Yang Ilahi Di Saat Senja
Senja (Winn Collier)
Meskipun banyak hal yang kita percayai bersifat pasti, ada juga misteri-misteri yang tak bisa kita pecahkan. Dan di saat-saat seperti itulah iman ditantang untuk bertumbuh.
Seorang pendeta harus benar-benar percaya Tuhan; biasanya begitulah memang yang paling baik. Jadi, bisa Anda bayangkan teror yang saya rasakan ketika pertanyaan tergelap saya muncul. Serangan jahat itu menyelinap keluar dari bayang-bayang dan menusuk hati saya bagai ular berbisa yang menancapkan taringnya ke dalam daging. Apakah Tuhan itu nyata?
Selama puluhan tahun kehidupan awal saya, iman berjalan mulus. Masa kecil saya nyaman dan, dalam banyak hal, terlindung. Hidup dan dibesarkan dalam kehidupan gereja, saya selalu punya jawaban cepat untuk hampir semua persoalan. Saya tidak banyak mengalami penderitaan atau kekecewaan, dan menikmati persahabatan dengan orang-orang yang memandang Tuhan dan dunia hampir sama seperti saya. Tak ada yang membuat saya harus bergumul dengan doa-doa yang tampaknya tak dijawab, atau dengan Tuhan yang diam atau tidak bertindak sesuai ketentuan yang saya tetapkan. Tuhan yang saya pikir saya kenal ini dapat diprediksi dan selalu tepat waktu. Tuhan versi ini cocok dengan selera dan keinginan saya, dan sesuai dengan kerangka berpikir saya yang nyaman. Intinya, saya berhasil menciptakan Tuhan versi saya sendiri yang tidak menuntut iman apa pun.
Namun, serangkaian kekecewaan dan musim kebingungan rohani yang panjang dan menyakitkan mendesak saya untuk bertanya: apakah Tuhan itu nyata. Saya dipaksa kembali ke Alkitab dan kesaksian orang Kristen sepanjang sejarah. Saya menemukan Tuhan yang jauh lebih membingungkan dari yang saya bayangkan, Tuhan yang tidak bisa dimasukkan ke dalam rumusan sederhana yang mudah dicerna. Saya menemukan Tuhan yang mendatangi umat-Nya dengan lembut namun juga bergemuruh dari gunung. Saya menemukan Yesus yang menangis dan berduka tetapi juga yang menunjukkan amarah yang benar. Saya menemukan Tuhan yang menolak rekayasa manusia, yang menjungkirbalikkan ekspektasi-ekspektasi, dan yang (dalam satu dan lain hal) membingungkan hampir semua orang.
Selanjutnya, saya menemukan betapa Tuhan sering membuat ketegangan yang seimbang di antara kebenaran-kebenaran yang tampaknya bertentangan. Tuhan memilih kita, tetapi kita juga memilih Tuhan. Masa depan sepenuhnya ada di tangan-Nya, tetapi pilihan-pilihan kita juga penting. Tuhan mengasihi tanpa syarat atau batasan, namun Dia juga kadang menjadi marah. Dia adalah Bapa yang baik yang menjanjikan perlindungan yang lembut, tetapi Dia juga menegaskan bahwa Dia akan memimpin umat-Nya melalui (bukan menghindari) lembah kekelaman. Saya bertanya-tanya apakah semua ini dilema-dilema yang membuat para pemazmur meratap: “[Ketika] aku merenung untuk memahaminya, hal itu hanya menjadi kesusahan bagiku” (Mazmur 73:16).
Yang memperumit, saya heran betapa sedikit energi yang dikeluarkan Yesus, para rasul, atau orang Kristen mula-mula untuk mengatasi dilema logika ini. Memang baik mencari kejelasan jika tersedia (dan Kitab Suci jelas memberi kita banyak dasar yang kokoh), tetapi saya mendapati, berulang kali, Yesus tak pernah menjanjikan para pengikut-Nya akan selalu mengalami perasaan yakin yang teguh dan tak tergoyahkan. Sebaliknya, Yesus memanggil semua orang kepada iman yang taat, untuk mengambil risiko. Dia memanggil kita untuk menunjukkan keberanian, untuk menghadapi persoalan dan kebingungan kita, dan untuk mengikut Dia.
Dalam novel Marilynne Robinson yang berjudul Home, tokoh utamanya—seorang pendeta bernama John Ames—berdamai dengan banyak sekali misteri yang tak dapat dipahaminya. “Saya tidak akan meminta maaf untuk kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak saya mengerti,” kata Ames. “Saya bodoh jika saya berpikir tidak ada. Dan saya tidak akan merusak arti misteri hanya karena itulah yang selalu dilakukan orang ketika mereka mencoba membicarakannya. Selalu. Dan kemudian mereka berpikir bahwa misteri itu sendiri omong kosong. Pembicaraan semacam ini jauh lebih buruk dari sekadar tidak berguna. Menurut saya.” Jika kita manusia dan jika kita jujur, kita akan mengakui keterbatasan pemahaman kita yang sangat nyata.
Ketika berkumpul di meja makan untuk sarapan baru-baru ini, keluarga kami membaca cerita Injil yang menunjukkan betapa sulitnya bagi para pemimpin agama untuk percaya pada Yesus ketika ajaran-ajaran-Nya sangat aneh dan tidak sesuai dengan cara mereka memahami dunia. Anak kami yang kecil mengungkapkan pertanyaan yang cepat atau lambat harus kita semua hadapi: “Bagaimana kita tahu bahwa yang dikatakan Yesus benar?” Kegelisahan mendasar ini menempatkan kita tepat di posisi para murid mula-mula. Mengherankan betapa sering kita menjadi gelisah atau takut ketika ada orang yang bergumul dengan ajaran Yesus yang aneh dan membingungkan. Murid-murid-Nya sendiri sering bingung atau ragu. Kebanyakan dari mereka pada akhirnya memiliki keyakinan yang teguh, tetapi mereka harus melewati jalan yang penuh gejolak untuk sampai ke sana.
Saat percakapan kami pada waktu sarapan itu berlanjut, anak kami mengembangkan kebingungannya: “Tetapi Ayah, bagaimana aku percaya pada Tuhan jika aku tak dapat melihat-Nya?” Di dunia modern, hal ini tampaknya merupakan salah satu masalah besar kita: Bagaimana aku memercayai seseorang yang tidak dapat diuji, diamati – orang yang tidak dapat dipegang dengan tanganku atau tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh pikiranku? Meskipun ilmu pengetahuan telah memberi kita manfaat yang tak terkira, sains juga menghalangi kemampuan kita untuk memahami realitas-realitas yang tak dapat dijelaskan dengan data dan eksperimen. Pakar Philip Sherrard mendapati bahwa “pemikiran modern, dengan segala kecurigaannya terhadap semua yang lolos dari analisis rasional, praktis telah menghilangkan kata ‘jiwa’ dari kosakatanya.”
Sebaliknya, orang Kristen mula-mula familiar dengan cara mengenal kebenaran yang lain – yang berpusat pada persekutuan kita dengan Tuhan. Orang-orang Kristen ini tahu bahwa ada kebenaran-kebenaran tertentu yang harus kita temukan melalui pewahyuan ilahi dan melalui perjumpaan mendalam dengan Yang Kudus.
Hal-hal tertentu hanya dapat Anda ketahui saja. Anda tak dapat membuktikannya. Anda tak dapat menjelaskannya. Anda tak bisa mengupasnya habis-habisan dan meletakkannya di atas piring baja dingin untuk diperiksa di bawah mikroskop berkemampuan-tinggi. Tak ada alat yang memungkinkan Anda memecah-mecahnya, meraba komponen-komponennya, dan membuat daftar semua temuan Anda. Hal-hal itu hanya ada. Gejolak di perut Anda menandakan kehadiran ramuan aneh bernama cinta. Donat Krispy Kreme yang diambil saat papan reklamenya berkedip menyiarkan tulisan “Donat Panas Sekarang” rasanya jauh lebih nikmat dari yang diambil di wadah berminyak di toko serba ada. Seorang ibu memiliki intuisi yang sangat kuat bahwa anaknya sedang dalam masalah.
Kita tenggelam dalam misteri-misteri yang mendalam. Jika kita benar-benar penyandang gambar Sang Pencipta dan bukan sekadar partikel-partikel materi yang melayang-layang di alam pekat, dan jika nafas Roh yang memberi hidup benar-benar menopang hidup kita, maka kita harus mengharapkan realitas-realitas yang tak dapat dijelaskan itu terjalin dalam tenunan eksistensi kita. Seperti dikatakan penulis esai Wendell Berry, “Kita hidup dalam misteri, oleh mukjizat. Kita memiliki lebih dari yang dapat kita ketahui. Kita mengetahui lebih dari yang dapat kita katakan.” Fakta sederhana bahwa kita hidup, bernapas, berpikir, mencipta, dan mencinta di dunia Tuhan yang indah dan tak terbatas ini memancarkan sukacita yang misterius. Kita tak mungkin memahami semua keheranan yang melimpah ini, tetapi kita dapat menerimanya. Kita dapat memercayainya dan bersyukur atasnya.
Saya memikirkan aspek misterius pengalaman manusia ini sebagai saat senja, saat peralihan cahaya siang dan malam. Di saat senja inilah para penyair, pemimpi, nabi-nabi dan pecinta mendapati diri mereka paling nyaman. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi yang mereka ketahui tidak terbatas pada yang mereka lihat – setidaknya bukan dengan mata yang kebanyakan dari kita biasa percayai. Saat-saat ini mengandung misteri.
Kathleen Norris berkata bahwa “disiplin puisi mengajarkan kepada para penyair, bahwa setidaknya mereka harus sering mengatakan hal-hal yang tidak bisa pura-pura mereka mengerti. Memang ada banyak bagian Alkitab yang berupa puisi, yang mengajak kita mendengar Tuhan lagi melampaui batas-batas berpikir linear kita. Di saat senja ini, kita melatih cara mengetahui yang tidak sepenuhnya dapat diartikan bahasa kita dan tidak sepenuhnya dapat dijelaskan kosa kata kita yang terbatas. Alkitab memiliki istilah untuk hal ini: iman. Sebagai manusia yang terbatas, bagaimana mungkin kita berharap berjumpa Tuhan Tritunggal tanpa kehilangan keseimbangan kita? Membaca Tuhan menjelaskan diri-Nya sendiri, mengapa kita harus heran jika kita merasa bingung?
“Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-Ku bukanlah jalanmu, demikianlah firman Tuhan, seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8-9).
Kita menghadapi realitas-realitas yang terlalu rumit bagi pikiran kita, terlalu jauh dari imajinasi kita, karena hanya ada Satu saja yang menguasai segala pengetahuan. Kita bukan Tuhan dan kita tak dapat sepenuhnya memahami Dia. Itu sebabnya Agustinus dari Hippo menegaskan bahwa jika kita bisa sampai pada satu titik di mana kita merasa sudah sepenuhnya memahami Tuhan, kita bisa pastikan bahwa apa pun yang kita pahami itu sesungguhnya bukan Tuhan.
Pertanyaannya adalah apakah kita akan menerima saat senja ini atau tidak. Apakah kita hanya menekankan yang pasti-pasti saja dan mengabaikan nuansa-nuansa, harmoni, dan bentuk-bentuk anugerah yang lebih dalam? Ini bukan tuntutan untuk meninggalkan dasar yang kokoh atau menolak secara sembrono rasionalitas dan akal sehat. Tuhan telah memberi kita akal budi dan memerintahkan kita untuk “siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada pada kita” (1 Petrus 3:15). Undangan ini benar-benar mendorong kita melampaui batas kenyamanan kita agar Tuhan dapat memberikan sesuatu yang lebih kepada kita.
Untuk menerima saat senja ini ada risikonya, sebagaimana juga tindakan iman lainnya. Ketika Yesus memanggil murid-murid untuk mengikut Dia, Dia berkata bahwa mereka harus meninggalkan semua yang mereka ketahui dan memulai usaha yang berani tanpa jaminan apa pun selain kepastian bahwa Tuhan sendirilah yang memanggil mereka untuk maju. Jika Tuhan itu berani, penuh keyakinan, dan merdeka, jika Dia bergerak di wilayah-wilayah yang tak terjinakkan, maka mengikut Dia juga berarti kita harus berteman dengan bahaya, ketidakpastian, dan ketegangan yang membingungkan. Kita harus menolak tuntutan kita sendiri untuk mendapat kenyamanan emosional dari kepastian mutlak. Kita harus menerima kenyataan bahwa sekalipun kita berusaha memahami kebenaran Tuhan, jalan-jalan kerajaan-Nya tak pernah benar-benar rasional dalam pemahaman kita yang terbatas. Dengan kata lain, kita harus percaya pada Tuhan.
Kebanyakan dari hal yang sangat berharga akan meminta kita, pada suatu ketika, untuk mengambil risiko. Kita harus melepaskan ketergantungan kita pada kendali dan melangkah ke tempat yang tidak diketahui. Tuhan memanggil kita ke tempat-tempat yang membutuhkan iman yang berani, tempat-tempat yang penuh misteri, karena Tuhan yang di atas dan melampaui kita memanggil kita kepada diri-Nya.
