Lupakan Aku

(Jen Pollock Michel)

Mengapa kurang berfokus pada diri sendiri itu lebih baik.

Saya sering lupa banyak hal—di mana saya meletakkan kunci, jam berapa janji temu dijadwalkan, dan yang paling memalukan, nama-nama orang yang pernah saya jumpai. Tak ayal, ketika saya mencoba mengingat nama rekan kerja yang baru atau orangtua teman sekelas putri saya, saya seperti berdiri di depan kulkas, mengamati rak-rak saus dan bergumam, “Saya tahu itu pasti ada di sini.” Layaknya semua orangtua yang bekerja, otak saya seperti becak yang kelebihan muatan: terlalu banyak penumpang, terlalu banyak barang bawaan. Harus ada yang berubah. Dan menjadi ibu hanyalah sebagian dari yang dapat disalahkan atas serangan amnesia saya. Kita hidup di zaman yang pelupa. Teknologi kita, yang dilengkapi memori berkapasitas gigabytes, bertugas mengingat bagi kita. Kita tidak lagi menyimpan data seperti dulu: nomor-nomor telepon, petunjuk arah, bahan-bahan untuk resep masakan kesukaan kita.

Nicholas Carr, dalam buku The Glass Cage: Automation and Us, membahas konsekuensi yang tak diinginkan dari pilihan itu—kekuasaan yang kita berikan kepada mesin-mesin. Salah satu contoh yang mengkhawatirkan adalah di kokpit pesawat: Meskipun penerbangan otomatis memberi banyak manfaat, hal itu juga bisa menyebabkan kecelakaan. Riset membuktikan bahwa para pilot telah belajar untuk terlalu mengandalkan sistem komputer. Hal itu membuat mereka ceroboh dan tidak memercayai petunjuk dari panca indera mereka sendiri. Dan ketika sistem gagal, sebagian pilot—yang membahayakan penumpang—sudah tidak terlatih lagi. Mereka sudah lupa bagaimana caranya menerbangkan pesawat.

Refleks Memori

Karena berbagai alasan, kita melupakan hal-hal yang ingin kita ingat—bahkan hal-hal yang sangat memengaruhi kelangsungan hidup kita. Tetapi ada satu yang tampaknya tak ingin kita lupakan: diri kita sendiri. Kita tidak lupa hari ulang tahun kita atau bagaimana kematangan masakan steak yang kita sukai. Kita ingat ukuran sepatu kita dan toping es krim favorit kita. Kita mengingat dengan saksama pencapaian-pencapaian pribadi dan kegagalan-kegagalan di depan publik.

Yang paling terutama di dalam memori jangka pendek dan jangka panjang kita adalah diri sendiri—yang secara rohani bisa berakibat fatal. “Pada saat Anda hanya memiliki diri sendiri, ada kemungkinan Anda akan mengutamakan diri sendiri—ingin menjadi pusat—ingin menjadi Tuhan,” tulis C.S. Lewis dalam Mere Christianity. Ia percaya bahwa diri sendiri telah menjadi prefiks (awalan) bagi sejumlah besar dosa manusia dan tugas pertobatan orang Kristen adalah “menanggalkan semua keangkuhan-diri dan kehendak pribadi yang telah kita latih selama ribuan tahun.”

Tak heran jika kisah manusia, sebagaimana ditulis dalam Kitab Suci, merupakan kudeta keras yang dilakukan diri sendiri. Diri sendiri ingin kehidupan yang “mudah”. Diri sendiri merasa berhak mendapat kenyamanan dan kesenangan. Diri sendiri terlalu sedikit bersyukur, dan terlalu banyak serakah.

Membenci-diri: Kebajikan atau kejahatan?

Jika diri sendiri yang harus disalahkan atas pemberontakan manusia, apakah ini berarti kita harus membenci diri sendiri?  Memang, dorongan untuk membenci diri sendiri (dan menyakiti diri sendiri secara fisik) pernah berkembang pada masa tertentu dalam sejarah Kekristenan. Para pertapa dan biarawan, yang melarikan diri ke padang gurun mulai abad ketiga, mengejar kesendirian dan pengorbanan diri. Banyak yang memilih praktik-praktik asketisme yang ekstrem dengan menolak segala bentuk kesenangan.

Tetapi Yesus bukan seorang masokis. Mukjizat pertama-Nya, yang dilakukan di pesta perkawinan, bukanlah memberi kesembuhan, tetapi perayaan. Dia juga memerhatikan kebutuhan-kebutuhan fisik-Nya: Dia menarik diri untuk makan dan tidur. Dan ketika tiba waktunya untuk Dia mati, Dia tidak berjalan ke istana Pilatus dengan tangan terentang, minta disalibkan. Dia menangis memikirkan penderitaan-Nya sendiri dan bahkan berdoa sungguh-sungguh agar ada jalan lain (Matius 26:36-46). Teladan Yesus menolak “kebajikan” membenci-diri sendiri, tetapi menunjukkan jalan yang lebih baik—melupakan-diri sendiri.

Sikap Yesus yang melupakan diri sendiri ditunjukkan di Yohanes 4 di sebuah perkampungan Samaria. Dia tahu latar belakang hidup perempuan itu: Ia telah menikah lima kali dan sekarang tinggal bersama pria yang bukan suaminya. Percakapan melebar ke berbagai topik—kisah pribadinya, pertanyaan-pertanyaan teologisnya. Dan ketika para murid akhirnya kembali dengan makan siang yang mereka beli di kota, mereka terkejut melihat interaksi Yesus yang begitu terbuka dengan perempuan ini. “Rabi, makanlah,” desak mereka (Yohanes 4:31). Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”

Pada saat itu, Yesus telah melupakan rasa lapar-Nya. Secara harfiah, Dia melupakan diri-Nya sendiri. Dan bukan sengatan teriknya matahari yang menyebabkan timbulnya amnesia yang tiba-tiba itu—melainkan misi Bapa-Nya: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yohanes 4:34). Karena perhatian-Nya dalam pelayanan, Yesus telah menyingkirkan beban berat yang berupa “keasyikan dengan diri sendiri”.

Sebagaimana dikatakan Tim Keller, “Esensi kerendahan hati Injil bukanlah menganggap diri sendiri lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan lebih sedikit (kurang) memikirkan diri sendiri.” Melupakan diri sendiri berarti mengutamakan Tuhan dan orang lain di hati dan pikiran kita. Melupakan diri sendiri juga berarti mengingat untuk mengasihi.

Doa untuk Keasyikan dengan Diri sendiri

Jika kita tidak diharuskan membenci diri sendiri, kita juga seharusnya tidak berpura-pura menganggap kebutuhan-kebutuhan kita tidak penting. Memang, Yesus memerintahkan kita untuk berdoa tentang makanan sehari-hari. Tetapi seperti yang kita lihat dalam Doa Bapa Kami, permohonan-permohonan pribadi bukanlah prioritas utama—tetapi puji-pujian. Seperti dijelaskan N.T. Wright dalam buku The Lord and His Prayer, “Jika kita berdiam lebih lama [dalam Doa Bapa Kami], kita mungkin mendapati prioritas-prioritas kita diam-diam dibalik. Isinya mungkin tetap sama; tetapi urutannya akan berubah. Dengan perubahan itu, kita akhirnya berpindah dari paranoia ke doa; dari keresahan kepada iman.”

Frasa doa “Bapa kami yang di surga” adalah obat penawar untuk keasyikan dengan diri sendiri yang cemas, yang membuat kita terjaga di malam hari, karena terlalu mengkhawatirkan masa depan. Dan frasa “Datanglah kerajaan-Mu” menghadapkan permohonan-permohonan kita pada pekerjaan Tuhan yang lebih besar di dunia. Doa menyuburkan kepercayaan yang teguh, tempat “melupakan-diri sendiri” yang sehat bertumbuh. Jika Tuhan mengasyikkan diri-Nya dengan kita, kekhawatiran apa yang harus kita pikul? (Lihat Matius 6:32-33).

Berdoa berarti melupakan diri sendiri. Dan ketika kita berdoa, kita bersandar pada ingatan Tuhan—yang tak pernah melupakan sebuah nama atau kebutuhan.