Biarkan Tuhan Mengubah Pikiranmu
(Amy Simpson)
Kekhawatiran itu terjadi di pikiran Anda, dan Anda dapat melakukan sesuatu tentang hal itu.
Ada saatnya ketika saya hampir tak berdaya mengatasi emosi-emosi saya sendiri. Dibesarkan dalam keluarga yang dikacaukan oleh gangguan mental (schizophrenia) ibu saya, saya belajar untuk menutupi perasaan-perasaan saya dengan baik—satu-satunya cara mengatasi yang saya tahu. Ketika hal buruk terjadi atau saya mendapat masukan negatif, saya langsung terjerembab ke dalam keputusasaan, depresi dan kadang mengasihani-diri. Sungguh heran betapa cepat saya merosot dari keadaan baik-baik saja menjadi amat sangat benar-benar tidak baik.
Segala sesuatu berubah. Saya berubah. Seorang konselor Kristen membantu saya memahami kekuatan “distorsi-distorsi kognitif” saya – pesan-pesan negatif dan salah yang biasa saya kirimkan kepada diri saya sendiri. Saya biasa berkata, Kamu pecundang. Kamu selalu bikin kacau. Kamu tak berharga. Kadang saya bahkan tidak mengucapkan pesan-pesan ini, saya langsung saja mengarahkan kebencian itu kepada diri saya. Saya tidak sadar kalau saya telah memperlakukan jiwa saya sendiri dengan buruk. Dan karena saya terlalu sering mengirim pesan-pesan ini kepada diri saya sendiri, jiwa saya percaya kalau semua itu benar.
Sekarang roh saya memercayai hal yang berbeda. Saya mulai mengirim pesan-pesan yang berdasarkan kebenaran Alkitab kepada diri saya. Saya juga mulai lebih banyak membaca Alkitab, mengambil risiko terjun ke dalam persekutuan Kristen, dan berusaha membangun persahabatan-persahabatan yang suportif. Saya bisa melihat bahwa pesan-pesan yang lama itu salah, dan ketika terlintas lagi di pikiran, saya bisa mengenalinya dan mengatakan pesan yang benar kepada diri saya: Aku punya tujuan. Aku anak yang dikasihi Tuhan. Tuhanku jauh lebih mampu dari aku, dan Dia mengasihiku.
Perubahan dalam cara saya berbicara kepada diri sendiri ini tidak hanya memengaruhi pikiran saya, tetapi juga mengubah seluruh hidup saya. Saya menjadi tidak terlalu mudah depresi, saya lebih merasa damai, dan saya punya lebih banyak kasih untuk diberikan kepada orang lain. Saya juga melihat perubahan lain: saya tidak sekhawatir sebelumnya. Ketika saya mulai khawatir, saya mengingatkan diri saya bahwa Tuhan telah mengubah saya menjadi pribadi yang baru dengan mengubah pikiran saya.
Roma 12:2 adalah ayat yang biasa dikutip, tetapi kita sering hanya berfokus pada bagian tidak dibentuk (menjadi serupa dengan) dunia, bukan mengalami perubahan secara total. Kita tidak memberi cukup perhatian pada transformasi yang terjadi melalui pembaruan pikiran ini. Ini bukan hanya tentang jiwa atau hati yang berubah, tetapi seperti tertulis dalam terjemahan Alkitab versi New Living Translation (NLT), ini tentang membiarkan Tuhan “mengubah Anda menjadi manusia baru dengan mengubah cara berpikir Anda.” Ilmu pengetahuan baru sekarang ini mulai memerhatikan ajaran Kitab Suci yang menunjukkan pada kita apa yang mungkin terjadi melalui Yesus Kristus.
Kisah saya hanyalah satu dari banyak kisah yang menunjukkan efektivitas terapi kognitif-perilaku (CBT – cognitive-behavioral therapy). Menurut Asosiasi Terapis Kognitif-Perilaku Nasional, bentuk konseling ini “didasarkan pada pemikiran bahwa perasaan dan perilaku kita disebabkan oleh pikiran kita, bukan hal-hal eksternal seperti orang lain, situasi atau peristiwa. Manfaat kenyataan ini adalah kita bisa mengubah cara berpikir kita untuk merasa/bertindak lebih baik meskipun situasinya tidak berubah.” Alih-alih hidup dikendalikan oleh kekuatan dari luar, kita punya pilihan. Dan cara paling efektif untuk mengubah perilaku dan pola emosi kebiasaan kita adalah dengan membiarkan Tuhan mengubah cara berpikir kita. Ilmu pengetahuan fisik yang kuat, meskipun masih berkembang, juga mendukung hal ini. Riset telah mengubah pandangan kita tentang kemampuan otak untuk berubah melalui neuroplastisitas. Ternyata otak kita juga masih bisa dibentuk jauh setelah masa kanak-kanak; otak dapat dan bisa berkembang seumur hidup kita.
“Plastisitas otak adalah proses fisik,” kata Dr. Michael Merzenich, ahli saraf terkenal dan pakar plastisitas otak. “Bagian otak kita benar-benar bisa menyusut atau menebal, koneksi-koneksi saraf bisa dibentuk dan disempurnakan atau (sebaliknya) dilemahkan dan diputus. Perubahan pada otak fisik akan terlihat sebagai perubahan pada kemampuan-kemampuan kita. Orang sering menganggap masa kanak-kanak dan dewasa muda sebagai masa pertumbuhan otak… padahal yang ditunjukkan hasil riset terbaru, dalam situasi-situasi yang tepat, otak orang yang lebih tua pun bisa bertumbuh.”
Berkat neuroplastisitas, mengubah pikiran (serta perilaku dan pengalaman) membuat kita membentuk koneksi-koneksi sinaps yang baru, menguatkan yang sudah ada, dan melemahkan yang lain. Koneksi-koneksi baru yang berubah ini menghasilkan perubahan-perubahan pada perilaku kita. Dalam bukunya Soft-Wired, Dr. Merzenich menulis, “Ketika suatu keterampilan dikembangkan (seperti bersiul, berputar dengan satu kaki seperti penari balet, atau mengenali kicauan burung), jalur-jalur saraf tertentu yang membuat keterampilan baru ini berhasil dilakukan menjadi lebih kuat, lebih cepat, lebih andal, dan jauh lebih spesifik—terspesialisasi —untuk tugas yang dilakukan itu.” Hal ini berlaku untuk kebiasaan khawatir dan juga hal-hal lainnya.
Khawatir itu Masalah
Kebanyakan dari kita membutuhkan perubahan ini. Dalam survei yang diadakan Asosiasi Psikolog Amerika tahun 2010, 40% responden mengatakan bahwa pada bulan sebelumnya stres telah menyebabkan mereka makan berlebihan atau mengonsumsi makanan-makanan yang tidak sehat. Hampir sepertiga mengatakan, mereka tidak makan karena stres, dan lebih dari 25% mengatakan, mereka tidak bisa tidur. Survei lain menemukan bahwa lebih dari 60% pekerja Amerika khawatir akan kehilangan pekerjaan, dan 32% sangat khawatir tentang hal itu. Para orangtua pada umumnya khawatir tentang anak-anak mereka, dan kekhawatiran besar dimulai ketika anak-anak masih kecil. Kekhawatiran bukan hanya hal yang umum di masyarakat kita, tetapi juga sudah menyatu dengan budaya kita—sesuatu yang diharapkan dari orang yang bertanggung jawab, atau suatu “aksesori” yang dianggap keren, yang jika tidak ada justru menimbulkan kecurigaan.
Kita sering merancukan kekhawatiran dengan dua keadaan pikiran lainnya: ketakutan dan kecemasan. Ketiganya cenderung digunakan secara bergantian, tetapi sebenarnya berbeda. Rasa takut dan cemas itu wajar, sehat dan merupakan kemampuan produktif yang diberikan Tuhan—tetapi perasaan-perasaan itu tidak dimaksudkan untuk menjadi keadaan yang menetap. Ketakutan adalah respons terhadap ancaman langsung (yang nyata atau dapat dirasakan). Kecemasan biasanya muncul sebagai antisipasi terhadap hal yang akan atau mungkin terjadi. Tidak seperti kecemasan yang wajar, kekhawatiran bukanlah reaksi tubuh yang terjadi dengan sendirinya, tetapi pola yang kita pilih. Berasal dari dalam diri, kekhawatiran adalah keputusan yang kita buat untuk tetap berada dalam keadaan cemas, yang dirancang untuk melindungi kita dari bahaya langsung, bukan untuk membantu kita melalui kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian orang, tetap berada dalam keadaan cemas bukanlah pilihan, melainkan gangguan yang terjadi ketika proses biologis tubuh yang sehat dan bermanfaat bekerja terlalu keras. Gangguan kecemasan pada dasarnya adalah hal baik yang berlebihan, yang menyerang 29% dari kita pada suatu ketika. Ini sangat berbeda dari kekhawatiran yang disengaja, yang membutuhkan terapi obat, konseling, atau keduanya.
Bagi siapa saja yang tergoda untuk khawatir (maupun yang tidak?), budaya kita memberikan banyak kesempatan. Tetapi pengikut Kristus dipanggil untuk hidup dan berpikir secara berbeda dari dunia sekitar kita yang penuh kekhawatiran. Kekhawatiran yang disengaja sangat bertentangan dengan cara hidup yang diperintahkan Tuhan kepada umat-Nya. Jika kita tidak hati-hati, kekhawatiran bisa menyeret kita ke dalam perilaku berdosa. Itu sebabnya Yesus berkata: “Janganlah khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Pesan yang sama ini berlaku di seluruh Alkitab, menekankan gaya hidup beriman dan percaya yang bertentangan dengan budaya dari kitab Kejadian sampai Wahyu.
Kekhawatiran dapat merusak tubuh dan pikiran kita. Rasa khawatir bisa menimbulkan sesak napas; jantung berdebar; nyeri dan cedera di punggung, leher, dan bahu; ketegangan otot; mual; sakit kepala; dan permasalahan fisik lainnya. Dalam buku The God-Shaped Brain, psikiater Kristen Timothy R. Jennings menjelaskan akibat kekhawatiran yang terus-menerus pada otak kita. Ketika kita menghabiskan makin banyak waktu dalam keadaan cemas, takut, dan khawatir, sel-sel saraf kita tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dan kita tidak banyak menghasilkan sel-sel saraf baru yang sehat.
Kerusakan yang terjadi tidak hanya terbatas pada tubuh kita. Relasi-relasi kita dengan orang lain juga terdampak. Dan seperti semua pola dosa, kekhawatiran menjadi penghalang dalam relasi kita dengan Tuhan. Kekhawatiran membuat kita hanya berfokus pada diri sendiri, agenda kita, masalah-masalah kita. Kekhawatiran membuat kita terus mengawasi masa depan, yang merupakan wilayah Tuhan, dan bersandar pada orang dan harta benda yang merupakan milik-Nya. Itu sebabnya mengatasi kekhawatiran harus meliputi transformasi rohani. Kekhawatiran yang disengaja pada akhirnya tidak dapat diatasi dengan kemauan keras saja—solusinya sepenuhnya berakar pada siapa Tuhan.
Solusinya: Iman
Dalam buku How God Changes Your Brain, Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman memanfaatkan neuroscience (ilmu saraf) untuk menegakkan konsep yang mengejutkan ini: Kepercayaan pada Tuhan—dan aktivitas keagamaan itu sendiri—mengubah otak kita secara fisik. “Iman menetralisir kecemasan dan ketakutan kita, dan bahkan bisa menetralisir keyakinan seseorang tentang Tuhan yang pemarah,” tulis mereka. “Keindahan dalam kisah Ayub adalah kisah itu mengingatkan orang percaya yang menderita bahwa Tuhan pada akhirnya berbelas kasihan. Dan dari sudut pandang kedokteran dan ilmu saraf, belas kasihan dapat menyembuhkan tubuh maupun jiwa.”
Penemuan neuroplastisitas merupakan peneguhan yang mengejutkan tentang iman Kristen yang membiarkan Tuhan mengubah kita melalui pembaharuan pikiran. Penemuan ini juga meneguhkan tentang kekuatan perubahan kognitif. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,” kata Amsal, “karena dari sanalah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Yesus sendiri berbicara tentang sumber perilaku kita yang sebenarnya: “Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang ke jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati, dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, kesaksian palsu dan hujat. Hal-hal inilah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang” (Matius 15:17-20).
Demikian juga, Paulus berkata kepada jemaat di Roma, “Sebab mereka yang hidup menurut tabiat daging memikirkan hal-hal yang dari keinginan daging. Mereka yang hidup menurut Roh memikirkan hal-hal yang dari Roh. Sebab keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Roma 8:5-6).
Tidak ada teknik terapi yang dapat mengubah kita seperti yang dilakukan Roh Kudus. Mengakui bahwa perubahan neurologis terjadi bersamaan dengan perubahan keyakinan tidak mengurangi misteri atau kedahsyatan karya Tuhan dalam diri kita. Tetapi kita punya pilihan—kita dapat menerima karya transformasi ini, atau kita juga dapat menolaknya. Tuhan yang penuh rakhmat memberi kita kebebasan untuk percaya.
Mengubah kekhawatiran berarti mengubah yang kita percayai tentang Tuhan dan diri kita sendiri. Jika kita tidak percaya Tuhan itu lebih besar atau lebih baik dari kita, kita punya alasan untuk khawatir. Tetapi jika kita percaya Dia mahakuasa, dapat dipercaya, adil, dan baik, sudah sewajarnya jika kita tidak menyia-nyiakan hidup kita dalam kekhawatiran, tetapi percaya dan menerima yang kita tahu benar tentang Tuhan dan diri kita sebagai anak-anak-Nya.
