Basa-basi Kosong

basa-basi-yang-kosongMeman saya, Linda memutuskan untuk mengunjungi Jenna, seorang wanita muda yang baru saja mengalami keguguran beberapa hari sebelumnya. Kedukaan dan kehilangan yang dirasakan wanita ini sangat dalam. Banyak sahabat dan sanak keluarga telah berusaha mengatakan sesuatu untuk dapat menghiburnya, namun kebanyakan tidak berhasil sedikit pun. Tetapi Linda menyampaikan sesuatu yang benar-benar dapat membuat Jenna tertawa. Apakah itu?    

Teman yang bijaksana ini berkata, “Izinkan saya menebak semua nasihat yang sudah kamu dengar beberapa hari terakhir ini.” Dan ia pun mulai menyebutkannya satu per satu:

 

  • Kamu selalu bisa mengusahakannya lagi.
  • Mungkin ini yang terbaik, karena ini cara alami untuk terbebas dari bayi bermasalah.
  • Bersyukurlah hal ini tidak terjadi ketika kehamilan sudah lebih besar.
  • Waktunya mungkin belum tepat.
  • Ehm, bagaimanapun bukan kamu yang merencanakan.
  • Allah tidak pernah memberikan melebihi yang dapat kita tanggung.
  • Kita tidak bisa mempertanyakan kehendak Allah.

Jenna sudah mendengar semua nasihat itu. Ia bahkan lalu menambahkan beberapa nasihat lagi, dan kelegaan yang memulihkan dari tertawa muncul. Kita semua juga sudah mendengar perkataan-perkataan ini sebelumnya. Bahkan kita sendiri mungkin sudah menggunakannya. Bagaimanapun, sebagian besar berisi kebenaran, dan tujuan kita adalah baik. Lalu, mengapa tidak berhasil? Bagaimana mungkin kata-kata penghiburan kita akhirnya terasa begitu hampa dan tak berarti – tak ubahnya seperti basa-basi yang kosong? Pertama-tama, mari berjalan bersama saya ke dalam pikiran orang yang sedang terluka. Ketika Anda dan saya berkata, “Kamu selalu bisa mengusahakannya lagi,” mereka berpikir, Tidak untuk bayi ini, saya tidak bisa. Insan unik yang sudah saya kasihi ini telah tiada. Tak ada kesempatan kedua bagi anak ini

Ketika kita berkata, “Anggaplah ini sebagai berkat,” mereka berpikir, Serius ? Mungkin saya lalu harus berharap dan berdoa agar Tuhan memberkati saya dengan 14 kali keguguran lagi agar saya benar-benar diberkati. Terus terang, saya lebih suka Dia pergi dan memberkati orang lain saja.    

Ketika kita berusaha menghibur orang yang sedang berduka, tujuannya bukanlah supaya ia bisa merasa lebih baik. Ini baru bisa berhasil jika ia merasa lebih buruk. Dukacita bukanlah untuk dihindari, tetapi untuk dialami. Dilalui. Ditanggung. Diurai. Sebuah perjalanan yang harus dijalani. Mengucapkan basa-basi pada seorang yang sedang menderita, sekalipun dengan maksud terbaik, akan terasa seperti berusaha mengurangi yang sedang ia rasakan – meskipun kita memakai berbagai cara yang berbeda, seperti “Ini tidak benar-benar sangat buruk.”
 
Cangkir Kosong.
Ketika dukacita melanda, ada suatu tugas yang harus dikerjakan. Ibarat diberi cangkir tak kelihatan yang harus diisi penuh. Setiap airmata yang tumpah, setiap kekacauan tak terduga di toko makanan, setiap  benda yang kita sentuh yang membanjiri pikiran kita dengan sejuta kenangan, dan setiap hari kelabu yang tampaknya tak pernah berakhir – semuanya ini akan ditambahkan ke dalam cangkir kita. Dukacita  itu tidak akan berakhir sampai cangkir itu penuh. Hanya persoalannya di sini adalah: kita tidak tahu seberapa besar cangkir itu. Pada akhirnya, cangkir itu penuh kalau sudah terisi penuh.     

Tidak ada formula untuk mengisi cangkir dengan benar. Jangan pernah menganggap yang sudah dilakukan terhadap Anda akan berlaku bagi orang lain. Tugas kita hanyalah berada di sana meskipun orang itu hanya melakukan apa saja yang perlu dikerjakan. Akan tiba waktunya, jauh setelah itu, ketika ia sungguh-sungguh ingin mendengar kata-kata positif yang menguatkan, ketika ia membutuhkan semua hal ini untuk memikirkan sesuatu. Tetapi bukan sebelum ia memberi isyarat bahwa ia sudah siap untuk beringsut. Karena pada saat ini ia benar-benar perlu waktu untuk merasakan kesakitan ini sepenuhnya.

Teladan Yesus.
Di dalam Injil Yohanes pasaI 11, Yesus menunjukkan seperti apa belas kasihan itu ketika menghadapi orang yang berdukacita. Maria dan Marta baru saja kehilangan saudara mereka, Lazarus. Yesus sudah tahu beberapa hari sebelumnya kalau sahabat-Nya akan mati. Dan Dia juga tahu benar bahwa Dia akan membangkitkan Lazarus dari kematian.  Ketika Yesus tiba di rumah duka, Dia tahu kedua saudara itu membutuhkan kehadiran-Nya, tetapi sikap-Nya terhadap setiap mereka sangat berbeda. Marta sedang ingin curhat. Ia hanya ingin dimengerti, maka begitu mendengar Yesus datang, ia pun langsung menemui-Nya dan berkata, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (Yohanes 11:21). Tetapi ungkapan kesedihan Maria yang mendalam berbeda. Ketika orang-orang pergi menyambut Yesus, ia hanya tinggal di belakang sampai orang harus memanggilnya.     

Yang terjadi selanjutnya menarik, karena memberi kita pelajaran tentang bagaimana tindakan terbaik kita saat menghadapi orang yang berduka. Yesus tahu Dia akan membangkitkan Lazarus, sehingga penyebab yang membuat Maria menangis akan tersingkir. Anda dan saya mungkin akan tergoda untuk mengucapkan kata-kata yang mengajak semua bersukacita. Namun ternyata yang dilakukan Yesus luar biasa. Yesus menangis.     

Empati dan belas kasihan-Nya membuat-Nya menyatu dengan penderitaan yang dirasakan Maria. Dia tahu apa yang dibutuhkan Maria. Tak dapat disangkal, Yesus memang punya kelebihan – Dia dapat melihat kebutuhan manusia dengan penglihatan ilahi. Kita tidak memiliki visi-hati semacam itu. Kita harus melihat tanda-tanda, mengajukan banyak pertanyaan, kadang terdiam, dan membiarkan orang yang ingin kita tolong benar-benar mengarahkan kita untuk melayani mereka. 

"Inilah yang Kubutuhkan"
 Seorang sahabat saya sudah lama hidup sendiri tanpa kami tahu bahwa ia pernah menikah. Lalu ia bertemu Sandy, dan kisah cinta pun bersemi. Namun tak lama setelah mereka menikah, Sandy kedapatan mengidap kanker yang akan segera merenggut nyawanya. Ketika saya dan suami mengunjunginya, kami tidak tahu apa yang harus kami katakan. Namun Sandy telah mengambil langkah proaktif dengan membuat pamflet “Inilah yang Kubutuhkan” untuk menyambut para tamu di pintu masuk. Di dalam pamflet itu dijelaskan tentang hal apa saja yang tidak ingin ia dengar dan hal apa pula yang paling senang ia dengar. Dengan kata lain, hal itu memudahkan kami untuk melayani wanita itu dengan yang terbaik. Memiliki saran yang jelas itu melegakan, dan membuat kami dapat menjadi berkat dengan cara-cara yang tepat.    

Kebanyakan orang yang terluka tidak mampu mengungkapkan apa sebenarnya yang mereka butuhkan. Tidak ada pedoman pasti yang dapat memberi kita petunjuk tentang bagaimana mengambil langkah terbaik, jadi saya belajar untuk meninggalkan basa-basi kosong. Kita perlu datang dengan sikap mau melayani, mendengarkan, memperhatikan, dan ikut menanggung beban.  Atau jika kita memiliki keberanian untuk berdiam diri, kita dapat berbuat seperti Yesus, dengan ikut menangis saja.

-Carol Barnier