Bertumbuh Dalam Firman Tuhan

Tuhan (James Cain)

Bagaimana Alkitab menunjukkan kedalamannya sepanjang hidup

Ketika saya menonton film saat masih kecil, saya selalu menempatkan diri di posisi tokoh yang usianya paling dekat dengan saya. Saya ingat saat pergi ke bioskop dan menonton film E.T. the Extra-Terrestrial dengan mata terbelalak keheranan. Hidup dalam peristiwa itu dan terpukau oleh keajaiban penemuan, saya merasa seperti menjadi salah satu anak dalam film tersebut. Petualangan mereka adalah petualangan saya.

Namun, ketika saya menonton film E.T. lagi sebagai orang dewasa, saya menyadari bahwa para orangtua, yang dulu terkesan sebagai sampingan saja dari cerita itu, kini menjadi sangat penting. Perjuangan dan tanggung jawab mereka, yang tidak saya sadari ketika saya masih kecil, menarik perhatian saya. Saya merasa seperti  menonton film yang sama sekali berbeda.

Saya mengalami hal serupa saat membaca ulang buku-buku. Ketika pertama kali membaca novel Wendell Berry, Andy Catlett: Early Travels, saya menikmatinya karena bahasa Berry yang puitis dan caranya menggambarkan kehidupan pedesaan. Namun, ketika saya membacanya lagi bertahun-tahun kemudian, saya mendapati diri saya meratapi kehilangan-kehilangan saya sendiri bersama Andy—khususnya rumah nenek saya dan nenek itu sendiri. Saat masih kecil, saya pernah tinggal bersama nenek selama beberapa waktu, dan ketika saya membaca ulang, adegan-adegan dari kehidupan yang tenang bersama nenek muncul di benak saya: berjalan kaki ke sekolah dan naik bus ke gereja; menangkap kunang-kunang di malam-malam musim panas sementara nenek mengawasi dari beranda belakang; dan yang terpenting, mendengarkan cerita-ceritanya saat kami duduk di kursi taman sampai malam tiba. Caranya bercerita itulah, yang membuat orang-orang tidak hanya sekadar nama, yang mendorong saya ingin menjadi penulis. Sekarang, setelah nenek tiada, novel Berry menjadi cermin yang  memantulkan siapa saya dulu dan siapa saya sekarang secara bersamaan.

Tetapi realitanya, film-film dan buku-buku itu tidak berubah sama sekali—sayalah yang berubah. Peristiwa-peristiwa dan relasi-relasi yang saya alami telah mengubah saya luar dalam, memberi saya lingkar-lingkar pertumbuhan seperti tunggul pohon. Lapisan-lapisan ini mengubah secara mendasar cara saya menghadapi dunia. Dan ketika saya kembali kepada yang dulu terasa familiar, saya kini mendapati kesan yang sama sekali tak terduga.

Membaca Alkitab dengan perspektif baru

Perjumpaan-kembali paling mendalam yang saya alami barangkali adalah dengan Kitab Suci. Saat bertumbuh-kembang, saya membaca Alkitab hampir seperti buku teks, dengan semangat seorang siswa yang berusaha memahami, mempelajari, dan menerapkan pelajaran-pelajarannya. Saya mengidentikkan diri dengan tokoh-tokoh seperti Yohanes Markus dan Timotius, murid-murid muda yang dibimbing oleh Paulus. Surat-surat rasul itu kepada Timotius tampaknya benar-benar merupakan bimbingan bijak yang dibutuhkan orang seperti saya.

Namun seiring berjalannya waktu, saya mendapati hati dan hidup saya makin mendekati Paulus. Dari perkataannya—khususnya mengenai kerinduan dan kemendesakan untuk meneruskan hikmat sebelum waktu berakhir—saya melihat keseriusannya, tanggung jawab yang dirasakannya untuk memperlengkapi Timotius dengan segala yang dibutuhkan untuk terus hidup dan mengasihi. Perspektif ini tidak dapat saya pahami sepenuhnya ketika saya masih sebagai pembaca muda.

Lalu, ada ayat-ayat dari Mazmur 23, mazmur pertama yang saya pelajari. Mazmur ini menghibur saya ketika saya masih kecil: Gembala yang baik mengasihi saya. Sebagai orang dewasa, saya masih merasa nyaman, tetapi saya juga mendengar perintah untuk meneladani kasih gembala itu kepada orang lain (Mazmur 23:1-6).

Perubahan perspektif ini, yang seperti memutar berlian untuk menangkap cahaya dari sudut lain, telah memperdalam apresiasi saya terhadap sifat Alkitab yang hidup. Firman Tuhan berbicara pada kita dengan cara yang berbeda pada waktu yang berbeda dalam hidup kita, memberikan wawasan-wawasan baru sepanjang kita bertumbuh. Keindahannya terletak pada kesadaran bahwa interpretasi-interpretasi yang terus berkembang ini bukanlah pertentangan, tetapi lapisan-lapisan makna yang menambah kekayaan iman saya dan mengokohkan saya “seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air” (Mazmur 1:3).

Ketika saya melihat ke belakang, saya terpukau menyadari bahwa berbagai perspektif saya ternyata saling terkait. Setiap perjumpaan-kembali seperti benang yang menambah ukuran dan tekstur permadani kehidupan saya—permadani yang ditenun dengan kenangan, pertumbuhan, dan penemuan. Ketika saya membaca kembali sebuah novel, puisi, atau ayat Alkitab, saya membawa serta semua yang telah saya peroleh—dan hilangkan—sepanjang jalan. Dan Tuhan, Sang Penenun Agung, bahkan merangkai hal-hal yang tampaknya tak saling berhubungan menjadi gambar yang tak akan dapat saya lihat tanpa sudut pandang yang bertahun-tahun itu. Seperti dikatakan Frodo kepada temannya Sam dalam The Lord of the Rings, orang-orang dalam cerita biasanya tidak mengetahui tentang akhirnya—tetapi mereka terus berjalan dan belajar di sepanjang jalan.

Terkadang saya tergoda untuk merindukan kepolosan diri saya semasa kecil, berharap bisa mengalami berbagai hal dengan rasa takjub yang murni lagi seperti yang saya alami dulu. Tetapi semakin lama, saya semakin menghargai kompleksitas yang kita peroleh seiring waktu. Kembali kepada hal yang disukai membuat saya melihat seberapa jauh saya telah melangkah, menyadari betapa pengalaman-pengalaman telah membentuk saya. Ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan terus berlangsung dan setiap tahap kehidupan membawa hikmatnya sendiri. Bahwa perjalanan kita bukanlah tentang mencapai tujuan, tetapi tentang menerima proses, bekas luka dan lain-lain.

Menjumpai-kembali masa lalu telah mengubah cara pandang saya tentang Tuhan yang bekerja dalam hidup saya—bahkan hari ini. Saat ini saya sedang bersiap memasuki pekerjaan baru, meninggalkan satu tempat ke tempat lain, dan saya tahu bahwa pada akhirnya saya akan kembali mengingat pengalaman-pengalaman ini. Suatu kisah yang lain akan membantu saya melihat fase ini sebagai bagian dari permadani yang lebih besar yang akan menjadi kehidupan saya. Dan sementara itu, saya diingatkan untuk menikmati masa kini—untuk melihat keindahan dan keajaiban dalam kehidupan sehari-hari yang biasa, sama seperti yang saya lakukan ketika saya menonton film E.T. di masa kecil.

Cerita-cerita yang kita sukai, puisi-puisi yang menyentuh kita, ayat-ayat Alkitab yang membentuk kita—semua ini tetap tidak berubah. Tetapi kita membawanya bersama kita, dan persepsi kita bertumbuh seiring waktu, memberi makna baru seiring perkembangan kita. Tidak terbatas cara Tuhan menyatakan hikmat-Nya pada kita.

Saya mulai melihat bekas-bekas luka dan lingkar-lingkar pertumbuhan saya sebagai bukti kesetiaan Tuhan, yang menuntun saya melalui masa suka dan duka. Dari waktu ke waktu, Dia telah memberi saya gambaran yang lebih utuh dan kaya tentang siapa saya di dalam Dia. Saya berharap saya terus mengundang Tuhan berbicara kepada diri saya yang sekarang, bahkan ketika saya diingatkan tentang diri saya yang dahulu—dan Dia menuntun saya kepada diri saya yang akan datang.