Tolong Berikan Brokolinya

(Patricia Raybon)

Sangat berat ketika ada anggota keluarga yang meninggalkan imannya. Tetapi gestur sederhana – yang dilakukan dengan kasih – membuka kesempatan untuk Tuhan bekerja.

Kami duduk mengelilingi meja makan, siap menyantap ayam dan nasi, dan kami tahu kami seharusnya berdoa  dulu. Tetapi kami tidak berdoa. Putri kami, Alana, adalah seorang mualaf, dan di rumahnya—ketika kami duduk bersama suami dan anak-anaknya untuk makan—ayahnya dan saya hanya menunduk untuk berdoa tanpa suara.

Beginilah awal kehidupan kami yang terbelah — putri kami lebih memilih Islam daripada Kristus, meninggalkan jejak perpecahan dalam keluarga yang tiba-tiba bisa muncul lagi pada saat-saat yang paling tak terduga. Ini adalah kegagalan kami, saya dan suami menyadarinya, dan ini tidak mudah. Kami berkumpul di rumahnya di Texas untuk makan malam—waktu yang sebenarnya sangat berharga untuk orang-orang terkasih bertemu lagi setelah hari yang panjang, untuk makan, bercerita, mengajarkan hikmat, tertawa bersama, berbagi kasih lewat makanan.

Pada saat itu, sepiring besar ayam dan nasi diletakkan di depan kami, dihidangkan dengan teliti dan terampil oleh suami putri kami yang gemar memasak. Duduk semeja dengan cucu-cucu, kami bersyukur pada Tuhan atas perlindungan dalam perjalanan, kebersamaan keluarga, dan makanan yang tersaji. Namun ketika tiba saatnya untuk memberkati makanan, saya dan suami merasa ragu, berusaha untuk tidak memperumit situasi yang sudah sulit. Tetapi penghilangan itu terasa salah. Kami berdua menghela napas, saling bertukar pandangan—yang mengungkapkan bahwa kami telah menyerah lagi pada normalitas baru keluarga kami, padahal bukankah kami seharusnya bisa lebih baik dalam menghadapinya?

Kami duduk diam ketika menantu kami menyajikan porsi makanan ala Texas pada malam itu, ketika saya dan suami memilih untuk tidak mengucap syukur pada Tuhan. Kami merasa bersalah, bingung dan putus asa. Ya, saya memang hanya mewakili perasaan saya sendiri. Suami saya akhirnya mulai makan dengan lahap. Tetapi, saya hanya mencicipi sedikit, hampir tak bisa merasakan apa pun, sembari berusaha mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki dari saya dalam kehidupan keluarga kami yang tiba-tiba menjadi lintas iman ini. Apakah saya cukup bersikap sopan saja? Menghindar dari putri saya dan menjauhinya? Mengajaknya kembali kepada Kristus? Atau menikmati saja sajian suaminya tanpa berkata apa-apa? Inilah pilihan-pilihan sulit yang harus dihadapi keluarga yang terbelah. Inilah jalan penuh lubang, rintangan, dan tantangan. Seperti ditulis seorang ibu dalam suratnya kepada saya: “Semua anak saya yang ‘berbeda’ akan pulang pada hari Pengucapan Syukur tahun ini, dan saya merasa tidak nyaman.” Di balik rasa tidak nyaman itu, kebanyakan dari kami adalah orang Kristen—tetapi keluarganya terpecah-pecah karena gaya hidup, politik, iman, dan banyak lagi—benar-benar merasa bingung.

Apakah Yesus benar-benar serius ketika Dia mengajukan pertanyaan sulit ini: “Apakah kamu menyangka Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Tidak, Aku datang untuk membawa pertentangan… Ayah akan melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya; ibu melawan anaknya perempuan dan anak perempuan melawan ibunya” (Lukas 12:51,53)?

Tetapi anak perempuanku, Tuhan?

 

Inilah pertanyaan yang ingin saya ajukan pada Tuhan. Tetapi, di meja makan putri saya itu, saya hanya mengatakan hal terbaik berikutnya: “Tolong berikan brokolinya.” Ini adalah “sikap yang manis” dan rasanya seperti kompromi, terutama ketika ada begitu banyak hal penting—keselamatan putri saya dan keluarganya—yang dipertaruhkan. Namun di keluarga saya yang lintas-iman, “berdebat” demi Kristus justru akan menimbulkan hal yang pasti: percekcokan yang menyakitkan. Saya jadi menggurui dan menuntut, tidak ramah dan menghina. Jadi akhirnya saya bertanya pada Tuhan, “Apa yang Engkau ingin saya lakukan?” Jawaban-Nya pada saat makan itu adalah: Berikan brokoli itu.

Bersikaplah baik. Dan jangan lupa untuk saling mengasihi.

Namun entah bagaimana, saya terus mencari yang lain lagi.

Tetapi saya taat, dan memerhatikan putri saya mengisi piringnya dan duduk di meja makan. Anak-anaknya bahkan lebih heboh daripada sayuran itu. Si sulung menyukai dan melahap bagiannya. Adik laki-lakinya menggeser-geser batang sayur di piringnya, meminta lebih banyak ayam dan cemberut melihat sayuran. Si bungsu terkekeh. “Tidak,” katanya sambil menggelengkan kepala, tetapi akhirnya makan juga beberapa potong. Ia menatap saya dan menawarkan sayurnya pada saya, meraih kuntum-kuntum kecil brokoli untuk diberikan, jadi saya mengambil beberapa potong dari tangannya yang gemuk dan memakannya.

“Nenek!” katanya dengan gembira. “Makan brokoli!” dan ia tertawa lagi. Jadi saya ikut tertawa bersamanya, menikmati permainan kecil kami yang manis.

Inilah saat-saat penuh rahmat dalam keluarga yang terpecah, dan dorongan untuk memperdebatkan teologi—atau mendesakkan ajaran iman atau nilai-nilai kemenangan untuk Kristus—tidak akan mengembalikan putri saya kepada Kristus. Sebaliknya, semua itu akan membuatnya semakin menjauh. Jadi saya menyerah. Saya menunjukkan kasih-Nya. Dan ini bisa jadi merupakan tindakan iman terbesar.

Menunjukkan kasih berarti saya menantikan Tuhan. Saya mendengarkan suara-Nya. Saya membaca Firman-Nya yang berharga. Saya mendekat pada-Nya. Saya mempelajari gestur-gestur kebaikan. Kesabaran. Pengharapan. Anugerah. Saya tahu, sebagaimana ditulis Martin Luther, bahwa “panggilan Tuhan datang pada setiap orang melalui tugas-tugas yang biasa.” Lalu, di dalam semua ini saya mengingat hal yang terpenting: Tuhan itu kasih. Terutama di dalam keluarga yang tidak konvensional.

Pada saat menjelang hari raya seperti ini, pengingat ini penting. Di jalan ini, saya bersandar pada janji lama dan penting dari nabi Yesaya: “Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak darimu dan perjanjian damai sejahtera-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau” (Yesaya 54:10).

Saya mengkotbahkan janji itu pada diri saya sendiri. Kemudian, ketika orang-orang asing yang tidak ramah memandang sinis dinamika keluarga saya, saya dapat menyatakan bahwa Tuhan tetap mengasihi. Mengasihi saya, dan semua orang lain di keluarga saya yang agak tidak biasa.

Lagipula, Dia mengerti masalah saya—dan tantangan perjuangan saya. “Sebab Imam Besar yang kita punya bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya, sama seperti kita, Dia telah dicobai, hanya saja Dia tidak berbuat” (Ibrani 4:15). Dia tahu setiap kesalahan yang saya lakukan sebagai orang tua, kesakitan yang saya rasakan ketika putri saya menelepon dari kampus dan menyatakan bahwa ia telah meninggalkan gereja, dan juga ketakutan yang saya rasakan sekarang—setelah 15 tahun kemudian—tentang keselamatannya. Kemudian Dia mengingatkan saya: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18).

Jadi saya berdiri di hadapan dunia untuk menyatakan bahwa sikap saya terhadap putri saya yang Muslim adalah mengasihinya, sekalipun mengasihi dalam keluarga yang terpecah itu tidak mudah. Saya bukanlah ibu yang sempurna, tetapi sekarang saya memilih untuk setidaknya mengasihi. Bukankah itu awal yang baik? Terutama ketika anggota keluarga berpaling dari Kristus?

Inilah pertanyaan yang saya ajukan pada Tuhan. Apakah salah saya tetap mengasihi putri saya? Selain mengasihi, apa lagi yang harus saya lakukan? Di dalam doa, saya mendengar jawaban Roh Kudus yang indah: “Percayalah pada-Ku. Cerita belum berakhir. Ada kekuatan di dalam penantian.” (Lihat Yesaya 40:31). Sementara itu, saya bersiap sedia, seperti dikatakan Kitab Suci, “untuk memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada padamu, dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15). Dan apa artinya itu? Tetap mengasihi.

Jadi, setelah makan malam, saya membantu putri saya mencuci piring. Kami membersihkan sisa-sisa makanan dan menumpuk peralatan makan. Saya membasuh. Ia mengeringkan.

Anak-anak mandi dan mengenakan piyama, lalu duduk bersama ayah mereka untuk dibacakan cerita pengantar tidur. Saya dan putri saya bercakap-cakap. Tentang hidupnya. Tentang hidup saya. Dan tentang ketakutannya bahwa, seperti yang dikatakannya, “Orang akan menyerang saya, dan keluarga kami.” Ketakutan itu membuatnya traumatis, katanya.

“Apa maksudmu?” saya bertanya.

“Hal itu membuatku jadi paranoid. Seperti ketika ada orang yang menatapku, melihat hijabku.”

Suara putri saya terdengar seperti helaan napas di tempat sunyi. Di dalam kata-katanya yang jujur, saya merasakan tekanan dalam hidupnya. Saya mencari-cari jawaban, berusaha mengatakan hal yang tepat untuk menanggapi. Tetapi kebanyakan saya tetap diam. Mendengarkan. Menunjukkan belas kasihan. Atau empati. Atau simpati. Atau sesuatu yang menunjukkan bahwa saya bisa memahami.

Saat ia berbicara dan saya mendengarkan, saya diingatkan bahwa setiap waktu yang dihabiskan bersama putri saya adalah kesempatan untuk menjadi garam dan terang. Untuk menunjukkan anugerah dan kekuatan Kristus. Apa artinya itu sebenarnya? Dari antara teman-teman Kristen saya, beberapa mengartikannya sebagai mendesakkan Yesus, mengajarkan Yesus, membicarakan Yesus—terus-menerus menekankan kebenaran Kristus sampai Alana akhirnya “paham” dan datang kembali ke salib-Nya. Yang lain berpikir saya harus menjadi ibu yang baik. Saya harus mengasihinya dan memercayai Tuhan.

Saya telah menetapkan hati di sana—di tempat kasih dan percaya. Saya tak pernah membayangkan bahwa menciptakan damai di tengah perbedaan dan keadaan yang tidak ideal secara alkitabiah berarti bergantung pada Tuhan untuk menyelesaikan semuanya. Tetapi ketika saya mencelupkan tangan saya ke dalam air sabun hangat, membiarkan Roh Tuhan menuntun saya melalui malam ini, saya tidak merasa ragu atau bingung.

Saya masih terus berdoa untuk keselamatan putri saya. Saya ingat Monica, ibu Agustinus, yang berdoa selama 17 tahun agar putranya yang tersesat mengenal Tuhan dan melihat hal itu terujud di masa hidupnya. Iman percaya membutuhkan usaha, tetapi ganjarannya sungguh luar biasa.

Sementara itu? Saya menyerahkan diri pada kekuatan kasih yang lembut.

Saya dan suami melakukan hal itu keesokan harinya di meja makan. Kami berkumpul lagi dengan putri kami dan keluarganya di meja makan. Makanan sudah siap. Saatnya telah tiba. Suami Alana memerintahkan anak-anak untuk mengucapkan doa dalam bahasa Arab, dengan memakai kata-kata yang tak dapat saya ucapkan dan tak dapat saya mengerti.

Tetapi saya juga memilih. Itulah yang dimaksud Yesus tentang membawa perpecahan. Mengikuti Dia, kami memutuskan untuk memilih Dia. Jadi saya membisikkan nama-Nya. Yesus. Dan atap tidak runtuh. “Berkatilah makanan ini, ya Tuhan, yang akan kami terima. Dalam nama Yesus, saya berdoa.” Putri saya menengadah sejenak, tidak berkata apa-apa, lalu beringsut untuk membantu anak-anaknya makan. Tetapi suami saya, dengan garpu di tangan, menambahkan satu kata suci—”Amin.”

Kami saling pandang dan tersenyum, mengetahui bahwa kami telah mengambil langkah awal yang baik. Kami telah membuka pintu, dan Tuhan akan membuka lebih banyak pintu lagi. Kemudian dengan pengharapan bahwa kasih akan mengalahkan segalanya, kami menundukkan kepala dan makan. Makanan saya terasa lezat. Dibumbui dengan kasih. Kiranya Tuhan yang menyelesaikan hal-hal yang lainnya pada waktu-Nya.