhan menjumpai Anda?

REFLEKSI

Dalam kekudusan-Nya, Tuhan mau kita menyembah dengan sepenuh hati —yang kadang juga diungkapkan dengan tertawa atau tarian penuh sukacita yang meluap-luap.

Ketika hidup diliputi saat-saat menderita, kehilangan dan kedukaan, kita dapat dan harus menyembah dengan penuh hormat maupun dengan ratapan. Tuhan selalu menjumpai kita, menuntun kita kepada penebusan dan berkat-Nya. Sekalipun kita tidak memiliki kekuatan untuk tertawa bersama-Nya hari ini, kita dapat percaya bahwa suatu hari kelak kita akan dipenuhi sukacita dalam hadirat-Nya.