Dari Ruang Atas

(Charles F. Stanley)

Doa Kristus bagi para pengikut-Nya, yang dulu dipanjatkan di Yerusalem, masih menjadi doa-Nya untuk kita hari ini.

Kata-kata terakhir memiliki arti yang sangat dalam karena menunjukkan hal yang penting bagi seseorang. Itu sebabnya kita berkumpul di sekeliling tempat tidur orang yang kita kasihi ketika akhir hayatnya sudah dekat, berharap dapat mendengarkan pikiran-pikiran, pesan-pesan atau hikmat terakhirnya. Dan dari semua perkataan terakhir yang ada, yang paling penting dan berharga adalah kata-kata terakhir Tuhan Yesus. Sebelum Dia pergi ke salib, Dia menghabiskan malam yang panjang bersama para murid-Nya, dan merayakan Paskah. Kata-kata terakhir-Nya di Yohanes 13-17 menunjukkan hati-Nya bagi orang-orang yang menjadi milik-Nya.

Renungkan dramatisnya perubahan perasaan yang dialami murid-murid pada hari-hari dan jam-jam terakhir kebersamaan mereka dengan Mesias: Baru saja beberapa hari sebelumnya mereka menyaksikan orang banyak menyambut Dia yang memasuki Yerusalem sebagai “Raja Israel” (Yohanes 12:13). Tetapi sekarang mereka mulai melihat kenyataan bahwa banyak hal ternyata tidak seperti yang mereka harapkan. Mereka telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus, namun kini Yesus memberitahu mereka bahwa Dia akan mati.

Untuk melihat hal ini dari perspektif para murid, kita perlu memahami lebih dalam harapan-harapan mereka. Menurut nubuat-nubuat Perjanjian Lama, Mesias akan datang sebagai Penakhluk yang menundukkan musuh-musuh Israel, meninggikan bangsa itu di atas segala bangsa di dunia, dan memerintah atas seluruh dunia (Yesaya 2:1-4). Sebagai pengikut-Nya, mereka mengharapkan kedudukan tinggi, kekuasaan dan kejayaan dalam kerajaan-Nya. Mereka tidak tahu bahwa mereka lebih membutuhkan Juru Selamat daripada Raja. Mesias harus lebih dulu menyerahkan nyawa-Nya sebagai Korban penebusan agar dapat menyelamatkan umat-Nya dari dosa.

Rancangan Tuhan

Ketika Yesus pertama kali mulai berbicara tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang akan datang, Petrus langsung menegur Dia dan berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu. Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau” (Matius 16:22). Meskipun Yesus menegaskan berulang kali, mereka tidak dapat memasukkan konsep tentang Mesias yang mati itu ke dalam sistem kepercayaan mereka. Tetapi pada malam terakhir itu, realitas itu akhirnya makin jelas, dan mereka dipenuhi duka dan kesedihan mendalam saat memikirkan harus hidup tanpa Yesus.

Respons Yesus terhadap ketakutan mereka paling baik digambarkan di Injil Yohanes: “Ia mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya” (Yohanes 13:1). Semua yang Dia katakan bertujuan untuk menguatkan iman mereka. Sebelum dunia mereka mulai runtuh, Kristus berkata, “Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia” (Yohanes 13:19). Setelah itu Dia mengungkapkan apa yang akan terjadi:

  • Salah seorang dari mereka akan mengkhianati Dia (Yohanes 13:21).
  • Dia akan pergi dan kembali kepada Bapa-Nya, dan mereka tak dapat mengikuti-Nya (Yohanes 13:33), tetapi Dia akan datang kembali dan membawa mereka ke rumah Bapa (Yohanes 14:1-3).
  • Dia berjanji akan mengutus Penolong yang lain kepada mereka (Yohanes 14:16-18, 16:7).
  • Dia akan memberikan apa saja yang mereka minta dalam nama-Nya (Yohanes 14:13-14).
  • Mereka akan memiliki suatu relasi yang baru dengan Dia (Yohanes 15:1-5).
  • Mereka akan dibenci dan dianiaya dunia tetapi dapat mengalami damai sejahtera-Nya (Yohanes 15:18-19, 16:33).

Orang-orang yang kebingungan dan ketakutan di ruang atas itu pada akhirnya menjadi dasar gereja (Efesus 2:20). Yesus memercayakan tugas pekabaran Injil keselamatan-Nya ke dunia kepada mereka. Dari perspektif duniawi, hal ini berisiko. Mereka bukan kelompok orang-orang yang impresif. Mereka bahkan kurang memiliki wawasan rohani dan keberanian untuk berdiri bersama Kristus ketika hidup mereka dalam bahaya. Tetapi Yesus tahu bahwa keberhasilan mereka  kelak tidak tergantung pada kemampuan mereka sendiri, tetapi pada kuasa, pemeliharaan, dan doa syafaat-Nya. Oleh karena itu, ketika malam hampir berakhir, Yesus mengangkat wajah-Nya ke surga dan memanjatkan doa-Nya. Dia berdoa:

Untuk diri-Nya sendiri (Yohanes 17:1-5). Pertama-tama, Kristus berdoa agar Dia dan Bapa-Nya dimuliakan dengan kematian-Nya, yang akan membawa hidup kekal kepada semua orang yang diberikan Bapa kepada-Nya (Yohanes 17:1-2). Salib bukanlah kekalahan dan Yesus bukanlah korban. Dengan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepada-Nya, termasuk kematian penebusan-Nya di kayu salib, Anak memuliakan Bapa-Nya.

Untuk murid-murid-Nya (Yohanes 17:6-19). Selanjutnya Yesus berdoa—bukan untuk dunia tetapi untuk orang-orang yang percaya bahwa Bapa mengutus-Nya. Mereka merupakan pemberian yang berharga bagi Kristus, dan Dia dimuliakan di dalam mereka melalui iman percaya mereka kepada-Nya. Sekarang Dia akan mengutus mereka ke dalam dunia untuk membawa pesan-Nya. Karena itu, Yesus meminta Bapa-Nya melindungi mereka dari yang jahat dan menguduskan mereka dalam kebenaran firman-Nya.

Untuk orang-orang yang percaya melalui pemberitaan mereka (Yohanes 17:20-26). Terakhir, Yesus memperluas doa syafaat-Nya sampai mencakup semua orang percaya di masa depan yang akan menjadi tubuh Kristus – gereja-Nya. Bayangkan, pada malam 2000 tahun yang lalu itu, Yesus berdoa untuk Anda. Apa yang Dia doakan? “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21).

Yesus tidak hanya berdoa agar orang-orang percaya hidup rukun satu sama lain, meskipun kita harus hidup seperti itu. Yesus mendoakan kesatuan rohani seluruh orang Kristen dengan Trinitas dan dengan satu sama lain. Setiap orang percaya sejati dibaptis dalam Kristus oleh Roh Kudus dan menjadi bagian dari tubuh-Nya. Bersama-sama kita diutus untuk memberitakan Injil agar dunia percaya.

Jawaban doa Yesus

Bapa menjawab doa Kristus bagi sekelompok kecil orang yang berkumpul bersama-Nya merayakan Paskah itu. Mereka setia mengabarkan Injil ke seluruh dunia, dan kita sekarang memiliki kesaksian mereka di dalam Alkitab. Bapa surgawi juga menjawab doa Yesus lainnya ketika orang-orang percaya baru memasuki kesatuan rohani dalam tubuh Kristus. Bahkan orang-orang percaya di seluruh dunia berkumpul untuk merayakan Perjamuan Kudus yang ditetapkan Kristus pada malam itu.

Sebagai permintaan terakhir-Nya, Yesus berkata, “Ya Bapa, Aku mau supaya di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku agar mereka memandang kemuliaan-Ku” (Yohanes 17:24). Saatnya akan tiba ketika semua orang yang didoakan Yesus berkumpul di surga bersama Yesus dan satu sama lain dalam kesatuan yang sempurna. Dan kita tahu dengan yakin semua ini akan terjadi karena Bapa selalu menjawab doa Anak-Nya. Sementara ini, gereja dipanggil untuk memperjuangkan kesatuan di sini dan saat ini – saling mengasihi seperti Dia mengasihi kita, dan menjadi saksi kepada dunia yang mengamati tentang kuasa transformasi-Nya.