Bagaimana Mengampuni Diri Sendiri
Sendiri (Katelyn J. Dixon dan Staf In Touch Ministries)
Panduan Sentuhan Hati untuk Kesehatan Rohani Yang Lebih Baik
Alkitab penuh dengan janji-janji tentang kasih karunia Tuhan, tetapi kadang kita membiarkan rasa bersalah kita atas dosa mengalahkan kebenaran. Akibatnya? Kita tidak mau mengampuni, terutama diri kita sendiri. Kita mungkin berpikir kita melakukan hal yang mulia dengan menetapkan standar yang tinggi pada diri sendiri. Padahal, menolak mengampuni diri sendiri sebenarnya adalah bentuk kesombongan. Ketika kita tidak mengizinkan kasih karunia Tuhan menutupi kegagalan kita, sepertinya kita percaya bahwa penilaian kita tentang dosa lebih baik atau lebih tepat daripada penilaian Tuhan.
Melalui Musa, Tuhan berkata kepada umat-Nya, “Hendaklah kamu kudus, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Imamat 19:2). Salah satu cara Dia mengungkapkan kekudusan-Nya adalah dengan memberi pengampunan melimpah, dan menjauhkan dosa-dosa kita “sejauh timur dari barat” (Mazmur 103:12). Ketika kita menjadi dewasa dalam iman Kristen, kita mencerminkan kekudusan Tuhan dengan memberi pengampunan seperti Dia, bahkan —mungkin terutama—kepada diri sendiri.
Tidak mudah untuk selaras dengan Tuhan dan betul-betul mengampuni diri sendiri seperti kita telah diampuni. Tetapi kami berharap observasi dan latihan-latihan dalam panduan ini akan membebaskan Anda dari belenggu tidak mengampuni, sebagaimana yang Yesus kehendaki. Pada kenyataannya, mengampuni diri sendiri bukanlah hal yang bisa Anda kuasai sekali saja, tetapi keterampilan yang harus terus dilatih seumur hidup. Terkadang rasa bersalah lama muncul lagi. Namun, setiap kali Anda menerapkan saran-saran ini, Anda akan mengembangkan kemampuan untuk merespons dengan kasih karunia daripada penghukuman. “Kristus telah memerdekakan kita supaya kita sungguh-sungguh merdeka” (Galatia 5:1)—dan itu termasuk menunjukkan kasih karunia kepada diri kita sendiri.
Penilaian Yang Jujur
Anda mungkin bertanya-tanya, Apa sebenarnya arti mengampuni diri sendiri? Bukankah mengetahui saya diampuni Tuhan saja sudah cukup?
Gampangnya, mengampuni diri sendiri berarti beralih dari sekadar percaya tentang pengampunan menjadi hidup selaras dengan pengampunan yang sudah kita miliki. Dan ada perbedaan besar di antara keduanya. Mengetahui dan memercayai bahwa kita diampuni dalam Kristus adalah langkah awal yang sangat penting. Tetapi, jika kita tidak pernah menghidupi kemurahan yang melimpah itu, kita berisiko menolak kasih karunia yang hendak Tuhan curahkan pada kita sebagai anak-anak-Nya yang kekasih.
Lalu, bagaimana kita tahu jika kita terbelenggu di penjara tidak mengampuni? Apa perbedaan antara menginsafi dosa dengan tetap terjebak dalam kebuntuan rasa bersalah dan malu? Adanya kegelisahan secara rohani, emosional, dan mental—terutama ketika kita sedang sendirian dengan pikiran-pikiran kita —dapat menjadi indikasi yang baik.
- Saat Anda bangun tidur, pikiran-pikiran apa yang pertama kali muncul di benak Anda? Luangkanlah
waktu beberapa menit lagi setiap pagi untuk merenungkan dan mengidentifikasi pikiran-pikiran itu.
Anda mungkin menyadari adanya kemarahan, rasa malu, atau kepahitan di hati Anda, tetapi Anda
tidak tahu pasti apa sebabnya.
- Ketika Anda tidur di malam hari, apakah Anda masih saja teringat pada kegagalan Anda? Apakah
Anda terus memikirkan kesalahan-kesalahan yang lalu, bahkan setelah Anda bertobat dan meminta
pengampunan?
- Apakah Anda berulang-ulang meminta Tuhan mengampuni Anda atas hal yang sama?
Jika hal-hal ini terdengar tidak asing, kemungkinan ini menunjukkan Anda masih bergumul untuk mengampuni diri sendiri. Jangan berkecil hati. Firman Tuhan menyatakan: kita diundang untuk mengalami pembaruan batin setiap hari melalui kuasa Roh Kudus (2 Korintus 4:16). Tidak pernah terlambat untuk memulai lagi—untuk belajar berjalan dalam kasih karunia dan pengampunan kepada diri sendiri.
Alihkan Fokus Anda
Begitu kita menyadari bahwa tidak mengampuni membuat kita terpaku pada sesuatu yang bukan hati Tuhan yang murah hati, kita terbebas untuk menyelaraskan diri dengan pengampunan-Nya yang melimpah bagi kita.
Latihan ini akan semakin mudah seiring berjalannya waktu, tetapi mungkin sulit untuk mengetahui dari mana harus memulainya. Berikut ini ada beberapa langkah lanjutan yang dapat Anda lakukan dengan disertai doa. Pikirkan untuk menyiapkan jurnal dan pena di dekat Anda. Juga berusahalah mencari tempat yang tenang agar Anda dapat memproses hal-hal ini bersama Tuhan.
Jika Anda merasa tidak nyaman, tariklah napas dalam-dalam beberapa kali—tarik napas melalui hidung lalu embuskan melalui mulut. Tindakan sederhana ini memicu yang disebut para dokter “respons relaksasi,” yang mereduksi detak jantung, tekanan darah, dan hormon stres dalam tubuh. Dan setiap kali Anda bernapas, panjatkanlah doa sederhana untuk membantu Anda mulai berfokus pada Tuhan. Sebagai contoh, cobalah salah satu doa berikut ini atau ciptakan doa Anda sendiri berdasarkan ayat Alkitab. (Kitab Mazmur merupakan sumber yang sangat baik).
(Tarik napas) Ya Roh Tuhan,
(Embuskan) tunjukkanlah padaku kebenaran.
(Tarik napas) Bapa yang berbelas kasih,
(Embuskan) bukalah mataku.
(Tarik napas) Tuhan yang pengasih,
(Embuskan) terangilah pikiranku.
Saat Anda sudah rileks, mintalah Roh Kudus menuntun Anda dan menunjukkan bagian-bagian hidup Anda yang selama ini terlalu keras pada diri Anda sendiri. Tak perlu terburu-buru. Bersabarlah dan percayalah kepada Tuhan. Dia tahu persis apa yang Anda butuhkan.
Begitu Roh Kudus mengingatkan Anda pada sesuatu, dalamilah dengan mengajukan satu atau beberapa pertanyaan berikut ini:
- Apa sebenarnya yang ingin saya capai dengan tidak mengampuni diri sendiri?
- Saya takut kehilangan apa jika saya mengampuni diri sendiri?
- Apa yang bisa saya dapatkan jika saya melepaskan rasa bersalah saya?
- Apakah saya akan memperlakukan orang lain sama seperti saya memperlakukan diri sendiri?
- Apakah saya menghukum diri sendiri karena hal itu lebih mudah daripada mengakui kesalahan
dan memperbaiki segala sesuatu?
Bersandar pada Firman untuk Membingkai Ulang Pikiran
Mempelajari ayat-ayat Kitab Suci yang berbicara tentang pengampunan Tuhan kepada orang lain juga dapat membantu, dengan mengingat bahwa firman Tuhan itu juga berlaku untuk Anda.
Berikut ada beberapa bagian Alkitab yang dapat Anda renungkan. Bacalah dengan suara keras, ulangi ayat-ayat, frasa-frasa, atau kata-kata yang menyentuh hati Anda. Anda dapat memulainya dengan:
Memiliki ayat-ayat Alkitab yang siap-pakai memungkinkan kita untuk secara aktif melawan tipu muslihat si Jahat dan menawan “segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2 Korintus 10:5). Kita juga dapat mewaspadai pikiran-pikiran tidak mau mengampuni, mengidentifikasinya, dan menyerahkannya kepada Yesus. Ketika kita melakukannya, kita mengalihkan pandangan kita dari kegagalan-kegagalan kepada wajah Kristus yang memandang kita dengan kasih.
Ketika Anda menyadari ada pola pikir yang menghalangi Anda untuk mengalami pengampunan Tuhan, cobalah bingkai ulang pikiran-pikiran itu dengan langkah-langkah berikut ini:
- Identifikasi pikiran itu
Misalnya: “Saya benar-benar gagal. Saya tidak layak dikasihi.”
- Fokus pada kebenaran
Dengan memakai panduan yang Anda pelajari dari Kitab Suci, bertanyalah pada Roh Kudus apakah
pikiran Anda selaras dengan perkataan Tuhan.
- Bingkai ulang pikiran itu
Katakanlah seperti: “Ya, saya telah melakukan kesalahan. Meskipun begitu, tidak ada apa pun yang
dapat memisahkan saya dari kasih Tuhan. Saya berharga” (Roma 8:38-39).
Biarkan Tubuh Anda Mengarahkan
Terkadang sulit untuk betul-betul memahami sesuatu yang abstrak seperti pengampunan. Pada saat-saat seperti itu, kita dapat menggunakan tubuh yang menakjubkan yang Tuhan berikan pada kita ini untuk membantu membuat pelajaran ini menjadi lebih nyata melalui latihan berdoa dengan tubuh.
- Ketika Anda perlu melepaskan sesuatu, Anda dapat berdoa dengan telapak tangan menghadap ke
bawah dan berkata pada Tuhan, “Saya menyerahkan ilusi bahwa tidak mengampuni diri sendiri itu
baik. Tolonglah saya memilih cara yang lebih baik.”
- Ketika Anda siap menerima kasih karunia dari Tuhan, Anda dapat berdoa dengan telapak tangan
menghadap ke atas dan berkata, “Saya menerima pengampunan dalam nama Yesus.”
Ciptakan Tanda Pengingat Visual
Setelah Anda menyelesaikan pergumulan rohani dan mengampuni diri sendiri, ada baiknya Anda membuat semacam Ebenhaezer atau tugu pertolongan (lihat 1 Samuel 7:12; Ulangan 27:1-8). Tanda pengingat ini bisa berupa batu di taman, tanaman di dekat jendela, atau benda lainnya yang memiliki makna khusus. Setiap kali Anda melihatnya, biarkan benda itu mengingatkan Anda bahwa Anda sudah diampuni.
Tidak Ada Dosa Yang Terlalu Besar
Meskipun Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali setelah berjanji bersedia mati bersama Yesus, Tuhan memberi kesempatan kepada murid itu untuk memperbaiki kesalahan. Tiga kali Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” dan memercayakan kembali panggilan-Nya kepada Petrus. (Baca Yohanes 21:15-17). Yesus tahu persis apa yang dibutuhkan hati murid yang merasa bersalah itu agar ia dapat terbebas dari rasa malu dan melaksanakan misi kerajaan-Nya. Yesus juga tahu apa yang dibutuhkan hati Anda.
Perjalanan untuk mengampuni diri sendiri jarang yang berupa garis lurus. Seperti Petrus, kita mungkin mendapati diri kita kembali kepada pola-pola rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri, meskipun kita sudah mengalami pengampunan Tuhan. Ini merupakan bagian dari belajar hidup dalam kasih karunia. Tujuannya bukan untuk bisa mengampuni diri sendiri dengan sempurna sekali dan untuk selamanya. Melainkan supaya kita semakin mudah menyadari ketika kita menahan kasih karunia dari diri sendiri—dan semakin cepat kembali kepada kebenaran tentang siapa diri kita di dalam Kristus.
Setiap kali kita berlatih menerima pengampunan Tuhan, kita mengembangkan otot memori rohani. Kita melatih diri kita untuk menyikapi rasa bersalah dengan kasih karunia, bukan dengan penghukuman. Seiring berjalannya waktu, kita akan mendapati bahwa rentang antara kita bergumul dengan mengampuni diri sendiri menjadi lebih panjang, atau kita dapat melewatinya dengan lebih cepat.
Melepaskan rasa bersalah berarti mendekat, bukan menjauh dari Bapa. Bersama Dia, setiap hari merupakan kesempatan untuk memulai lagi, hidup dalam kemerdekaan dan kepenuhan kasih karunia-Nya. Dan jika esok ada kesempatan untuk mengampuni diri sendiri lagi, Anda dapat menghadapinya dengan keyakinan yang berasal dari memahami bahwa kemurahan Tuhan selalu baru setiap pagi (Ratapan 3:22-23).
