Ketika Saya Kehilangan (dan Menemukan) Kehidupan Yang Baik

(Matt Woodley)                                                                             

Perceraian mengempaskan saya ke posisi bertahan hidup, namun bersyukur Tuhan tak rela membiarkan saya terus berada di sana.

Penulis Pat Conroy pernah berkata, “Setiap perceraian adalah kematian dari satu peradaban kecil.” Jika itu benar, maka peradaban kecil saya mati pada bulan Januari 2011. Saya menerima dokumen resmi yang menyatakan bahwa 25 tahun pernikahan saya sudah berakhir secara sah. Tulisan ini bukan kisah pernikahan dan perceraian saya. Terlalu banyak kisah orang lain yang terlibat. Kisah ini adalah kisah tentang bagaimana Tuhan, melalui kasih karunia-Nya yang penuh kuasa dan ajaib telah menyembuhkan, memperbarui dan memulihkan saya dengan cara-cara yang tak pernah saya bayangkan.

Tiga belas tahun yang lalu, saya sudah tidak mengharapkan apa pun yang baik dari Tuhan. Kehidupan pasca-perceraian saya terasa meremukkan dan kelam. Saya mengundurkan diri dari jabatan sebagai pendeta – peran yang sudah saya geluti selama lebih dari 22 tahun di tiga jemaat yang berbeda. Karena tidak memiliki strategi karir baru, saya mulai bekerja di sebuah toko makanan di Long Island dan di rumah kelompok orang dewasa yang mengalami keterbelakangan perkembangan. Impian saya tentang “kehidupan yang baik” sudah hancur. Saya merasa gagal secara moral dan spiritual, dan dalam hal perbaikan/peningkatan diri, saya tak punya rencana atau doa apa pun (yang sebetulnya karena saya sudah berhenti meminta apa pun dari Tuhan).

Setelah akhirnya saya mendapat pekerjaan di bidang penerbitan dan pindah ke Chicago, saya fokus pada beberapa sasaran bertahan hidup yang sederhana: jangan sampai terluka lagi, jangan pernah bermimpi lagi, jangan menjadi pendeta lagi, dan mungkin tinggalkan gereja sama sekali. C. S. Lewis pernah mengamati, “Mencintai berarti menjadi rentan sama sekali. Cintailah sesuatu, maka hatimu pasti akan tersayat-sayat dan kemungkinan hancur.” Ya, saat itu saya pikir Lewis benar! Jadi baiklah, saya akan menutup diri, bersembunyi dan menghindari luka, kegagalan dan yang disebut Lewis “keterlibatan”—seperti menjadi dekat dengan orang lain lagi.

Tetapi Tuhan punya rencana lain. Anda tahu ayat-ayat Alkitab “klise” yang berkata bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan Anda dan Dia punya rencana untuk keberhasilan Anda, dan seterusnya itu? Saya tidak memercayainya, tetapi Tuhan tetap melakukannya tepat seperti itu.

Proses pemulihan dimulai pada saat saya paling tidak mengharapkannya: dalam ibadah Minggu pagi, yang sangat aneh karena pada kebanyakan hari Minggu saya biasanya tak ingin berada di sana. Selama 22 tahun saya selalu harus berada di sana, tetapi sekarang saya bisa tinggal di rumah saja, menyeruput kopi hitam nikmat sambil membaca surat kabar seperti semua teman intelek saya yang tidak percaya di Long Island. Namun karena suatu alasan, saya terus menarik diri saya ke ibadah minggu pagi sekadar untuk datang dan melihat.

Yang mengherankan saya, liturgi setiap minggu itu bukan saja menarik saya untuk masuk, tetapi juga membawa saya ke dalam suatu perjalanan. Setiap Minggu, mengulangi doa yang sama dengan serangkaian tindakan dramatis dan cara berdoa yang sama, membawa saya kepada pemandangan baru dengan pemahaman-pemahaman baru tentang keindahan Tritunggal dan rencana penebusan dunia.

Ketika saya masih kecil, keluarga saya akan melakukan perjalanan musim panas dengan menyusuri sungai memakai ban dalam. Saya hanya perlu masuk ke sungai, duduk di atas ban itu dan kemudian melaju mengikuti aliran sungai, dan itu akan membawa saya ke suatu tempat. Saya tidak melaju cepat. Saya bisa meluncur lebih cepat jika saya menendang-nendang – tak ada yang salah dengan itu – saya hanya memerlukan iman yang cukup untuk masuk ke sungai, dan sungai itu dapat melakukan hal selanjutnya. Liturgi itu menjadi sungai yang dipenuhi-Yesus dan mengalirkan Roh Kudus bagi saya.

Bagian tertentu liturgi itu juga membuat saya terperangah. Di akhir doa menjelang Perjamuan Kudus, pendeta mengangkat sepotong besar roti, memecahkan-mecahkannya secara dramatis menjadi dua bagian dan berkata, “Kristus Anak Domba Paskah telah dikorbankan bagi kita.” Jemaat menyahut, “Karena itu marilah kita melanjutkan perjamuan. Haleluya.” Lalu pendeta mengangkat roti dan air anggur dan berkata, “Anugerah Tuhan bagi umat Tuhan. Terimalah dengan mengingat bahwa Kristus telah mati untukmu, dan makanlah dengan hati penuh syukur.” Pada saat-saat saya sedang tidak sinis, saya akan berkata kepada teman-teman, “Saya datang hanya untuk mendengar dan melihat hal itu.” Mengetahui bahwa Yesus, Anak Allah yang tidak berdosa, telah diremukkan untuk saya dan dosa saya, dan bahwa Dia minggu demi minggu menawarkan untuk memberi makan jiwa saya – sudah cukup untuk mulai memulihkan saya lagi.

Lalu ada juga aspek komunitas dalam karya pemulihan Yesus dalam hidup saya. Saya bergabung dengan satu kelompok kecil pria – untuk pertama kalinya selama lebih dari 20 tahun saya menjadi anggota kelompok kecil dari gereja yang tidak saya pimpin. Saya tak pernah bisa melupakan malam pertama itu. Saya datang terlambat 30 menit karena harus mengganti ban kempes di tengah hujan lebat musim gugur. Dengan sepatu basah dan jaket yang meneteskan air hujan, saya tampak menyedihkan, tetapi pria-pria itu tidak peduli. Mereka merangkul saya seperti bapa yang mencium anaknya yang hilang. Kami tidak menyebutkan nama keluarga atau pekerjaan. Kami berbicara, mendengarkan, berdoa bersama dan bagi satu sama lain. Saya menikmati kasih karunia yang besar.

Saya pernah begitu sibuk melakukan banyak hal bagi Yesus, sampai saya lupa bagaimana bersama dengan Yesus. Tetapi sekarang saya mengunjungi dan memulai kembali perjalanan saya bersama Kristus. Salah seorang pria itu, yang rupanya orang percaya baru dalam Kristus, mulai memberi semangat dengan lagu yang baru saja ia pelajari. Ia berkata, “Aku sudah menuliskan semuanya di sepotong kertas ini,” yang kemudian ia buka dengan sangat hati-hati dan bacakan pada kami: “Amazing grace! How sweet the sound that saved a wretch like me! I once was lost, but now am found …” (Ajaib benar anugerah, pembaru hidupku, ku hilang buta bercela, oleh-Nya ku sembuh…)

Saya tercenung, Itu “lagu baru” katamu? Saya sudah mendengar lagu rohani lama itu ratusan kali dalam berbagai peristiwa, dan orang ini berpikir lagu itu lagu yang baru digubah? Saat itu, syair dan melodi lagu itu sudah membosankan bagi saya, tetapi ia begitu terpukau. Tiba-tiba saja, kasih karunia Tuhan melanda saya bagaikan gelombang yang sangat besar menerjang kekerasan hati saya. Saya tak bisa begitu luluh dan merendahkan diri lagi; untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Tuhan melimpahi saya dengan realitas dan kuasa anugerah-Nya. Semua itu pekerjaan Tuhan – Tuhan yang membenarkan orang berdosa, yang oleh karena kasih karunia-Nya menerima saya sebagaimana adanya, sementara Dia bekerja melalui sesama orang-orang yang hancur ini, guru-guru baru saya (Roma 4:6; 1 Korintus 15:10).

Setelah itu saya bertemu dengan sesama pejuang lain yang juga menjadi guru-guru saya dalam menemukan iman saya kembali—sekelompok pengungsi berusia 12 tahun yang tinggal di perumahan kumuh pemerintah, yang terselip di belakang pusat perbelanjaan megah di dekat daerah pinggir kota Chicagoland yang mewah. Seseorang punya ide “aneh” dengan meminta saya melatih anak-anak ini di liga sepakbola setempat. Kebanyakan dari mereka belum pernah bermain, dan saya tidak pernah melatih. Meskipun demikian, saya membayangkan mereka memenangkan liga itu, dan orang akan membuat film tentang semua itu—Miracle on the Pitch (Keajaiban di lapangan bola) atau semacam itu.

Pada kenyataannya, kami kalah di setiap pertandingan dengan selisih angka yang sangat besar. Orangtua anak-anak itu tak pernah menonton pertandingan karena mereka semua bekerja. Rutinitas kami sebelum pertandingan mencakup berjuang mengganti paku sepatu, kaos kaki atau pelindung tumit yang hilang. (“Bagaimana bisa Anda hanya membawa satu pelindung tumit untuk tiga kali pertandingan berturut-turut?”). Dua bersaudara dari Sudan—Sunday dan adiknya Monday—memiliki kecepatan luar biasa tetapi tak bisa mengontrol bola. Seorang anak—Danny, yang baru datang dari Meksiko—sudah memiliki keterampilan bermain bola. Tiga gadis Burma tak pernah bermain di pertandingan olahraga resmi sepanjang hidup mereka. Menendang bola merupakan hal yang menakutkan bagi mereka, dan teriakan saya sebagai pelatih yang memotivasi dengan penuh semangat dari pinggir lapangan, “bagus sekali, tendangan hebat, kamu pantas dapat medali” membuat para pemain tengah itu berseru dan memohon dengan bercucuran air mata, “Pak Matt, pak Matt, tolong berhentilah meneriaki saya.”

Lalu, pada musim berikutnya, kami menjadi lebih baik. Kami menempatkan gadis-gadis Burma yang ternyata sangat kuat itu membentuk garis pertahanan yang hampir tak dapat ditembus. Sunday dan Monday sudah belajar menggunakan kecepatan mereka untuk menciptakan peluang mencetak gol.  Danny bermain dengan tingkat keterampilan yang sama sekali baru. Kami masih belum memenangkan pertandingan, tetapi tidak ada lagi yang meneriaki kami, dan kami bermain imbang tiga kali.

Saya mengagumi kegigihan dan keberanian para pemain itu, kesediaan mereka untuk memulai dari nol dan tidak menyerah. Meskipun mereka menangis, gagal dan kalah telak, mereka terus belajar dan berkembang. Saya teringat sebuah kutipan dari penulis Thomas Merton: “Kita tak ingin menjadi pemula. Tetapi mari kita yakini bahwa kita tak pernah menjadi apa pun tanpa menjadi pemula, sepanjang hidup kita.” Jika anak-anak ini bisa dengan gembira mengeklaim status sebagai pemula dalam bermain bola, mungkin saya juga bisa mundur (atau maju) ke status pemula dalam perjalanan saya bersama Yesus.

Dalam bukunya yang berjudul The Power of the Powerless, Christopher De Vinck menjelaskan yang ia pelajari dari saudaranya, Oliver, seorang anak laki-laki dengan keterbelakangan mental dan fisik yang parah.  “Oliver menghirup udara malam yang sama dengan kami, mendengarkan suara angin yang sama, dan perlahan-lahan, tanpa kami sadari, Oliver menciptakan kekuatan tertentu di sekitar kami, yang mengubah seluruh kehidupan kami. Saya tak bisa menjelaskan pengaruh Oliver, selain berkata bahwa kelemahan dalam hidup kita benar-benar mengandung kekuatan besar. Kelemahan benar-benar dapat mempermalukan keperkasaan.” Tuhan telah memakai tim yang lemah ini menjadi guru dan pengajar saya dengan cara yang lebih seperti Yesus.

Jadi, rencana Tuhan yang mengherankan untuk membangun dan memperbarui kembali hidup saya dimulai justru ketika saya merasa segalanya sudah berakhir. Dan tujuh tahun yang lalu saya melakukan hal lain yang saya pikir tidak akan mungkin: saya menjadi pendeta penuh waktu lagi, menangani pelayanan lokal kami kepada orang-orang miskin dan terpinggirkan serta pelayanan global rekan-rekan kami yang bekerja di suku-suku terabaikan. Saya tak bisa membayangkan ada peran yang lebih baik bersama tim yang lebih baik. Pengertian saya tentang yang dimaksud dengan “kehidupan yang baik” telah berubah menjadi lebih baik, dan bersyukurnya, demikian juga hidup saya.