Teman Yang Tidak Berusaha Memperbaiki

(Michelle Van Loon)

Kadang hal terbaik yang dapat kita berikan adalah kehadiran kita.

Yang tersisa di kamar anak kami yang berusia 19 tahun hanyalah kasur usang, beberapa potong pakaian yang tak diinginkan di gantungan baju, serta bekas-bekas pembungkus yang berserakan seperti serpihan di lantai. Saya berdoa, “Sekarang apa, Tuhan?” tetapi kata-kata itu seakan membentur langit-langit dan pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. Setelah berbulan-bulan berusaha menyelesaikan masalah ini, tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain berdiri dalam keheningan dan berduka.

Untuk beberapa waktu, kami tampaknya hanya menghadapi konflik remaja biasa. Namun saya dan suami ternyata tidak siap menghadapi keadaan yang makin lama makin buruk selama tahun terakhir. Setelah membuat serangkaian keputusan berbahaya, anak yang sangat kami kasihi terlibat perilaku yang semakin merusak dirinya sendiri bersama teman-teman yang semakin toksik, sampai akhirnya pergi meninggalkan rumah untuk mencari “kebebasan.”

Meskipun rasa sakit itu benar-benar nyata, saya mestinya tidak terkejut. Penulis kitab Pengkhotbah telah berkata, ada waktunya untuk setiap peristiwa di setiap musim kehidupan kita di dunia ini: ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal. Keselarasan yang indah dalam pasangan kata-kata yang bertentangan itu (Pengkhotbah 3:2-8) menekankan luas dan beragamnya pengalaman manusia. Namun, ketika satu musim kehidupan berganti ke musim yang lain, masa transisi itu bisa sangat membingungkan, apalagi jika beralih dari masa yang penuh sukacita dan kegembiraan ke masa kehilangan dan perubahan yang tak diinginkan.

Setelah anak kami pergi, saya dipenuhi rasa penyesalan dan terus-menerus mempertanyakan-lagi setiap keputusan yang pernah kami buat sebagai orangtua—mulai dari jenis popok yang kami gunakan hingga aturan jam malam di rumah kami. Karena sangat membutuhkan arahan, kami menghubungi teman-teman yang bermaksud baik. Banyak yang memberikan nasihat (yang banyak juga saling bertentangan), termasuk agar lebih banyak berdoa, berpuasa, dan mengklaim janji-janji Alkitab tertentu bagi keluarga kami, meskipun seringkali dicomot di luar konteks.

Ada yang menasihati supaya kami memberi bantuan dana, sementara yang lain menyarankan agar kami sama sekali tidak memberi bantuan keuangan; ada yang menganjurkan untuk menetapkan batasan yang tegas, sementara yang lain mendorong untuk memberi undangan untuk pulang tanpa syarat, tanpa mempertimbangkan apakah perilakunya sudah berubah atau belum. Kami mencoba hampir semua nasihat yang kami terima, tetapi tidak satu pun yang mengubah arah perjalanan hidup keluarga kami yang bagaikan kisah dalam perumpamaan anak yang “hilang”. Ketika anak kami akhirnya meninggalkan rumah, kami sudah sangat kelelahan dan semakin bingung daripada sebelumnya.

Penulis kitab Pengkhotbah kemungkinan akan menilai situasi kami dengan berkata bahwa ada waktunya untuk membesarkan anak-anak, dan ada waktunya untuk memasuki masa yang berbeda, ketika kami tak lagi punya pilihan selain menyaksikan salah satu anak pergi dari kehidupan kami. Kesedihan dan ketakutan membuat saya terjebak di antara “masa-masa” itu, ketika saya terus terombang-ambing antara mengingat masa lalu keluarga kami dan bergumul dengan bayangan-bayangan menakutkan tentang masa depan yang mungkin terjadi jika anak kami terus menempuh jalan yang dipilihnya.

Bersyukur Tuhan tahu bahwa yang paling saya butuhkan saat itu bukanlah lebih banyak nasihat, tetapi seseorang yang telah mengarungi masa sulit yang sama. Dan Dia menyediakan orang yang tepat untuk tugas itu. Teman saya, Cricket, usianya satu generasi di atas saya, dan telah menjalani kehidupan penuh warna yang rumit. Saya mengenalnya di gereja, tetapi kami tidak terlalu dekat. Namun hal itu berubah pada suatu Sabtu pagi yang mengerikan (namun memulihkan).

Suami dan anak-anak saya yang lain sedang pergi, jadi saya sendirian di rumah. Keheningan lagi-lagi memperdalam kesedihan saya, dan saya duduk di sofa menahan air mata. Secara emosional, saya sedang berada di lembah gelap. Apakah anak kami aman? Adakah tempat yang hangat untuk ia tidur dan apakah ia cukup makan? Apakah narkoba ikut terlibat dalam semua masalah ini? Kecemasan saya menjulang ketika saya membayangkan puluhan kemungkinan akhir yang buruk dari kisah ini.

Telepon berdering, dan ketika diangkat, saya mendengar suara Cricket yang ceria. Ia berkata, “Aku baru saja mendoakanmu dan terpikir untuk meneleponmu, untuk mengetahui apakah …” Ia terdiam saat mendengar saya terisak dan berusaha menenangkan diri, lalu dengan lembut ia bertanya, “Michelle, kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan itu membuat air mata saya kembali bercucuran. Dan dari suara tangis itu, ia tahu bahwa saya sama sekali tidak baik-baik saja. Ia menunggu dengan sabar sampai saya lebih bisa menguasai diri, lalu berkata, “Kamu bisa mengambil waktu sebanyak yang kamu perlukan. Aku di sini.”

Kata-kata itu memberi saya izin untuk melepaskan semuanya. Saya menangis tersedu-sedu sampai seluruh tubuh saya bergetar, hal yang tak pernah saya izinkan terjadi sebelumnya. Seolah-olah setiap kepingan rasa sakit, kemarahan, frustrasi, dan ketakutan yang selama ini terpendam menuntut untuk dilepaskan.

Setelah beberapa menit berlalu dan tsunami air mata itu mereda menjadi gerimis musim semi yang lembut, ia bertanya, “Ada apa?”

Saya katakan padanya bahwa saya benar-benar hancur pagi itu, dan ia mendengarkan dengan penuh perhatian ketika saya menceritakan kesedihan dan kekhawatiran saya tentang anak saya.

Setelah saya selesai, ia berkata, “Kalau kita hidup cukup lama, kita semua pasti menghadapi masa-masa sulit, bukan?” Perkataan ini memang tidak seindah atau sepuitis yang ditulis penulis kitab Pengkhotbah, tetapi saya mulai mengerti, itulah Cricket yang sebenarnya. Perkataan sederhana dan membumi itu adalah caranya merangkum hikmat Qoheleth—bahwa dosa, kedukaan, dan kehilangan adalah bagian dari pengalaman hidup manusia.

“Sebagian dari rasa sakit itu terjadi akibat pilihan-pilihan bodoh kita sendiri,” lanjutnya. “Sebagian lagi dukacita yang datang bersama kematian. Dan ada juga jenis penderitaan seperti yang kamu alami sekarang, ketika orang yang kamu kasihi bergerak ke arah yang salah, membuatmu sangat cemas dan tak berdaya untuk melakukan apa pun tentang hal itu.”

Kejujuran dan tindakan Cricket mencerminkan perkataan Paulus di 2 Korintus 1:3-5: bahwa penghiburan yang kita terima dari Tuhan pada saat kita menderita pada akhirnya dimaksudkan untuk dibagikan kepada orang lain yang terluka. Cricket kemudian juga menceritakan hari-hari sulit yang ia alami ketika harus membesarkan anak-anaknya sendiri, yang beberapa di antaranya juga membuat pilihan yang buruk. Ia tak punya jawaban yang mudah untuk saya dan tidak memberikan nasihat apa pun selama percakapan kami. Tetapi yang ia lakukan justru memberikan yang jauh lebih baik.

Ia juga berdoa bersama saya sebelum kami mengakhiri percakapan, dan terus menghubungi saya selama beberapa bulan berikutnya, selalu bersedia mendengarkan dan berdoa. Empatinya bagaikan balsem penuh kasih Tuhan yang menyembuhkan. Meskipun Cricket kini sedang menikmati musim kehidupan yang lebih bahagia, ia bersedia mengingat kembali masa-masa sulit dari masa lalunya agar dapat mendampingi saya melewati masa kini yang penuh kepedihan.

Karena kepeduliannya, saya mulai menyadari bahwa kebanyakan teman sebaya saya yang selama ini memberi nasihat pada saya sebenarnya hanya membagikan berbagai “rumus” yang mereka baca dari buku-buku tentang mengasuh anak atau dengar dari program-program radio Kristen. Nasihat itu, meskipun sebagian memang baik, biasanya justru hanya membuat saya semakin merasa sendirian.

Yang saya butuhkan adalah pendampingan, pengertian, dan empati—yang tidak bisa dipelajari dari buku atau ceramah. Kemampuan untuk menghibur dan menguatkan orang lain harus diperoleh melalui jalan yang sulit. Cricket mampu hadir bersama dan untuk saya karena ia memiliki sesuatu yang belum dimiliki orang lain—penghiburan yang telah ia terima sendiri dari Tuhan selama masa-masa kelam hidupnya sendiri. Dan dengan murah hati ia memberikan penghiburan yang sama itu pada saya.

Dua puluh tahun kemudian, kisah kami masih terus berlanjut. Tidak ada penyelesaian yang rapi dan tuntas untuk diceritakan. Realitanya memang tidak harus demikian. Ini adalah perjalanan anak saya sendiri, dan saya juga harus menjalani perjalanan saya sendiri. Persahabatan Cricket, yang dipenuhi kehadiran yang penuh kasih dan sangat bersih dari usaha-usaha memberi nasihat, kini menjadi teladan yang saya andalkan ketika saya diizinkan masuk ke dalam kesusahan dan kebingungan orang lain.

Saya tidak lebih mampu “memperbaiki” masalah orang lain daripada masalah saya sendiri, tetapi saya dapat menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata klise yang kosong. Saya dapat masuk ke dalam rasa sakitnya, menatap matanya, dan berkata, “Aku mendengarmu, dan aku ada di sini untukmu—apa pun yang terjadi.” Dan tidak seperti begitu banyak hal lainnya, hal itu tidak akan pernah berubah.