Belajar Mengasihi Seperti Kristus
(Charles F. Stanley)
Keharmonisan relasi-relasi Anda tergantung pada hal itu.
Tak ada yang lebih membuat stres daripada relasi yang tidak harmonis. Situasi-situasi sulit akan datang dan pergi, tetapi ketegangan yang kita rasakan dengan orang lain bagaikan awan gelap yang menggantung di atas kepala. Meskipun kita ingin terbebas dari perasaan ini, kita mungkin tidak tahu bagaimana mengatasi situasi itu. Bersyukur, Alkitab memberi kita solusinya. Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13:34). Kedengarannya sederhana, tetapi perintah ini jauh dari mudah. Namun ingatlah, jika Tuhan memberi perintah, Dia juga menyediakan apa pun yang kita perlukan untuk mematuhi perintah itu.
Dalam konteks Yohanes 13, perkataan “saling mengasihi” mengacu pada relasi-relasi di antara orang percaya dalam gereja, tetapi mengasihi seperti Yesus bermanfaat dalam seluruh relasi kita karena mendorong kerukunan, pengampunan dan damai sejahtera. Karena arti cinta kasih dalam budaya kita sudah diperluas sampai mencakup reaksi-reaksi terhadap segala hal, dari Tuhan sampai cokelat, kita perlu memahami definisi yang alkitabiah. Jadi mari kita perhatikan empat aspek kasih yang seperti Kristus.
Karakternya
Kita biasanya menganggap kasih sebagai perasaan sayang, tetapi di Alkitab kata itu lebih merujuk pada tindakan kehendak daripada perasaan. Meskipun kasih bisa disertai atau diikuti perasaan sayang, tetapi sebagian besar kasih merupakan tindakan kehendak yang diarahkan kepada orang lain. Dan kita melihat buktinya dari tindakan yang kita lakukan, yaitu, ketika kita memilih melakukan yang terbaik untuk orang lain daripada memikirkan kepentingan diri sendiri.
Nah, Anda mungkin berpikir, tidak mungkin aku bisa mengasihi seperti itu. Ini benar. Dengan kekuatan kita sendiri, tidak ada di antara kita yang mampu mengasihi orang lain seperti yang dilakukan Yesus. Kasih yang berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, dan mengampuni tidak terjadi secara alami, tetapi kita memiliki Seseorang yang dapat menolong kita.
Sumbernya
“Tuhan adalah kasih,” kata ayat 1 Yohanes 4:16 —perhatikan bahwa ayat itu tidak berkata Dia kadang-kadang mengasihi, atau bahwa kasih adalah sebagian dari diri-Nya, melainkan bahwa Dia adalah kasih. Ini berarti kasih bukanlah sesuatu yang bisa kita hasilkan dengan usaha kita sendiri. Hanya ketika kita dipersatukan dengan Bapa melalui iman kepada Anak-Nya, Roh Kudus mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati orang percaya (Roma 5:5). Dan ketika Dia bekerja di hati kita, buah kasih dihasilkan di dalam kita (Galatia 5:22).
Namun, meskipun Tuhan memberi kita kemampuan supranatural untuk mengasihi, kita menjalankan peran itu melalui proses. Kita harus berlatih untuk saling mengasihi dan berusaha semakin baik lagi melakukannya oleh karena anugerah-Nya (1 Tesalonika 4:9-10). Kita tidak pernah bisa mencapai titik sempurna dalam mengasihi orang lain, tetapi kita bisa menjadi lebih baik dalam mengasihi jika kita mengizinkan Roh-Nya bekerja di dalam dan melalui kita.
Standarnya
Kita suka berpikir bahwa mengasihi orang lain itu opsional dan tergantung pada perlakuan mereka terhadap kita – dengan kata lain, mereka harus layak dikasihi, dan jika tidak, kita terbebas dari kewajiban itu. Tetapi yang dikatakan Yesus tidak begitu. Dia dengan jelas berkata bahwa kita harus mengasihi orang lain sebagaimana Dia telah mengasihi kita. Karena kita orang berdosa dan pemberontak, kita jelas tidak layak mendapat kasih-Nya. Tetapi Tuhan memilih mengasihi kita meskipun kita masih menjadi musuh-Nya. Dan untuk menunjukkan hal itu, Dia mengutus Anak-Nya untuk mati menggantikan kita, menanggung hukuman yang seharusnya untuk kita (Roma 5:8). Perintah Yesus untuk saling mengasihi tidak memiliki pasal pengecualian. Sebagai anak-anak Tuhan, kita punya tanggung jawab untuk meniru Dia dan hidup dalam kasih seperti yang Dia lakukan (Efesus 5:1-2).
Ungkapannya
Setelah kita tahu bahwa kita harus mengasihi orang lain, bagaimana kita akan melakukannya? Ada tiga cara utama untuk kita meniru Tuhan dan mengungkapkan kasih-Nya kepada orang lain.
Dengan karakter seperti Kristus. Kasih dimulai dari hati yang diubahkan. Kita harus bekerja sama dengan karya Roh Kudus yang mengubahkan dan mengenakan hati yang penuh belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3:12). Dan bukankah ini tepatnya yang kita butuhkan ketika kita harus mengasihi orang yang sulit? Jika tidak, semua ungkapan kasih kita hanyalah kemunafikan karena hati kita belum dilembutkan.
Dengan perilaku seperti Kristus. Anda mungkin tidak asing dengan 1 Korintus 13, pasal yang terkenal tentang kasih. Tetapi sudahkah Anda memikirkan yang dituntut ayat-ayat itu dari Anda? Kasih bersikap sabar dan murah hati terhadap orang-orang yang menjengkelkan, sulit atau jahat. Kasih tidak berlaku cemburu, sombong atau memalukan, dan tidak memaksakan kehendak atau menuntut hak-haknya sendiri. Sebaliknya, kasih memikirkan kepentingan orang lain, dan – mungkin yang paling sulit dari semuanya – tidak mudah terpicu untuk marah atau kesal dan tidak menyimpan dendam.
Dengan sikap berkorban seperti Kristus. Karena kematian Yesus di salib merupakan teladan terindah kasih-Nya pada kita, kita juga harus bersedia mengorbankan diri untuk orang lain (1 Yohanes 3:16). Meskipun beberapa orang Kristen benar-benar telah mati bagi sesama orang percaya, pengorbanan kita pada umumnya berupa memberi diri untuk melayani orang lain, menyisihkan waktu yang berharga untuk menolong mereka, atau sekadar menahan diri atau keinginan kita agar dapat melakukan yang terbaik bagi orang lain. Untuk memiliki sikap berkorban seperti Kristus, kita harus memikirkan kepentingan orang lain sebagai yang lebih utama dari kepentingan kita sendiri (Filipi 2:3-5).
Mengasihi seperti Kristus adalah tugas yang sulit, tetapi kita memiliki Tuhan yang hebat yang bekerja di dalam kita untuk memungkinkan terjadinya hal itu. Ketika kita mulai mengasihi orang lain seperti yang dilakukan Tuhan, kita membantu membangun kesatuan dalam gereja, menciptakan kerukunan dalam keluarga, dan menjadi saksi yang efektif di dunia, karena kasih kita kepada satu sama lain membuat kita dikenal sebagai murid-murid Kristus (Yohanes 13:35).
Refleksi
Apa yang membuat Anda tidak mengasihi orang lain sebagaimana yang seharusnya? Banyak dari kita mencoba menyalahkan perilaku atau kepribadian orang lain, tetapi apakah memang benar di situ letak permasalahannya? Tanggung jawab untuk mengasihi seperti Kristus terletak pada kita masing-masing.
Kadang persoalannya adalah persepsi kita tentang seperti apa kasih itu. Apakah menurut Anda kasih itu berarti selalu bersikap manis terhadap orang lain? Yang kita lihat dalam kehidupan Yesus jelas tidak seperti itu. Ada saat-saatnya ketika Dia mengasihi orang dengan teguran dan peringatan. (Pada suatu ketika, Yesus bahkan menyebut Petrus berlaku seperti Iblis). Kasih dan kebenaran berjalan seiring. Meskipun kasih Kristus menuntut tindakan, tindakan kasih itu harus ditunjukkan dengan sikap ramah dan rendah hati. Dan seperti itulah juga seharusnya cara kita mengasihi.
Doakan
Bapa surgawi, terima kasih atas pertunjukan kasih dengan mengutus Anak-Mu untuk menyelamatkan saya. Mengetahui bahwa kasih itu berasal dari-Mu, saya mohon Engkau membuat saya bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seperti Kristus terhadap sesama orang percaya maupun semua orang lain (1 Tesalonika 3:12). Dalam nama Yesus. Amin.
Renungkan
Lakukan
Salah satu penyebab kita gagal mengasihi orang lain sebagaimana yang seharusnya adalah karena kita tidak menyiapkan hati sebelumnya. Cara terbaik untuk menjadi siap setiap hari adalah dengan memperbarui pikiran kita dengan firman Tuhan. Perhatikanlah ayat-ayat yang berbicara tentang kasih-Nya pada Anda dan semua yang telah Dia lakukan untuk memampukan Anda mengasihi orang lain. Berdoalah minta hati yang penuh belas kasihan, kemurahan dan kesabaran. Lalu, sepanjang hari, mintalah Tuhan membiarkan kasih-Nya mengalir melalui Anda kepada orang lain.
