Allah yang Berjalan Sendiri

Perjanjian yang baru bukanlah tentang kita melainkan tentang Dia yang menegakkannya. 

Oleh :Joshua Ryan Butler 

Pernahkah Anda bertanya darimana ungkapan “membuat kesepakatan” (cut a deal) berasal? Akarnya nampaknya berasal dari upacara pembuatan perjanjian Timur Dekat kuno yang muncul dalam Alkitab. Dalam Kejadian 15, misalnya, ada adegan yang, pada pandangan pertama kita saat ini, terlihat sangat aneh. Abraham menyembelih beberapa binatang menjadi dua, meletakkan bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, dan menciptakan jalur di antara mereka. Kemudian ia “tertidur nyenyak,” dimana “gelap gulita” turun meliputinya. Allah berjanji untuk menyertai umat-Nya di masa depan dan pada akhirnya membawa mereka kembali ke tanah perjanjian. Kemudian Allah berjalan diantara potongan-potongan hewan itu, sebagai “perapian yang berasap beserta suluh yang berapi.” Apa yang sedang terjadi disini?

Menyegel Kesepakatan

Di Timur Dekat kuno, salah satu tujuan penting korban bakaran adalah untuk “menyegel kesepakatan” ketika dua partai politik membuat suatu kesepakatan. Ini seumpama menandatangani kontrak. Jadi katakanlah Raja Besar Joe bernegosiasi dengan Raja Kecil Ben, dengan mengatakan, “Aku akan melindungi rakyatmu dan tanahmu dari invasi.” Raja Kecil Ben menjawab, “Bagus! Aku akan membayar pajak dan mengirim orangku untuk bergabung dengan pasukanmu.” Raja Besar Joe tersenyum. Ia berkata, “Saudara-saudari sekalian, kesepakatan telah dicapai!”

Untuk meresmikannya, mereka akan melakukan suatu upacara perjanjian. Mereka akan menyembelih hewan menjadi dua, meletakkan bagian yang satu di samping yang lain, dan kemudian berjalan menyusuri jalan itu bersama-sama sebagai dua pihak yang bersatu, diantara bahan-bahan untuk membuat makanan perjanjian.Ini adalah cara untuk mengatakan, “Jika saya tidak menepati janji saya, biarlah saya dipotong seperti hewan-hewan ini.” Mereka benar-benar menyebut upacara ini “memotong perjanjian” (cutting a covenant).

Dalam Perjanjian Lama, kata kārat(memotong) muncul sekitar 90 kali sehubungan dengan pembuatan perjanjian. Jadi saat Anda membaca Alkitab Anda dan membaca ungkapan dalam Bahasa Inggris make a covenant” (membuat perjanjian), kemungkinan besar itu adalah terjemahan dari ungkapan dalam Bahasa Ibrani “cut a covenant” [memotong perjanjian] (kārat berît).

DalamYeremia 34:8-22 contohnya, Zedekia dan rakyat Yehuda mengadakan perjanjian bersama, bersepakat untuk membebaskan budak-budak mereka. Namun saat mereka melanggar janji mereka, Allah menunjukkan bagaimana Ia menepati perjanjian-Nya saat Ia membebaskan mereka dari perbudakan. Ia mengkonfrontasi mereka, dan mengatakan bahwa mereka “telah melanggar perjanjian-Ku” dan “tidak menepati isi perjanjian yang mereka ikat di hadapan-Ku.” Lalu Allah berkata, “Aku akan menyerahkan orang-orang dengan memotong anak lembu jantan menjadi dua untuk berjalan di antara belahan-belahannya; pemuka-pemuka Yehuda, pemuka-pemuka Yerusalem, pegawai-pegawai istana, imam-imam dan segenap rakyat negeri yang telah berjalan di antara belahan-belahan anak lembu jantan itu” (Yeremia 34:18-19).

Allah merujuk bagaimana orang-orang berjalan di antara potongan-potongan anak lembu jantan dalam upacara perjanjian, tetapi sekarang mereka telah melanggar janji mereka dan akan menjadi seperti hewan-hewan itu. Mereka akan mati karena pedang, dalam ayat selanjutnya, dan mayat mereka akan menjadi makanan bagi burung-burung.

Upacara perjanjian adalah cara untuk mengatakan, “Jika saya tidak menepati janji saya, biarlah saya dipotong seperti hewan-hewan ini.”

Allah memegang janji mereka dengan serius, dan upacara perjanjian itu mendemonstrasikan secara jelas betapa beratnya konsekuensi pelanggaran perjanjian.

Saya akan membaya hutangnya

Tuhan terus mengingatkan umat-Nya akan perjanjian yang Ia buat dengan mereka. (Baca Ulangan 29:1; I Raja-Raja 8:9). Namun yang menarik adalah penekanan-Nya bukanlah pada perjanjian yang kita buat, melainkan pada perjanjian yang Ia buat. Hal in menyoroti segi yang menarik dari perjanjian yang Allah buat: Allah berjalan diantara hewan-hewan ini sendirian.

Biasanya, kedua pihak akan berjalan bersama. Namun dalam Kejadian 15, Allah menjalani jalan perjanjian sendirian. Apa maknanya? Allah bertanggung jawab penuh atas komitmen-Nya kepada keluarga Abraham.Bila Israel mengacaukan segalanya, membuat kesalahan dalam hubungan ini, dan melanggar perjanjian, Allah berkata, Biarlah Aku dipotong seperti hewan ini jika Aku masih tidak menepati janji-Ku.

Allah akan setia sampai akhir perjanjian-Nya, bahkan jika bangsa Israel tidak setia pada perjanjian mereka.

Dapatkah Anda membayangkan pergi ke dealer mobil untuk membeli Ferrari baru dan menyaksikan surat-surat yang dibuat untuk menyatakan Anda sebagai pemilik baru mobil mewah ini — namun ketika Anda hendak menandatangani, tidak ada garis putus-putus bagi Anda di bagian bawah? Satu-satunya garis putus-putus sudah ditandatangani — oleh presiden Ferrari. Anda diundang untuk berkontribusi pembayaran dan berpartisipasi dalam kesepakatan, tetapi bahkan jika Anda tidak melakukannya pun, dia yang akan menanggung hutangnya.

Beban penuh tanggung jawab agarmobil mewah ini tetap menjadi milik Anda semata-mata terletak pada sang presiden untuk setia menepati janjinya.

Hal ini penting, sebab Kejadian 15 menjadi kisah dasar. Peristiwa ini yang menetapkan sistem korban bakaran bagi bangsa Israel. Bertahun-tahun kemudian, saat bangsa ini membawa hewan mereka ke bait Allah, mereka tidak “menyegel perjanjian” dengan Allah, melainkan merayakan Allah yang telah melakukannya dengan mereka. Mereka tidak menciptakan suatu perjanjian baru, melainkan memperingati perjanjian yang kuno.

Allahada bagi bangsa Israel dengan komitmen yang tak tergoyahkan. Betapapun tidak setianya mereka, Allah akan setia pada janji yang telah Dia buat untuk mempelai wanitaNya.

Sementara sistem korban bakaranmemiliki banyak manfaat, namun yang terpenting adalah ini: Ia mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah ada bagi mereka dengan komitmen yang tak tergoyahkan. Betapapun tidak setianya mereka, Allah akan setia pada janji yang telah Dia buat untuk mempelai wanitaNya.

Perjalanan Kesendirian Yesus

Pada akhirnya, Allah akan menanggung beban perjanjian itu sendiri. Ketika umat-Nya berkhianat, menolak, dan memberontak terhadap-Nya, Allah mengambil daging dan membiarkan diri-Nya dicabik-cabik di dalam tubuh Kristus. Ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Golgota, Dia bersiap untuk berjalan di jalan itu sendirian, menanggung beban pengkhianatan kita di pundaknya-Nya sendiri, agar dapat membawa kita pulang.

Ketika kita datang ke meja perjamuan kudus, kita datang ke pengorbanan Kristus. Kita tidak datang untuk menunjukkan kepada Yesus betapa seriusnya kita terhadap-Nya, namun untuk dikejutkan lagi tentang betapa seriusnya Yesus tentang kita. Yesus menyatakan tentang anggur di meja, “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” (Lukas 22:20). Apakah Anda menangkap kata “perjanjian”? Yesus sedang memotong perjanjian baru, sama seperti perjanjian Abraham dahulu kala — hanya kali ini dengan darah-Nya sendiri. Raja Besar Yesus sedangnmenyegel kesepakatan dengan kita, umat kecil-Nya. Dan Dia melakukannya, bukan dengan darah binatang melainkan dengan nyawa-Nya sendiri di atas kayu salib. Kita bisa mengetahui bahwa kita akan selamanya bersama dengan Dia, karena Dia adalah Tuhan yang rela berjalan sendirian untuk kita.