Bagaimana Aku Bisa Melewati Kematian – Dan Melewatinya Lagi
(Kim Findlay)
Anda tak pernah benar-benar hidup jika tujuan Anda adalah menghindari dukacita—Anda harus melewatinya.
Empat pasang kaki berdiri terpaku di sana—kakiku, kaki Ibu, kaki Ayah, dan kaki petugas medis yang menyampaikan berita itu. Menggelikan betapa hal-hal kecil merebut perhatian kami pada saat-saat seperti itu. Pusaran nuansa biru dan hijau di karpet lorong rumah sakit, dering telepon yang melengking, lekukan sepatu-jalan biru tua yang dikenakan ibuku saat duduk di sebelahku….
Ini bukan pertama kalinya kami menerima kabar bahwa kanker telah menggerogoti tubuh ibuku. Lebih dari enam tahun telah berlalu sejak pertama kali kami mendengar kata “kanker” yang menakutkan itu. Setelah 18 bulan perawatan, kami pikir penyakit itu telah teratasi. Tetapi kami justru semakin mengetahui tentang penyebarannya. Perawatan lagi. Penderitaan lagi. Kesakitan lagi.
Hasil pemindaian terbaru menunjukkan penyakit itu telah membawa teman, ketika kanker kedua menyebar di tubuhnya. Dengan mata tertunduk, aku menatap setiap kaki kami, merasa penasaran dengan petualangan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Aku bersyukur kaki Ibu masih ada, dan aku membisikkan doa agar kaki itu akan terus menopangnya. Aku mengkhawatirkan tentang perjalanan ke depan dan terhanyut dalam monolog pribadi sembari membandingkan ukuran dan bentuk sepatu kami. Aku tak ingin menjalani ini lagi. Ia sudah cukup menderita. Semua sudah cukup menderita. Ya Tuhan, tolonglah.
Tanpa kusadari, kata-kata dari cerita yang kubaca ketika masih gadis bertahun-tahun lalu muncul secara berirama di pikiranku: Kamu tak bisa melompatinya dari atas. Kamu tak bisa menerobosnya dari bawah. Kamu harus melewatinya.
“Kita akan berburu beruang,” aku ingat saat aku membaca, duduk bersila dan pura-pura berjalan sambil menepuk-nepuk lutut. Cerita itu mengisahkan tentang sebuah keluarga yang berjalan melewati rerumputan tinggi, menyeberangi sungai, mengarungi lumpur, dan terjebak di hutan gelap, untuk mencari beruang. Setiap kali menghadapi rintangan, mereka menyanyi, “Uh, oh! Kita tak bisa melompatinya dari atas. Kita tak bisa menerobosnya dari bawah. Oh tidak! Kita harus melewatinya!” Dan kemudian mereka berlari atau melompat atau berenang atau berjalan dengan susah payah, kadang secara berturut-turut dan seringkali dengan sangat cepat!
Di ruangan yang dingin dan terasa menyesakkan itu, aku dengan pedih membandingkan ingatan ini dengan ingatan tentang satu babak kehidupanku berikutnya: hari ketika putriku meninggal akibat cedera yang dialami saat kebakaran rumah. Lalu, seorang dokter juga ada bersamaku di ruangan rumah sakit saat aku terjungkal ke dalam belantara duka yang paling gelap, mendengar kabar bahwa putriku tidak selamat. Tiada lain yang kuingini selain melompati hamparan duka yang membentang di depanku, tetapi tak ada jalan untuk menghindari kesedihan.
Sekitar setahun sebelum putriku meninggal, seorang teman gereja kehilangan putranya karena kanker otak. Aku menyaksikan dia melewati hari-hari, minggu-minggu, dan bulan-bulan setelah kematian putranya. Meskipun ia mengungkapkan kecemasan dan ketakutannya, ia juga berdiri dengan tangan terangkat tinggi pada saat ibadah. Aku bertanya-tanya bagaimana aku akan berespons jika anakku mati. Apakah aku akan sanggup, apalagi menyembah seperti yang ia lakukan? Lalu, seperti ibu-ibu lainnya, aku berdoa agar Tuhan melindungiku dari keharusan mengetahui jawabannya—agar kemungkinan-kemungkinan yang kupikirkan itu tidak menjadi kenyataan.
Hari ketika rumahku terbakar dan putriku mengembuskan napas terakhirnya menghidupkan kembali perkataan Yesus. Dia memperingatkan bahwa di dunia ini akan ada banyak penderitaan dan kesedihan, dan meskipun aku tidak bisa menemukan jalan keluar, Yesus menyatakan bahwa cerita itu tidak berakhir dengan kematian. Dia menghibur murid-murid-Nya – dan kita – dengan kata-kata-Nya yang berikutnya: bahwa kita dapat memiliki keberanian karena Dia telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33).
Yesus berbicara tentang kemenangan kepada murid-murid-Nya, meski pada awalnya, yang kulihat hanyalah kehancuran; aku tak bisa mengusir kesedihan itu meskipun aku telah berusaha. Aku bangun setiap pagi tanpa putriku yang meringkuk di dekatku, tanpa suara tawa riangnya yang menggema di rumah kami.
Namun, sekalipun menghadapi kematian, aku merindukan pengharapan; aku terhuyung-huyung menggapainya. Selama hari-hari gelap, aku tidak hanya belajar tentang kebaikan Tuhan, aku juga mulai mengalaminya melalui kehadiran-Nya. Dia duduk bersamaku dalam gelap (Mikha 7:8). Dia mencatat sengsaraku dan menyimpan air mataku (Mazmur 56:8). Aku belajar bahwa pengalaman-pengalaman menghancurkan hati yang ingin kuhindari ini sebenarnya mengundangku untuk melihat Tuhan secara berbeda, untuk menyaksikan kemurahan-Nya. Hari-hari mengarungi samudera kehilangan itu mengungkapkan kedalaman karakter dan kasih-Nya padaku (Yesaya 43:2). Mungkin itulah yang dimaksud Elisabeth Elliot ketika ia menulis, “Aku yakin tak ada apa pun yang dapat terjadi padaku dalam hidup ini yang tidak dirancang tepat oleh Tuhan yang berdaulat untuk memberiku kesempatan belajar mengenal-Nya.”
Aku masih tidak menginginkan penderitaan terjadi, dan aku tidak sepenuhnya memahami bagaimana segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan kita (Roma 8:28), tetapi itu benar. Jadi, di sinilah kami duduk bersama dalam setengah lingkaran, membahas opsi-opsi untuk ibuku. Aku mengenal orang-orang yang menderita kanker, menjalani perawatan, dan memerhatikan serta mengingat cerita-cerita mereka, tetapi tidak ada yang menyiapkan aku untuk menyaksikan ibuku sendiri menderita.
Meskipun aku telah mengalami sengat kematian dan dukacita hampir dua dekade yang lalu, perjalanan bersama ibuku ini berbeda. Sekarang aku adalah anak, bukan ibu. Kami punya waktu untuk mempersiapkan, memproses, dan berduka bersama. Ada hari-hari ketika aku hampir lupa kalau ia sakit—sampai aku mendengar tentang rasa sakit yang meningkat, dosis obat yang meningkat, dan memikirkan pembicaraan yang tak terelakkan tentang perawatan paliatif. Tetapi karena Yesus, kami berbicara tentang sukacita yang akan datang. Saat Ibu semakin mendekati ajal, kami bergerak perlahan di antara mengantisipasi kematian dan merengkuh setiap kesempatan ia masih bersama kami. Aku merenungkan betapa banyak waktu yang telah kuhabiskan untuk bertumbuh dewasa, untuk berusaha mandiri dari orangtua; sekarang, aku hanya ingin duduk bersama Ibu dan mendengarkan cerita-ceritanya.
Kita tidak bisa melompatinya dari atas, kita tidak bisa menerobosnya dari bawah, kita harus melewatinya. Tetapi kita tidak sendirian. Yesus berjanji menyertai kita melewati seluruh kedukaan dan berdoa untuk kita ketika kita tak dapat berkata-kata (Roma 8:26). Yang terpenting, mengenal Yesus berarti kita dapat menantikan dengan pasti saat ketika kematian, sakit penyakit, dan kesedihan tidak akan ada lagi (Wahyu 21:4). Sebelum saat itu tiba, kita akan berjalan melewati rerumputan yang tinggi, menyeberangi sungai dengan susah payah, berjuang mengarungi lumpur, dan bahkan tersandung di hutan gelap. Ya Tuhan, kiranya kami melihat bukti kebaikan-Mu yang nyata dan lembut saat kami dalam perjalanan ini.
