Bagaimana Mengasihi “Enemy” Dan Juga “Frenemy”

(Chad Thomas Johnston)

Panduan Sentuhan Hati untuk Kehidupan Rohani Yang Lebih Baik

Ketika kita memikirkan perintah Kristus untuk mengasihi musuh (Matius 5:44), pikiran kita akan tertuju pada para perundung, penjahat, teroris, dan pembuat keonaran lainnya — orang-orang yang sangat tepat dikategorikan sebagai “enemy” (musuh). Tetapi pandangan hitam-putih ini tidak mencakup orang-orang yang kita hadapi sebagai teman, tetapi juga musuh. Anda tahu tipe orang seperti itu—orang yang kita sayangi, tetapi juga yang membuat kita kesal. Anda bisa menyebut orang seperti itu sebagai  “frenemy” (teman tapi musuh).

Frenemy bisa jadi adalah seorang rekan kerja yang iri dengan prestasi Anda, atau teman sekelas Anda yang kadang baik namun kadang bersikap kasar terhadap Anda. Frenemy bahkan bisa jadi adalah orang tua yang tidak sudi menerima pasangan atau pekerjaan Anda.

Relasi-relasi “teman tapi musuh” ini terjadi akibat berbagai faktor, yang di antaranya adalah kepribadian yang berbeda, rasa tidak aman yang mengakar, atau keterbatasan pribadi. Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa hidup di dunia yang sudah jatuh ini berarti relasi-relasi kita juga akan dipengaruhi oleh kecenderungan-kecenderungan berdosa kita. Ini artinya kita membutuhkan pertolongan Tuhan dalam hal mengasihi musuh/enemy maupun frenemy. Jika kita membiarkan orang-orang yang membuat kita kesal ini mendesak kita untuk berlutut dalam doa, kita dapat meminta Yesus bekerja dalam relasi kita dengan mereka—dan, yang lebih penting, dalam hati kita.

Kami membuat panduan ini untuk membantu Anda mengarungi relasi yang tegang. Entah Anda menghadapi tipe musuh stereotip atau tidak, Anda akan menemukan saran-saran praktis untuk membantu Anda melangkah ke dalam situasi yang lebih baik. Relasi-relasi yang sulit mungkin tak pernah “teratasi,” tetapi kami berharap Anda merasa diperlengkapi untuk menyikapinya secara berbeda—meskipun itu hanya satu langkah menuju anugerah.

Pikirkan peran Anda dalam relasi itu.

Langkah pertama dalam mengasihi frenemy atau “teman tapi musuh” adalah mengakui hal yang membuat tidak nyaman: Bagaimana jika aku ini bagian dari masalah? Tak ada seorang pun dari kita yang sempurna, yang berarti, selalu ada hal yang bisa menjadi tanggung jawab kita dalam relasi itu. Mungkin itu kesalahan sekasar kata-kata penghinaan, atau sehalus hati yang cemburu, atau semendalam luka-luka masa kecil. Tetapi, tujuan melihat ke dalam diri bukanlah untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi untuk melapangkan hati kita. Ketika kita memikirkan tindakan-tindakan dan sikap-sikap kita sendiri, kita akan diingatkan betapa kita sangat membutuhkan anugerah—sama seperti frenemy kita. Melihat diri sendiri dengan jujur ​​memungkinkan kita untuk melihat orang lain dengan lebih jelas juga.

Ada banyak cara untuk memikirkan hati kita sendiri, tetapi berikut ini ada dua ide untuk memulai. Ingat, refleksi diri Anda tidak harus rumit, Anda bisa sekadar menyebutkan dosa dan kelemahan-kelemahan Anda. (Jika Anda memerlukan panduan untuk pengakuan dosa, lihat artikel “How to Confess Sin Without Beating Yourself Up” – Bagaimana Mengaku Dosa tanpa Menyalahkan Diri Sendiri).

  • Biarkan Mazmur 139:23-24 membantu Anda memasuki suasana kontemplatif/merenung. Bacalah ayat-ayat itu sebanyak Anda membutuhkannya.

Selidikilah aku ya Allah, selamilah hatiku

ujilah aku dan ketahuilah pikiran-pikiranku

lihatlah apakah jalanku serong

dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.

Kemudian, doakanlah ayat-ayat itu. Panjatkan pada Tuhan sementara Anda memikirkan peran Anda dalam relasi dengan “teman tapi musuh” itu.

  • Tanyakan pada diri Anda sendiri, Apa yang bisa menjadi tanggung jawabku dalam relasiku dengan _____?

Jika Anda mengenali ada sikap atau perilaku yang perlu diubah, mintalah hikmat dari Roh Kudus tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Anda mungkin perlu duduk diam lebih lama untuk merenung, atau Anda ingin memproses pikiran Anda dengan bersuara bersama seorang teman. Mungkin Anda ingin meminta Tuhan mengampuni, atau Anda menyadari kebutuhan untuk meminta maaf kepada orang ini. Meskipun menyampaikan permintaan maaf dan memohon pengampunan bisa terasa menakutkan, jangan berkecil hati—ini adalah pertunjukan kasih dan kerendahan hati yang mendalam, yang tak akan dilewatkan frenemy Anda.

Praktikkan cara melihat dan mengasihi frenemy Anda seperti yang dilakukan Tuhan.

Anda mungkin melihat seorang yang membuat Anda kesal, tetapi bagaimana Yesus melihat orang ini? Dia melihat seorang yang baginya Dia rela mati—orang yang sangat Dia kasihi. Tak heran jika Yesus memanggil kita untuk mengasihi musuh. Dia ingin kita melihat dan mengasihi mereka seperti Dia melihat dan mengasihi mereka. Perhatikan bagian kedua dari ayat yang sering dikutip ini: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapa yang di surga” (Matius 5:44-45).

Pikirkan sejenak: Anak-anak akan meniru orangtuanya. Kita benar-benar akan menjadi makin seperti Tuhan ketika kita meniru Yesus dengan mengasihi frenemy kita. Transformasi akan terjadi dalam diri kita. Kita akan mulai melihat “teman tapi musuh” kita dari kacamata Tuhan, kita akan menginginkan yang Tuhan inginkan bagi mereka. Dan terlebih dari itu, ketika kita memilih untuk hidup dengan cara Yesus, kita akan semakin berpartisipasi penuh dalam kehidupan-Nya.

Berikut ini ada dua cara untuk kita bisa mulai melihat yang Dia lihat:

  • Cobalah latihan visualisasi. Bayangkan musuh/enemy atau frenemy Anda berada di lingkungan tempat Anda biasanya saling berinteraksi —tempat kerja, pertemuan keluarga, acara lingkungan, dll. Bayangkan Yesus berjalan mendekatinya dan menatap matanya. Apa yang dilihat Yesus? Pikirkan kualitas, karakter, sejarah, luka-luka, dan harapan-harapan—cobalah sebutkan lima atau enam. Kemudian pikirkan semua yang Yesus lihat yang tidak Anda ketahui. Bayangkan Yesus bergerak makin dekat untuk memeluk orang itu. Mereka lalu berpelukan selama yang ia butuhkan.
  • Panjatkan doa untuk frenemy Anda—dan mulailah dari hal kecil. Sebagai contoh, “Tuhan, kasihanilah ______. Dan kasihanilah aku.” Atau. “Tuhan, kiranya ______ merasakan kehadiran-Mu hari ini.” Pikirkan untuk mengulangi perkataan itu sebagai doa singkat sebelum dan sesudah Anda berinteraksi dengan orang itu.

Ketika kita melihat musuh kita dari kacamata Yesus dan memperlakukannya seperti Dia memperlakukan, kita juga akan mengundang “teman tapi musuh” kita itu untuk diubahkan. Di Lukas 6:29, Tuhan berkata, “Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain.” Ketika kita menyerahkan hak kita untuk membalas— tindakan yang lebih menohok dari pukulan apa pun—kita dapat membuka mata frenemy kita tentang realita Tuhan yang penuh kasih, yang tidak memperlakukan kita sebagaimana seharusnya kita diperlakukan. Ketika kita hidup dengan menunjukkan bahwa Tuhan benar-benar telah membuat perbedaan dalam hidup kita, kita menunjukkan kepada  frenemy kita bahwa Dia juga dapat membuat perbedaan yang sama dalam hidupnya.

Tetapkan batasan. Bagaimanapun, Yesus juga melakukannya!

Mengasihi “teman tapi musuh” tidak berarti membuka lebar-lebar pintu kehidupan Anda tanpa memedulikan kesejahteraan Anda sendiri. Batasan itu sehat saat berhadapan dengan orang-orang yang memancing emosi negatif kita. Pikirkan satu contoh ketika Yesus menetapkan batasan. Setelah mengubah air menjadi air anggur dalam pesta perkawinan di Kana, Yesus melakukan tanda-tanda mukjizat di Yerusalem, yang membuat orang-orang yang menyaksikannya percaya kepada-Nya. “Tetapi Yesus sendiri tidak memercayakan diri-Nya kepada mereka,” tulis Kitab Suci. “Karena Ia mengenal semua manusia, dan karena tidak perlu seorang pun bersaksi kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia” (Yohanes 2:24-25). Yesus menahan sebagian dari diri-Nya karena Dia perlu melakukannya pada saat itu. Perhatikan bahwa ayat itu tidak berkata Dia tidak mengasihi orang-orang ini—ayat itu hanya berkata bahwa Dia tidak memercayakan diri-Nya kepada mereka. Dia tahu bahwa hal itu tidak akan berakhir dengan baik.

Dalam menghadapi “teman tapi musuh”, kita juga mungkin perlu menahan sebagian dari diri kita. Mengasihi frenemy kadang bisa berarti menghindari persoalan atau situasi tertentu demi menjaga kelangsungan relasi itu. Hanya Anda dan Roh Kudus yang tahu apa saja hal-hal itu.

Berikut ada beberapa pertanyaan untuk membantu Anda mulai memikirkannya:

  • Situasi-situasi apa saja yang membuat Anda merasa tidak nyaman atau terluka di masa lalu?
  • Apakah Anda perlu menghindari tempat, teman, atau topik tertentu?
  • Bagaimana Anda ingin menetapkan batasan—menyampaikannya dengan jelas sebelumnya, menepis secara langsung pada saat itu juga, atau cara lainnya?

Jika Anda tidak terbiasa menjaga batasan, Anda bisa merasa sulit—bahkan salah—berpegang pada batasan itu. Tetapi Anda tidak perlu memikirkan semuanya sendiri. Anda bisa menemukan lebih banyak panduan dan contoh-contoh menetapkan batasan dalam artikel “How to Handle Complicated Relationships in Your Life”Bagaimana Menangani Relasi-relasi yang Rumit dalam Hidup Anda. Anda juga dapat meminta bantuan konselor tepercaya.

Yang terpenting, kita selalu memiliki Roh Kudus dalam hidup kita, yang berjanji memimpin kita—bahkan dalam situasi-situasi sulit. Pikirkan untuk memakai doa ini untuk membantu Anda mengarungi batasan-batasan relasi dengan frenemy Anda:

  • Roh Kudus, berilah daku hikmat untuk mengetahui kapan harus berinteraksi dengan ______ dan kapan harus menghindar. Dalam nama Yesus, amin.

Lakukan bagian Anda dalam mengusahakan perdamaian.

Dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma, ada bagian yang membahas tentang bagaimana seharusnya sikap orang percaya terhadap musuh/enemy maupun frenemy (Roma 12:14-21). Paragraf yang provokatif ini tidak hanya menggaungkan perintah Yesus untuk memberikan pipi yang lain ketika pipi yang satu ditampar, tetapi  bahkan memberi perintah yang lebih keras lagi dengan berkata, “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu” (ayat 14). Namun, di tengah semua gagasan yang menantang ini ada satu ayat yang sering diabaikan: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang” (ayat 18, penekanan pada yang bergaris miring).

Meskipun kita tidak dapat mengendalikan orang lain atau cara mereka memperlakukan kita, perkataan “sejauh hal itu bergantung padamu” mengingatkan kita bahwa kita memiliki peran dalam mengusahakan perdamaian dengan frenemy kita. Seperti Yesus, yang sudah datang sebagai Raja Damai, kita dapat menjadikan “mengutamakan perdamaian” sebagai misi kita. Kita bisa lebih mementingkan untuk menyikapi frenemy kita dengan ramah dan hormat daripada terjatuh ke dalam perdebatan-perdebatan bodoh yang memperburuk konflik-konflik yang sudah ada. Di sisi lain, kita harus mengakui bahwa kita tidak dapat mengendalikan relasi. Kita hanya dapat mengendalikan diri kita sendiri, dan di luar itu adalah wilayah Tuhan.

Lain kali saat Anda tahu Anda akan bertemu dengan frenemy Anda, tanyakan pada diri Anda sendiri, Bagaimana aku dapat menabur benih perdamaian dalam relasi ini? Berdoalah agar Tuhan memampukan Anda menjadi pembawa damai dan agar Dia bekerja di hati frenemy Anda. Dan kemudian, setialah melakukan bagian Anda dan percayakan yang lain-lainnya kepada Tuhan.

Ketika Anda mengundang Yesus ke dalam relasi, Anda tidak lagi terbatas pada yang dapat Anda lakukan sendiri. Ingatlah perkataan dalam Injil Lukas ketika Yesus berkata, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Lukas 18:27)? Saat Anda mengasihi dan mendoakan frenemy Anda, cobalah berelasi dengan mereka seolah-olah Tuhan sudah bekerja dalam hidup mereka, menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin dalam relasi Anda.

Anda mungkin melihat atau mungkin juga tidak melihat perubahan dalam relasi Anda—atau mungkin tidak secara langsung—tetapi tidak apa-apa. Bersabarlah terhadap frenemy Anda sebagaimana Tuhan selalu sabar terhadap kita, mengasihi kita sepanjang waktu yang lama bahkan ketika kita begitu sering bersikap sebagai frenemy terhadap-Nya.

Pergilah sekarang dan hiduplah dalam pengharapan, karena mengetahui bahwa Dia yang sudah datang untuk memperbaiki relasi kita dengan Pencipta kita juga dapat memperbaiki relasi-relasi antarmanusia.