Di Hadapan Lawanku (Patricia Raybon)

Bagaimana doa meletakkan dasaruntuk terjadinya rekonsiliasi

 

Kami duduk di sebuah restoran, tidak bergosip. Tidak mengintimidasi. Tidak membenci. Sebaliknya, orang kulit putih sangar yang duduk di depan saya – orang yang di tempat kerja biasa melecehkan saya, yang setiap hari mengatakan hal-hal buruk tentangsaya, meski tidak terlalu keras tetapi cukup keras untuk saya dengar setiap kata kasar dan kejamnya – saat itu makan siang bersama saya. Dan kami bercakap-cakap tentang kehidupan.

Itulah awalnya. Kedua orang itu akhirnya mengalami terobosan.

Kami sama-sama memiliki anak remaja, jadi kami mencemaskan mereka. Kami sama-sama punya pasangan, jadi kami memikirkan mereka. Kami sama-sama mengalami kekecewaan, jadi kami mengakui tentang hal itu.

Dan sesudah makan, kami bersulang atas persahabatan kami dan kembali bekerja. Waktu makan siang selesai.

Namun peristiwa nyata ini hampirtak pernah terjadi. Saya seorang reporter surat kabar pada saat itu – yang agresif, ambisius dan sangat dipenuhikepentingan diri sendiri. Ia rekan sekerja saya, yang jauh lebih agresif, dan jauh lebih ambisius dari saya. Kami seharusnyasudah bersahabat sejak lama. Tetapi ini di Amerika. Kami sama-sama dibesarkan dengan kebencian terhadap warna kulit yang berbeda. Ia tinggal di Selatan, dan saya dari Barat. Letak geografi tidak masalah. Di Amerika, orang sudah belajar membenci warna kulit yang berbeda sejak dini. Bagi teman saya, itu berarti mengenal N-word (istilah berkonotasinegatif) dan memilih untuk sering-sering memakainya.Bagi saya, itu berarti mendengar guru di sekolah menyebut saya “Nobody” (bukan siapa-siapa) dan melihatnya memercayai hal itu. Isyarat-isyaratnya jelas, seperti saya tidak bisa memakai kamar mandi umum. Saya tidak bisa mengambil airminum yang sama. Saya tidak bisa makan di restoran. Saya tidak bisa menumpang transportasi kereta. Saya tidak bisa bermain di taman. Saya tidak bisa nonton bioskop di gedung utama. Jadi saya akan membawa berondong jagung dan minuman saya ke balkon, tanpa pernah menanyakan kerabat saya yang dari Selatan tentang keganjilan berbagai kelakuan yang merendahkan itu. Sebaliknya, saya akan berdiri di tangga teratas gedung bioskop, menyoraki para koboi, tanpa pernah mengerti, seperti dikatakan penulis James Baldwin, “bahwa kalian orang Indian.” Persoalan ras di Amerika cukup parah. Apalagi jika Anda tidak mengenal Allah.

 

Tetapi Allah

Ingat dua kata ini? Bagaimanaperkataan ini menguatkan Nuh yang diterpa air bah (Kejadian 8:1), menyemangati Yakub yang sedang tertekan (Kejadian 31:42), memberanikan Yusuf untuk menantang saudara-saudaranya (Kejadian 50:20). Sambil berdiri di hadapan saudara-saudaranya yang kelaparan, berbohong, bermanis mulut, Yusuf mengucapkan dua kata Alkitab yang begitu penuh kasih karunia ini: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah … “Rasul Paulus juga saat menulis kepada jemaat muda yang suka bertengkar di Roma, berkata seperti ini: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Ya untuk kita semua.

Tentu saja, saat itu, banyak orang pergi ke gereja,dan beribadah ditempatterpisah – dan banyak pendeta bahkan mengkhotbahkan pemisahan itu sebagaikehendak Tuhan. Entah kenapa, mereka lupa bahwa kelak segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, akan berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba (Wahyu 7:9), dan kita semua juga akan berdiri di hadapantahta pengadilan kita sendiri (2 Korintus 5:10).

Tentu saja, saya ingin mendengar Tuhan berkata, “Baik sekali perbuatanmu.” Teman saya itu juga sudah pergi ke gereja sepanjang masa mudanya, seperti saya. Tetapi kami sama-sama bersalah karena tidak mendengarkan Allah, tetapi manusia. Di pihak saya, saya merasa pahit dan marah – lelah menerima segala macampenghinaan, bahkan dari rekan sekerja – saya sudah gagal mendengarkan panggilan Alkitab untuk “berusaha hidup damai dengan semua orang dan mengejar kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14).Dan mengampuni? Saya tidak pernah memikirkannya. Sama sekali.

Di Amerika, sesungguhnya, di mana jumlah orang Amerika Afrika masih sangat kecil – hanya 13 persen dari jumlah penduduk – memikul beban kebencianbangsa yang tidak memperhatikan solusi-solusi Allah, bagi saya sebagai seorang anak kecil saat itu, lebih berat dari yang dapat ditanggung jiwa saya. Seperti dikatakan sahabat saya orang kulit putih baru-baru ini, “Saya menyesal semua ini harus terjadi.”

“Saya juga!” jawab saya, menyetujui betapa merusaknya “persoalan ras” ini, terutama di Amerika.

Baldwin, yang kembali berbicara tentang seorang kepala polisi dari wilayah Selatan pada zamannya,yang terkenal karena memperlakukan para pembangkang kulit hitam dengan kejam, dapat menyimpulkan bahwa orang itu bukan monster. “Saya yakin ia mengasihi istri dan anak-anaknya… Tetapi ia tidak tahu apa yang sudah menggerakkannya memakai pentungan itu, mengancam dengan senjata dan memanfaatkan tongkat gembala. Sesuatu yang buruk tentu sudah terjadi pada orang yang dapat memecut dada seorang wanita. Yang terjadi pada wanita itu mengerikan. Namun yang terjadi pada pria yang melakukan hal itu, dalam hal tertentu, jauh lebih mengerikan.”

 

Tetapi Allah?

Ketika kita akhirnya mendengarkan Dia, Dia mengundang kita untuk meninggalkan solusi-solusi yang memenuhikepentingandiri sendiri – dalam kasus saya, “berpura-pura” ramah dan profesional di tempat kerja, berjuang untuk menafikan penghinaan teman kerja yang rasis. Tetapi Allah menginginkan lebih dari itu: kasih kita. Seperti ditulis G. K. Chesterton, “Alkitab mengajarkan kita untuk mengasihi sesama kita, dan juga musuh kita; mungkin karena pada umumnya mereka adalah orang yang sama.”

Sekarang, di dekat saya ada “sesama” saya, duduk di meja yang berdekatan, menyakitkan hati saya. Dan Allah berkata,saya harus mengasihinya? Tuhan kita yang mengorbankan nyawa-Nya,saat menyampaikan Khotbah di Bukit berkata seperti ini: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:43-44).

Perkataan Yesus ini indah sekali, tetapi bagi saya kedengarannya hanya seperti bahasa Yunani. Sungguh. Mengasihi musuh saya? Mengasihi diri sendiri saja saya tidak tahu. Kebencian dunia telah meracuni kasih. Jadi kasih adalah hal yang asing bagi saya.

Saya bisa menghargai penjelasan hebatdari teolog Howard Thurman bahwa “kasih itu mengasihi; itulah hakikat kasih.” Tetapi luka-luka saya juga meresponi para penulis agnostik seperti Neil Gaiman, yang dalam novel bergambarnya untuk para remaja, The Kindly Ones, bertanya: “Apakah Anda pernah dikasihi? Mengerikan, bukan? Hal yang membuat Anda sangat rapuh, membelah dada Anda dan membuka hati Anda, dan itu berarti seseorang dapat masukdan mengacaukan hidup Anda.”

 

Tetapi Allah.

Suatu hari, setelah bekerja sepanjang hari, saat saya melingkar di tempat tidur rumah saya, dan merenungkan kebencian rekan kerja saya, kemurahan Allah mengingatkan saya untuk mendengarkan perkataan guru Sekolah Minggu di masa kecil saya – seorang wanita berwajah manis yang mengajarkan pada kami bahwa Allah itu kasih. Sambil duduk bersama kami di kursi-kursi kecil, di samping papan flanel yang ada gambar Yesusnya, ia menasihati kami sebagai anak-anak kulit hitam, untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian. Jika hal itu terasa sulit, katanya, berdoalah. Ia menunjuk ke gambar Yesus yang sedang berlutut di Taman Getsemani itu. Sahabat-sahabat-Nya yang tak dapat diandalkan, tertidur mendengkur di tengah penderitaan-Nya, tetapi bagaimana Dia mengatasinya? Dia berdoa, kata guru kami itu. Berdoa dengan penyerahan diri total. Jauhkanlah cawan ini! Namun kemudian, sebagaimana diamati penulis Elisa Morgan, sahabat saya, Yesus melanjutkan: Tetapi, janganlah kehendak-Ku yang jadi.

Mengingat hal ini, saya akhirnya menyerah: saya akan berdoa untuk orang kulit putih ini. Ya, untuk musuh ini. Berdoa untuk musuh, dan melakukan kebaikan bagi musuh, kata guru saya yang manis itu, akan “menumpukkan bara api di atas kepalanya” (Amsal 25:22). Tetapi bara api ini tidak akan membakarnya, katanya. Bara api itu akan meluluhkan hatinya, melembutkannya. Lalu musuh itu akan menghargai kebaikan kita.

Dan ternyata, seperti itulah yang terjadi. Cara Tuhan tak pernah gagal.

Sepulang kerja, pada suatu hari, saya berbisik, “Tolonglah dia, Yesus.” Tetapi lebih dari itu, Tolonglah saya.

“Oh, Tuhan,” saya berdoa, “tolonglah saya agar saya bisa menyapanya dengan senyuman di pagi hari dan mengucapkan salamdi malam hari. Berkatilah ‘keluar masuknya.’ Berkatilah anak remajanya, istrinya yang bekerja keras, tulisannya, dan urusan-urusannya.” Saya berdoa untuk kesehatannya, harapan-harapannya dan juga hambatan-hambatannya. Saya berdoa agar hari-harinya berjalan lancar dan malam-malamnya damai sejahtera.

Saya juga mendoakan—mengapa tidak?—pernikahannya, liburannya, keuangannya. Agar rekeningnya di bank seimbang, tagihan-tagihannya terbayar, mobilnya tidak rewel, dan kakinya tetap kuat berjalan. Agar Tuhan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat-berkat.

Di gereja kulit hitam, ketika saya masih kecil, saya mendengar orang-orang dewasa berdoa seperti itu dan langit terbuka. Orang-orang yang terluka disembuhkan dan ditolong, diberkati dan dikuatkan. Berdoa dengan mengampuni membuat gunung-gunung beranjak. Dan langit juga.

Mengikuti teladan mereka, saya mencoba berdoa seperti itu juga: “Luluhkanlah hatinya.” Dan saya menambahkan. “Dan hati saya juga.”

Lalu pada suatu hari yang biasa, orang itu melihat ke arah meja saya. Sembari duduk di kursinya, ia berputar ke arah saya. Diam sebentar. Saya menunggu.

“Mengapa kita tidak berhubungan baik?” ia bertanya.

Saya menahan napas. “Saya tidak tahu,” kata saya. Saya bernapas dengan hati-hati. Mendengarkan hatinya yang luluh. Merasakan hati saya sendiri. Menyelaraskannapas deminapas.

“Musim dingin yang berat,” katanya.

Saya mengangguk, menyetujui.

Ia tidak menyukai pekerjaan ini, katanya. Ia tidak menyukai tugas-tugas yang diberikan padanya. Kami berbincang-bincang lama. Dan mengobrol lebih banyak lagi setiap keesokan harinya. Anak remajanya sedang menjadi tantangan. Tetapi ia mengasihinya. Istrinya suka marah-marah padanya. Tetapi ia juga mengasihinya. Kami tertawa. Tertawa mengenai pasangan kami. Pernah juga menggosipkan bos kami. Tidak banyak. Tetapi itu hal yang lumrah sekarang. Dan logis. Sebut saja mengampuni.

 

Tetapi Allah.

Memberi tempatpada-Nya akan mengubah segala sesuatu – yang kita pertahankan, entah itu kesakitan kita atau kehendak-Nya yang baik. Memegang tangan-Nya akan mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Dia. Penginjil Charles Spurgeon berkata, “Saya tidak percaya Anda bisa membenci orang yang selalu Anda doakan. Jika Anda tidak menyukai seorang saudara Kristen, doakanlah dia dua kali lipat, bukan hanya untuk kebaikannya, tetapi juga untuk kebaikan Anda sendiri, agar Anda bisa disembuhkan dari prasangka dan diselamatkan dari semua perasaan buruk.”

Dan kemudian? Anda bisa mendapati diri Anda berada bersamanya di sebuah restoran, di seberang jalan dekat kantor Anda. Anda dapat memesan makanan dan minuman bersama. Bahkan berbagi sepotong kue, yang liat dan manis. Kasih yang rendah hati itu memberi. Lalu Anda dapat saling mengampuni, danbahkan mengampuni negara Anda, karena Anda sudah melakukan hal yang tepat – menaati Allah.

Dialah penulis tentang kasih yang mengampuni dan keajaiban pengampunan. Di dalam Dia, kita diperdamaikan. Tanpa upaya keras. Tetapidengan damai sejahtera yang melampaui segala akal.

Ketika orang itu kembali ke Timur dan saya berganti pekerjaan, kami saling berkirim surat, mengharapkan yang baik untuk satu sama  lain. Dan beberapa tahun kemudian, ia menulis surat yang panjang dan menandatanganinya dengan tulisan: “My best regards …” (Salam hormatku yang tertinggi…”

Saya membaca surat itu dan menyimpulkan satu hal. Allah adalah Allah yang sungguh luar biasa, jika kita mau taat. Kali ini kami berdua sama-sama mau taat. Jalan pemulihan itu panjang, dibangun dari hati ke hati, lewat doa demidoa, satu demi satu. Tetapi ketika kita mau menapakinya, Allah mengangkat beban itu, membawa kita maju. Dan kita pun terbang tinggi.